Sejak wabah COVID-19 ditetapkan menjadi pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 aktivitas manusia harus terbatas. Terutama dalam interaksi secara langsung. 

Hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran transmisi virus yang semakin meluas dan membahayakan. Akibatnya banyak kegiatan dan sektor-sektor penting harus ditutup. Tidak terkecuali sekolah, pembatasan aktivitas dan kegiatan massal secara langsung kemudian menjadi terhambat.

Kegiatan belajar mengajar sangatlah penting dalam tumbuh kembang individu. Pendidikan menjadi suatu bentuk vital yang harus dimiliki setiap orang. 

Oleh karenanya, institusi pendidikan layaknya sekolah harus tetap beroperasi bagaimanapun tantangannya. Melihat fenomena tersebut artinya sekolah harus bertransformasi dan menemukan cara agar pesan-pesan edukasi tetap dapat tersampaikan.

Berkat penetrasi teknologi digital di Indonesia kegiatan bersekolah pada akhirnya tetap mampu dilaksanakan. Hanya saja, kegiatan sekolah yang sebelumnya dapat dilakukan secara komunal dengan bertemu langsung secara fisik, kini mengalami pergeseran menjadi pertemuan jarak jauh melalui media internet.

Awalnya, banyak tantangan yang muncul akibat pergeseran ini, namun saat ini rupanya masyarakat sudah mampu beradaptasi dengan iklim digital yang ada.

Mengutip hasil survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. 

Pada tahun 2018 persentase penetrasi internet di Indonesia mencapai 64,80%, lalu pada periode tahun 2019-2020 meningkat menjadi 73,70%, dan yang terakhir pada periode 2020-2021 mencapai 77,02%. Bahkan pelajar dan mahasiswa menempati peringkat teratas dalam penetrasi pengguna internet terbanyak berdasarkan pekerjaan sebesar 99.26%.

Sektor pendidikan di Indonesia berhasil menunjukkan perkembangannya di dunia digital. Bahwasanya konektivitas antara guru dengan siswa melalui internet telah berangsur-angsur stabil setelah melewati berbagai hambatan dan tantangan serta evaluasi dan inovasi yang ada. Meskipun demikian wacana-wacana yang dihadirkan pemerintah untuk membuka kembali sekolah mulai marak digaungkan. 

Seiring dengan semakin melandainya laju penyebaran COVID-19 di Indonesia, wacana tersebut terlihat semakin nyata implementasinya. Lantas dengan perkembangan kemajuan teknologi digital di Indonesia saat ini, masih perlukah untuk membuka kembali sekolah di era pasca pandemi?


Apa yang Terjadi ketika Sekolah Daring?

Artikel ini berusaha menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan kondisi sosio-ekonomi di Indonesia dewasa ini. Namun sebelum melangkah lebih jauh ke sana mari kita lihat terlebih dahulu bahwa selain kemajuan teknologi digital di Indonesia yang semakin baik, ternyata ada beberapa isu yang terjadi selama sekolah ditutup.

Penutupan sekolah dan pembelajaran jarak jauh membuat hubungan siswa dengan guru harus digantikan menjadi hubungan antara orang tua dengan anak (Yuelin, 2021). Artinya, orang tua menyediakan kehadiran sosial secara luring bagi anak-anak mereka, sementara guru dan teman-temannya menyediakan kehadiran sosial secara daring. 

Dalam hal ini hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang lebih erat dan membantu mereka dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan guru atau teman sebaya mereka.

Menjadi guru bagi anak-anak mereka ketika di rumah meningkatkan stress di pihak orang tua (Suyadi, 2022). Hal ini diakibatkan karena mereka harus menjalani dua peran secara bersamaan, yakni bekerja dan menjadi guru baru bagi anak-anak mereka. 

Selain itu isu-isu kekerasan terhadap anak kemudian juga menjadi meningkat oleh karena anak-anak sering kali dianggap mengabaikan sekolah secara daring dan menggunakan gawai mereka dengan tidak semestinya.

Isu sekolah daring dan pembelajaran jarak jauh pada dasarnya akan menjadi kontestasi antara aspek sosio-ekonomi dengan kesehatan. Bahkan studi yang dilakukan oleh Amri (2021) menyebutkan bahwa 76% guru mengkhawatirkan pembukaan kembali sekolah dengan menimbang risiko kesehatan yang ada. Serta 95% guru cenderung memilih untuk melakukan pembelajaran bauran atau melanjutkan pembelajaran jarak jauh. 

Meskipun demikian, sekalipun sekolah dibuka kembali, guru-guru ini menginginkan adanya jaminan keamanan kesehatan terhadap berbagai pihak yang terlibat di sekolah.


Penetrasi Internet untuk Pendidikan di Indonesia

Kembali lagi pada pertanyaan di awal artikel tentang apakah perlu membuka kembali sekolah di masa pasca pandemi di tengah kemajuan teknologi digital di Indonesia. Beberapa dari kita mungkin memiliki asumsi yang berbeda-beda. 

