Antara pembaca dan Penulis siapakah yang lebih penting? Pertanyaan itu sudah menimbulkan perdebatan dalam kajian Semiotika (untuk definisi semiotika, lebih jelasnya silahkan baca karya Roland Barthes yang berjudul “Elemen-Elemen Semiologi”). Ada banyak jawaban dari pertanyaan ini. Salah satu tokoh yang memberikan jawaban atas pertanyaan ini, dan jawabanya berakhir pada diktum kematian sang Penulis atau Pengarang adalah Roland Barthes.

Barthes yang dikenal sebagai pelopor ilmu Semiotika menyatakan bahwa ketika penulis menuliskan sebuah teks maka dengan sendirinya penulis itu sudah terputus atau tidak terkait dengan teks yang dibuatnya. Posisi penulis tidak lebih penting dari teks yang dihasilkanya.

Kenapa hal itu bisa terjadi? karena ketika teks itu sampai pada pembaca, penulis sudah tidak memiliki kuasa atas teksnya, karena pembaca bebas menafsirkan teks yang dibacanya. Tidak peduli sehebat apa pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca, jika pembaca tidak bisa menangkap pesan itu atau bahkan menafsirkan ulang, maka Matilah Sang Penulis!!!

Tapi, apakah sebegitu tragsinya nasib Sang Penulis ?  Apakah teks yang lahir dari rahim penulis, tega berpaling dari penciptanya? Maman S Mahayana sebagai penulis buku ini dan juga bagian dari penulis, tidak menerima diktum itu. Penolakan itu disampaikan dalam buku setebal 350 halaman ini.

Menurut Kang Maman, peran penulis, dalam hal ini yang dimaksud oleh Kang Maman adalah sastrawan, tidak bisa begitu saja disingkirkan. Penyingkiran peran penulis sama dengan menganggap teks yang dibuat bisa lepas dari koteks ketika teks itu dibuat.

Perlunya mempelajari teks berdasarkan konteks agar kita bisa mempelajari sejarah dengan sudut pandang yang lebih luas (hal 59). Contohnya bisa kita cermati buku teks pendidikan sejarah di era Orde Baru. jika kita hanya membaca teks itu hanya selintas dan tanpa melihat konteks buku itu dibuat, bisa dipastikan timbul rasa kebencian buta terhadap hal-hal yang dianggap ‘kiri’.

Dengan menggunakan pendekatan sejarah, penulis buku ini menyajikan peran pengarang di indonesia, dari masa ke masa. Dimulai dari awal lahirnya sastrawan yang sangat berhubungan dengan lingkungan kerajaan (Hal 54). Pada masa kerajaan peran sastrawan bertugas untuk membentuk citra Sang Raja di mata rakyatnya. Dengan mencipatak dongeng dan cerita tentang kesaktian raja, diharapkan rakyat akan semakin percaya dengan orang yang memimpin mereka.

Perdebatan antara sastrawan mengenai fungsi sastra juga dijabarkan buku ini. Misalnya dalam Bab yang membahas perdebatan antara sastrawan LEKRA dan Gelanggang. LEKRA yang merupakan lembaga seni yang dinaungi partai PKI meyakini bahwa sastra harus berfungsi untuk mencerdaskan rakyat. Berbeda dengan LEKRA, para sastrawan Gelanggang meyakini bahwa penciptaan karya sastra harus bisa terbebas dari segala determinasi, rakyat yang menjadi titik tolak LEKRA dalam menciptakan karya sastra justru menurut sastrawan gelanggang akan memasung kebebasan sastrawan untuk menciptakan karyanya.

Buku ini disajikan dalam tiga bagian. Bagian pertama diberi Judul “Tradisi dan Intelektualitas”. Pada bagian ini Kang Maman mengangkat permasalahan peran intelektual dan tanggung jawab sosial sastrawan. Menurut Kang Maman, "Selain daya imajinatif, untuk menciptakan karya sastra, penulis harus mempunyai wawasan yang luas" (hal 43). Jika penulis hanya mengandalkan bakat alam (daya imajinasi) bisa dipastikan karya yang dihasilkan menjadi karya yang kurang berbobot.

Pada Bab selanjutnya, isinya sebenarnya hampir sama dengan Bab sebelumnya hanya uraian dalam Bab ini lebih menitikberatkan pada pergulatan dan tantangan sastrawan untuk menghasilkan karya sastra. Bab kedua ini diberi judul “Pengarang dan Dunia Teks”. Bab terakhir diberi judul “Gerakan Sastrawan”. Dalam Bab ini penulisnya menjabarkan para sastrawan dan mainstream karya sastra pada setiap era.

Era pujangga baru, angkatan 40 an, angkatan 50 an dan era saat ini, dijabarkan secara rinci oleh penulisnya. Penulisan tiap Bab dijabarkan dengan model sub-bab yang tidak lepas dari benang merah judul setiap Bab. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembaca untuk melakukan maping ketika membaca buku ini.

Dari segi sampul cukup menarik, dengan menampilkan gambar seperti lukisan. Penulis sebagai orang yang kurang paham seni lukis, menaganggap bahwa gambar sampulnya sudah sesuai dengan isi bukunya. Gambar sampul yang terlihat seperti lukisan abstrak, sesuai dengan pembahasan buku ini yang mrepet-mrepet ke arah filsafat.

Dari segi penyampaian, bahasa yang digunakan cukup mudah dipahami (bagi mereka yang setidaknya sudah sedikit paham tentang dunia sastra).  Untuk penulisan catatan kaki, menurut subeyektivitas penulis sendiri, bisa menjadi kekurangan sekaligus kelebihan. Kelebihanya, catatan kaki yang disertakan sangat banyak, sehingga penyampaianya sangat berisi.

Untuk kekuranganya menurut penulis, peletakan catatan kaki di bagian akhir Bab terasa kurang nyaman bagi pembaca, karena harus membolak-balikan halaman. Jika catatan kaki diletakan di bawah teks, jauh lebih nyaman menurut penulis, karena tidak harus membolak-balikan halaman. Tapi penulis rasa itu agak merepotkan editor, karena catatan kaki yang dilampirkan cukup banyak.

Sedikit tambahan, kelebihan lainya dari buku ini yaitu turut dilampirkanya dua tulisan filsuf terkenal asal Perancis Michel Foucault dan Roland Barthes. Tulisan Foucault yang dilampirkan dan sudah diterjemahkan berjudul “What is an Author” . Dalam tulisan ini, Focault membahas mengenai masalah tulisan anonim (Tanpa Sumber). Sementara tulisan Barthes yang turut dilampirkan dalam buku ini dan sekaligus menjadi inspirasi bagi Kang Maman untuk menulis buku ini, berjudul “The Death of the Author”.

Judul Buku: Pengarang tidak Mati

Nama Penulis: Maman S Mahayana

Penerbit: NUANSA

Tahun Terbit: 2012

ISBN: 978-602-8394-67-3

Tebal: 350 Halaman