Berbicara tentang seks atau tetek bengek tentang hal-hal yang berkaitan dengannya memang selalu canggung dan aneh saat mendengar reaksi sekitar. Masih saja banyak orang-orang yang menganggap obrolan tentang seks dianggap kotor, hina dan kadang ewhh seperti itu. Apalagi, kalau ngomongin film porno atau lumrah disebut bokep. 

Film porno atau bokep (bahasa prokem dari film porno) sering sekali dianggap tabu atau barang kotor. Untuk lelaki, berbicara atau menjadikan bokep sebagai topik obrolan memang sudah jadi rahasia umum. Rasanya seperti tidak afdal jika ngobrol antar lelaki tidak ngomongin bokep.

Namun, di Indonesia ini masih saja ada orang yang hipokrit dan tidak jelas. Pernah suatu hari saat saya sedang ngobrol bersama teman, lalu teman saya melempar candaan yang agak mbokep terus darimana entah asalnya, tiba-tiba ada bapak-bapak yang lewat lalu nyeletuk begini : anak muda ngomongnya kok bokep, generasi macam apa. Dalam hati rasanya jleb gitu. 

Besoknya saya lihat bapak-bapak itu sedang duduk di sebuah balai pos, tau tidak dia sedang apa? Nonton bokep dengan lidah melet-melet penuh nafsu. Ingin kuhampiri lalu teriak: Gimana bro bokepnya, mantap tenan bangsatttt!?? Tapi urung dilakukan mengingat apa bedanya saya dengan bapak-bapak itu.

Perihal esek-esek memang tidak ada habisnya, namun bagaimana bokep jika kita lihat di kalangan perempuan? Pernah terpikirkan tidak, kalau perempuan nyatanya juga nonton bokep dan ada yang menikmatinya? Hayooo, jangan-jangan kalian tidak tahu kalau selama ini teman-teman perempuan kalian justru sering membuka situs porno. 

Saya mencoba bertanya tentang bokep ke beberapa teman perempuan saya, bagaimana sih pandangan mereka dan apakah mereka sendiri punya 'pengalaman' dengan situs biru tersebut. Tentu, saya disini bertanya dengan bahasa yang akademis dan sopan. Bukan ujug-ujug langsung bertanya genre bokep kesukaan kamu apa? Suka posisi seks yang gimana? Insya Allah, kalau begitu saya akan digampar paling serius oleh mereka saat bertemu.

Lanjut, saat saya bertanya tentang bokep kepada teman-teman perempuan saya ini nyatanya bagi mereka bokep sudah lumrah dan menjadi hal yang sudah biasa di kalangan mereka. 

Bedanya, mungkin kalau perempuan tidak akan frontal seperti lelaki yang berbicara tentang bokep seperti kebutuhan primer. Lihat saja di media sosial, ada skandal terbaru pasti para lelaki akan jelalatan dan langsung menggunakan bahasa persatuan: share link, gan!

Bagi perempuan, obrolan atau candaan tentang bokep juga sudah menjadi hal yang biasa kini. Salah satu teman perempuan yang saya tanyakan, kadang mereka menggunakan 'kode' untuk menjurus kesana. Wah, sudah seperti anggota intel saja. 

Ngomong bokep kok pakai kode segala. Apakah mereka menikmati? Mereka menikmati kok, dan ada beberapa kategori film porno yang menjadi kesukaan perempuan.

Lalu saat saya tanya ke beberapa teman perempuan saya, ternyata respon yang mereka dapati saat pertama kali nonton bokep tidak ada bedanya dari lelaki. Awalnya penasaran, lalu coba-coba dan ngumpet di pojokan baik itu di gawai atau warnet, lama-lama keenakan dan pengin  terus.

Justru, saat saya tanya panjang lebar mereka menjawab kalau di drama (biasanya drama korea) saat adegan ciuman para perempuan biasanya justru penasaran dengan apa yang terjadi 'selanjutnya'. Ibaratnya, perempuan itu ingin melihat adegan yang lebih liar lagi.

Sayangnya, kenapa perempuan pintar menyembunyikan hal-hal berbau porno di depan lelaki? Saya pikir ini justru karena konstruksi sosial di masyarakat kita. Perempuan nonton bokep itu hina, tidak tahu diri dan bahkan disebut sundal. Apalagi untuk kalangan konservatif, apakah kita pernah menemui kajian agama yang membahas seksualitas yang isinya banyak perempuan? Saya kira stigma perempuan gatal menunggu jika ada kajian tersebut.

Masyarakat kita yang masih banyak hipokrit, memandang perempuan yang nonton porno atau mengetahui seluk beluk seksualitas itu perempuan murahan. Padahal, topik esek-esek itu bukanlah barang baru. Dalam setiap agama pun sudah dibahas, jadi apa yang perlu ditakuti? Lucunya, semua orang yang judge perempuan nonton bokep seperti orang suci yang tidak pernah nonton film biru. Bohong sekali itu. 

Mari kita perjelas lagi, perempuan itu juga manusia teman-teman yang budiman. Yang namanya horny itu tidak memandang gender, bohong jika ada orang yang nonton film fifty Shades itu tidak nafsu atau turn on begitu. Jadi tidak perlu heboh, itu namanya manusia. Justru gawat kalau tidak nafsu. 

Meski memang ada beberapa teman perempuan saya yang katanya mual dan tidak kuat nonton film porno, tapi dia masih cukup bisa menerima adegan yang semi dan bukan pure pornografi. Kebanyakan, selain having fun dengan bokep, mereka juga menemukan istilah-istilah seksual dari bokep dan kelak dijadikan pengetahuan supaya tidak jadi korban pelecehan karena tidak tahu istilah tersebut. 

Karena, seperti yang kita ketahui. Masih lebih banyak perempuan yang tabu akan seksualitas dan justru malahan jadi korban pelecehan verbal tanpa mereka ketahui. Ini sering saya lihat, dan para perempuan yang jadi korban justru diam karena tidak tahu jika dia dilecehkan. 

Balik lagi soal bokep, jadi intinya perempuan nonton bokep itu bukan masalah. Lagian, itu juga bisa menjadi khazanah ilmu saat bercumbu ketika sudah menikah. Tidak lucu toh, saat nikah kita bingung mau ngapain? Nanti cuman lihat-lihat saja sama toal-toel tanpa tahu fungsinya. Ya ampun, hambar sekali.

Cuman, disini yang perlu kita tahu bersama. Nonton bokep dengan bijak, tahu tempat dan situasi serta jangan sering. Bagusnya tidak usah nonton bokep, puasa saja sudah. 

Cuman kalau tidak kuat, mau bagaimana lagi? Yang penting tahu diri dan segera minta maaf ke Tuhan. Baik itu perempuan atau laki-laki, semuanya wajar nonton bokep. Asal tahu tempat dan tahu situasi.