43886_70934.jpg
Ilustrasi: girlwritingcom.files.wordpress.com
Agama · 4 menit baca

Apakah Orang Gila Bisa Masuk Surga?

Kegilaan dipandang secara berbeda, tergantung daripada zaman mana hal itu dipandang. Ini adalah tesis Michel Foucault dalam bukunya, Madness and Civilization.

Menurut Foucault, kegilaan mengalami perubahan makna dari zaman ke zaman. Contohnya, di abad pertengahan, kegilaan dideskripsikan sebagai sebuah kutukan Allah di mana jalan keluar dari kegilaan adalah pengasingan.

Cerita mengenai kapal-kapal abad 15 yang memuat orang-orang gila untuk diasingkan dari daratan membingkai apik pengasingan yang dilakukan pada orang gila pada zaman itu. Orang gila diserahkan kepada lautan yang tanpa ujung, lautan yang asing, dan laut yang penuh dengan air (air dihubungkan dengan penyucian).

Namun, berganti zaman, pengasingan tidak lagi dianggap cukup untuk mengatasi kegilaan. Pada abad 17 dan 18, didirikan rumah-rumah yang khusus menampung orang-orang miskin dan orang-orang gila. Di zaman itu, pengasingan tidak lagi efektif bagi kegilaan, sehingga diganti dengan pengurungan.

Di dalam rumah-rumah pengasingan itu, orang gila diperlakukan bak binatang, dan tidak mengusahakan sebuah pemulihan. Orang-orang gila telah kehilangan esensinya sebagai manusia, dan dianggap tidak lebih dari binatang.

Memang mereka menjadi binatang pada akhirnya, karena mereka telah terbiasa diperlakukan sebagai binatang. Cambukan, pengurungan, pukulan menjadi makanan orang-orang gila sehari-hari karena kesembuhan dipercaya dapat diperoleh dari "ketakutan", satu-satunya aspek yang belum hilang dalam diri mereka selain irasionalitas.

Di akhir abad 18, orang-orang gila dikumpulkan di Rumah Sakit Jiwa, bersama dokter-dokter spesialis jiwa dan perawat, yang dipercaya dapat "menyembuhkan" orang-orang gila ini. Tapi apakah kemajuan ilmu pengetahuan ini membuat Rumah Sakit Jiwa lebih manusiawi dari pengurungan abad tujuh belas dan awal abad delapan belas?

Foucault berpendapat bahwa hal ini sama kejamnya dengan abad-abad sebelumnya, walaupun dari luar tampak lebih manusiawi. Rumah Sakit Jiwa mengekang, menghukum, dan membinatangkan orang-orang gila, dengan cara yang menurut mereka lebih manusiawi.

Rumah Sakit Jiwa berhasil memisahkan kegilaan dengan kewarasan, memisahkan orang-orang gila dari masyarakat umum. Rumah Sakit Jiwa mengurung orang-orang gila tanpa membedakan taraf kegilaan yang dimaksud, karena di sana satu sama lain sama gilanya dan diperlakukan dengan treatment yang sejajar.

Kemudian pertanyaan yang menjadi judul artikel ini mulai ditanyakan. Apakah orang gila bisa masuk Ssuga? Pertanyaan ini diajukan karena manusia telah membentangkan sebuah jarak antara kegilaan dengan surga. Seakan-akan orang gila tidak mungkin masuk surga.

Surga adalah tempat bagi yang mulia, yang waras, yang rasional. Pertanyaan "apakah orang gila bisa masuk surga?" menyiratkan bahwa kegilaan dipisahkan dari ranah teologis yang selalu penuh rasionalitas, sedangkan kegilaan penuh dengan irasionalitas.

Pertanyaan ini juga ditanyakan karena penggambaran agama mengenai pertobatan. Pertobatan dihubungkan dengan rasionalitas seseorang, kewarasan seseorang untuk memilih apa yang benar dan baik, yang sesuai dengan Kitab Suci. Sedangkan orang gila dianggap tidak dapat mengambil keputusan dengan benar, berkat irasionalitasnya, orang gila dianggap "tidak mungkin bertobat".

Tetapi pertanyaan ini sekaligus menggambarkan keinginan si penanya untuk mengharmoniskan kegilaan dengan surga. Penanya mempertanyakan kemanusiaan orang-orang gila. Bukankah orang gila juga adalah manusia, yang katanya diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna, dan bahkan serupa dan segambar dengan-Nya?