Beberapa orang mungkin memiliki jawaban dan preferensi yang bertolak belakang pula. Namun pertanyaan selanjutnya yang harus melengkapi pertanyaan di atas adalah, apakah kemajuan teknologi digital di Indonesia telah mencakup seluruh masyarakat Indonesia secara merata?

Meninjau ulang dari survei yang dilakukan oleh APJII di tahun 2022 ini. Dari persebaran wilayah di Indonesia penetrasi internet memang relatif tinggi, namun angka kontribusi internet masih cukup timpang. 

Pada wilayah Indonesia bagian barat tingkat kontribusi internet dapat mencapai 62,89%, namun di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur masing-masing masih sebesar 11,94% dan 2,18%. Kemudian juga berdasarkan tingkat pendapatan disajikan bahwa penetrasi pengguna internet dengan pendapatan di bawah Rp1.000.000,00 hanya mencapai 67,46%, namun penetrasi pengguna internet pendapatan Rp5.000.000,00 hingga Rp15.000.000,00 sudah mencapai 96,83%.

Sebaran angka-angka di atas menunjukkan bahwa media digital yang dilambangkan dengan penetrasi internet di Indonesia masih mengalami ketimpangan di beberapa kelompok masyarakat. 

Ketimpangan yang ada disebabkan oleh faktor ekonomi dan geografis di Indonesia yang cenderung belum merata. Akses terhadap internet menjadi aspek penting dalam menyelenggarakan pendidikan secara daring. Oleh karenanya aksesibilitas penguasaan teknologi adalah hal yang paling mendasar dalam hal ini.

Memang apabila berkaca dari segi geografis, seperti yang ditunjukkan oleh data APJII terkhususnya di Pulau Jawa menunjukkan bahwa telah terdapat fasilitas internet, fasilitas laboratorium internet, dan pihak sekolah memberikan fasilitas tambahan kepada guru dan murid dalam mendukung pembelajaran jarak jauh secara daring. Namun mungkin hal yang serupa tidak ditemui di bagian wilayah Indonesia yang lainnya.

Kepuasan masyarakat terhadap kekuatan sinyal internet di wilayah mereka juga harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Bahkan pada daerah yang padat penduduk saja, sering kali ditemukan permasalahan akan jaringan yang tersedia. 

Selain itu masyarakat masih menggunakan mobile data dari operator seluler dengan biaya yang beragam. Kendati demikian, sekalipun pemerintah telah memberikan bantuan kuota internet kepada masyarakat, terkhususnya untuk kegiatan pendidikan, namun masih banyak yang mengeluhkan bahwa bantuan tersebut masih terlalu kecil.


Pembukaan Sekolah Kembali

Artikel ini memperlihatkan dua sisi dari wacana pembukaan kembali sekolah. Melanjutkan kembali sekolah melalui media digital di tengah penetrasi digital yang mengalami kemajuan di Indonesia merupakan suatu langkah yang strategis untuk menyongsong perkembangan teknologi di masa depan. 

Namun perlu digarisbawahi bahwa upaya ini juga memerlukan kesiapan fasilitas sarana dan pra-sarana yang memadai. Baik di setiap wilayah geografis di Indonesia dan juga di setiap kategori tingkatan pendapatan masyarakat.

Jika dilihat dari sisi kesehatan, memang hal ini menguntungkan. Terlebih ketika pandemi belum sepenuhnya berakhir, sehingga transmisi virus pun tidak mudah menyebar. 

Namun sejalan juga dengan studi Viner, et al. (2020) yang menyebutkan bahwa penutupan sekolah apabila tidak diimbangi dengan penutupan sektor lain juga maka upaya untuk menekan laju penyebaran virus akan menjadi sia-sia.

Opsi untuk membuka sekolah kembali merupakan pilihan yang tepat apabila disandingkan dengan berbagai permasalahan di atas. Ditinjau dari segi sosio-ekonomi, Indonesia masih memerlukan evaluasi apabila hendak mengembangkan digitalisasi dalam dunia pendidikan. 

Namun apabila pemerintah hendak membuka kembali sekolah di masa pasca pandemi, pemerintah harus mampu menjamin adanya pemeliharaan dan perlindungan kesehatan di lingkungan sekolah.


Daftar Pustaka

Amri, A., Yusra, T., Ayu, S., Mega, I., Cahyo, P. (2021) Teachers Voices on School Reopening in Indonesia During COVID-19 Pandemic. Social Sciences & Humanities Open. 4, 1-8.

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia. (2022). Profil Internet Indonesia 2022. Jakarta: APJII.

Suyadi., dan Issaura, D. S. (2022) Online Learning and Child Abuse: The COVID-19 Pandemic Impact on Work and School From Home in Indonesia. Heliyon, 8, 1-9.

Viner, R. M., Russell, S. J., Croker, H., Packer, J., Ward, J., Stansfield, C., Booy, R. (2020). School Closure and Management Practices During Coronavirus Outbreaks Including COVID-19: A Rapid Systematic Review. The Lancet Child & Adolescent Health, 4(5), 397-404.

Yuelin, L., Liu, Y., Shu, X. (2021). Disrupted Class, Undistrupted Learning: A Study on the Effect of Online Learning Among Primary and Middle School Students. Studies in Microeconomics, 1-24.