MBTI adalah singkatan dari The Myers-Briggs Type Indicator. MBTI adalah tes kepribadian yang diisi sendiri, tujuannya untuk mengetahui cara orang memandang dunia dan bagaimana cara mereka mengambil keputusan.

Tes MBTI pertama kali dikembangkan pada tahun 1942 oleh Katharine Cook Briggs, dan putrinya, Isabel Briggs Myers, berdasarkan teori psikologi Carl Jung.

Tes ini pada dasarnya membagi kepribadian individu berdasarkan beberapa dikotomi kategori yaitu Introversion (I) vs Extraversion (E), Intuitive (N) vs Sensory (S), Thinking (T) vs Feeling (F), dan Judging (J) vs Percieving (P), sehingga dihasilkan 16 golongan kepribadian berdasarkan kombinasi. Antara lain seperti ESFP, INTJ, dan lain-lain.

Akhir-akhir ini tes MBTI sangat popular di sosial media. Semua orang berbondong-bondong melakukan tes MBTI online secara gratis. Kepopuleran MBTI mengalahkan tes lainnya, seperti Draw a Man Test, House Tree Person Test, dan Dominance, Influence, Steadiness and Compliance Test.

Saat tes MBTI secara online sangat popular di sosial media, saya sendiri mencoba tesnya secara online dan gratis. Saat melihat isi dari tes tersebut, saya heran mengapa jumlah pertanyaan yang diajukan sangat sedikit dan berbanding terbalik dengan tes psikologi untuk menentukkan jurusan saat di SMA yang pertanyaannya hingga ratusan.

Pada tes tersebut seluruhnya merupakan pertanyaan dengan opsi jawaban. Hasil dari tes MBTI online pertama yaitu kepribadian saya masuk dalam golongan INFP (Introvert, Intuiting, Feeling, Percieving).

Lalu, saya membaca secara spesifik bagaimana karakter INFP, tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa aspek kepribadian sesuai dengan apa yang saya rasakan.

Tetapi tiga bulan setelahnya, saya mencoba tes MBTI kembali ternyata hasil yang saya dapat berbeda dengan tes pertama. Kali ini saya masuk dalam golongan ISTJ (Introvert, Sensing, Thinking, Judging). Pada realitanya beberapa aspek kepribadian cocok kembali dengan kepribadian saya. Hal itu menyebabkan keambiguan dalam diri saya dan mulai meragukan hasil tes tersebut.

Apalagi hasil MBTI saya yang pertama menjelaskan bahwa pekerjaan yang cocok dengan saya adalah seniman, konselor, desain grafis,dan pustakawan. Lalu, tiga bulan kemudian pekerjaan yang cocok dengan saya adalah akuntan, progammer, polisi, dan dokter gigi.

Hadeh… masa pekerjaan yang cocok dengan saya berganti-ganti, kan agak aneh ya. Akhirnya, saya coba mencari tahu lebih lanjut bagaimana mekanisme tes MBTI tersebut.

Tes MBTI didasarkan pada kesadaran atas diri sendiri. Jadi, tes MBTI ini tergantung sudut pandang diri sendiri. Hal ini menimbulkan bias karena pada tes tersebut ada dua hal yang terlewatkan yaitu kesadaran tentang pribadi dari sudut pandang orang lain tanpa diketahui dari sisi kita sendiri dan sisi pribadi yang belum disadari.

Dalam tes ini, bisa berubah sesuai sudut pandang kita saat itu. Bisa dibilang hasil kepribadian pada tes ini bersifat terus berubah. Maka dari itu, tidak bisa kepribadian sesorang hanya dikelompokkan menjadi 16 golongan.

Bahkan salah satu ahli psikologi Amerika Serikat, Robert Hogen berkata,

“Most personality psychologists regard the MBTI as little more than an elaborate Chinese Fortune Cookie”.

Jadi, tes MBTI itu hanya cocoklogi belaka dan akurasinya tidak akurat seperti Fortune Cookie yang kita ambil random saat di restoran. Sudah banyak psikolog dan psikiater yang tidak mendukung dengan adanya MBTI ini karena tidak ada dasar teori yang didukung bukti ilmiah.

Berdasarkan buku MBTI Applications:A Decade Of Research On The Myers Briggs Type Indicator, dilakukan penelitian dengan beberapa responden yang mengambil tes MBTI ini secara dua tahap, hasilnya hanya 50% dari responden yang memiliki kepribadian yang sama setelah 9 bulan dari tes MBTI pertama dan 36% yang bisa mempertahankan kepribadiannya sesuai MBTI-nya setelah lebih dari 9 bulan dari tes MBTI pertama.

Kalau berpikir secara logis, apakah seluruh orang di dunia dikelompokkan melalui 16 golongan kepribadian dengan 4 huruf? Bukankah itu variabel yang terlalu sedikit?

Jangan sampai kita merubah kepribadian hanya karena menyesuaikan hasil dari tes MBTI online itu, karena bagaimanapun yang paling paham akan kepribadian kita ya cuma diri sendiri. Jangan sampai terjebak pada hasil kepribadian 16 golongan dan empat huruf.

Saya rasa tes MBTI online tidak bisa  menjadi acuan saat kita ingin mengetahui kepribadian secara utuh karena hasilnya bisa berubah-ubah dan mudah dimanipulasi.

Kalau ada yang ingin mengikuti tes MBTI online hanya untuk kepuasan pribadi semata dan refleksi secara umum, maka keakuratan tes tersebut tidak perlu dipermasalahkan tetapi kalian harus sadar bahwa apapun hasilnya itu dari pihak yang tidak bersertifikasi.

Jika kalian ingin mengetahui kepribadian secara utuh lebih baik menghubungi psikiater atau psikolog professional yang tidak mungkin ujug-ujug memberikan kalian cap kepribadian dengan empat huruf dan hasilnya pasti dari pihak yang bersertifikasi.