Apakah Tuhan yang mahakasih akan membiarkan orang-orang gila ini masuk neraka hanya karena kegilaan mereka? Harmoniskah itu dengan gambaran Allah yang ada di dalam Kitab Suci? Lalu pada akhirnya, si penanya berharap ada setitik harapan bagi orang gila untuk berdiam dalam surga.

Lebih penting lagi, pertanyaan ini adalah pertanyaan teologis. Pertanyaan ini ditanyakan dalam hubungannya dengan Allah, yang Supranatural, yang Ontologis. Namun, apakah kegilaan mampu ditanyakan secara teologis?

Sejarah yang disusun Foucault memaparkan bahwa seiring bertambahnya umur zaman, kegilaan telah dipersempit hanya kepada makna fisiologi, yaitu kerusakan otak. Oleh sebab itu, orang-orang gila wajib dikumpulkan di Rumah Sakit Jiwa, dirawat oleh dokter-dokter dan perawat yang dirasa sudah paham mengenai ilmu kejiwaan.

Sejak psikologi dianggap sebagai ilmu, dan merasuk ke dalam ranah kedokteran (psikiatri), maka kegilaan juga dianggap sebagai penyakit. Foucault dengan jeli membaca penyempitan makna ini sebagai mantra kekuasaan kaum borjuis, di mana kekuasaan berkomplot dengan para dokter jiwa dan perawat di Rumah Sakit Jiwa untuk mengurung orang-orang gila, melucuti kebebasannya, dan menggantinya dengan fasilitas hidup yang dibiayai negara (di Rumah Sakit Jiwa).

Namun, pertanyaan "apakah orang gila bisa masuk surga" mengembalikan kegilaan pada abad-abad teologis, menerobos makna kegilaan hanya sebagai penyakit jiwa yang berkembang zaman ini. Dengan demikian, pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang primordial, namun diakui masih muncul di zaman modern. Sebuah paradoks antara pemahaman teologis dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Atau mungkin pertanyaan ini muncul bahkan jauh lebih primordial dari Narrenschiff, yaitu pada abad ketika seorang "gila" dari Nazareth menyeru-nyerukan bahwa dirinya adalah Mesias di jalan-jalan sekitar Kota Yerusalem? Apakah orang gila dari Nazareth ini bisa masuk surga? Atau malah dalam diri-Nya terkandung seluruh surga, akar dari kepercayaan-kepercayaan manusia setelah Dia?

Namun, jika Ia dipanggil sebagai Kristus, maka berarti kegilaan sangat dekat dengan surga. Bahkan Foucault mengatakan, "Kristus tidak hanya memilih untuk dikelilingi orang gila; ia sendiri memilih untuk terlihat di mata mereka sebagai orang gila, kemudian merasakan, dalam inkarnasi-Nya, semua penderitaan manusia-manusia yang malang tersebut."

Dan lagi, untuk menjawab pertanyaan kita sejak permulaan, "apakah orang gila bisa masuk surga," Foucault mengatakan, "Seperti kematian menjadi batas hidup manusia di dalam waktu, kegilaan juga menjadi batas dalam dunia kebinatangan, sehingga sama seperti kematian yang telah disucikan oleh kematian Kristus, maka kegilaan dalam hakikatnya yang paling hewani, juga disucikan."

Dengan demikian, seharusnya di dalam Kekristenan batas-batas kegilaan dan kewarasan dilucuti di hadapan salib Kristus. Namun gereja mulai abad pertengahan sampai abad delapan belas, sebagaimana yang diamati Foucault, memilih untuk berdiri berseberangan dengan Kristus dalam menanggapi kegilaan.

Ketika kegilaan dikucilkan, mereka ikut mengucilkan. Ketika kegilaan dikurung dan diinstitusionalisasi, mereka ikut mendukung. Mendukung negara yang dikendalikan kuasa borjuis, gereja memisahkan diri dari Kristus sendiri, yang memisahkan diri dari yang borjuis dan mendukung masyarakat egalitarian. 

Inkarnasi-Nya membuat Ia persis seperti orang-orang yang dikucilkan pada abad-abad tertentu: gila, miskin, dan pengangguran. Persis pula seperti orang-orang itu, yang dikumpulkan jadi satu dalam rumah-rumah pengasingan dan diperlakukan bak binatang, Kristuspun dilucuti pakaian-Nya, dicambuk bagai binatang, dan digantung di salib sampai mati.

Orang-orang waras adalah orang-orang yang tergila-gila pada kewarasan, sedangkan orang-orang gila tidak tergila-gila baik pada kewarasan maupun pada kegilaan.