3 tahun lalu · 12163 view · 4 menit baca · Filsafat 17048487967_0921c5d35a_o.jpg
Friedrich Nietzsche (Foto: Flickr.com)

Apakah Nietzsche Membunuh Tuhan?

Tanggapan atas Tulisan Amir Wata

Pemikiran Friedrich Wilhelm Nietzsche (selanjutnya akan ditulis dengan huruf ‘N’) selalu aktual untuk dibicarakan. Filsuf kelahiran Rocken, Prusia ini memiliki pemikiran yang kritis terkait dengan kebenaran, kehidupan, manusia dan banyak lagi. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah Thus Spoke Zarathustra (1883-1885).

Buku yang terdiri dari empat bagian ini memperdalam teori-teori N mengenai kehendak untuk berkuasa (will to power), adimanusia, dan perulangan abadi.[1] Banyak pihak yang dengan baik mengulas pemikiran N, tidak sedikit yang salah kaprah mengurai simpul kusut pemikiran N.[2]

Dalam artikel sebelumnya, “Tuhan dan Keyakinan”, Amir Wata dengan “elok” menuliskan bahwa “Nietzsche hanyalah seorang pemberontak alamiah, seperti kebanyakan anak manusia.” Argumen yang cukup berani, tapi perlu diperdalam kembali kebenarannya. 

Dalam artikel ini, penulis mencoba menguraikan jawaban atas satu pertanyaan sederhana, “Apakah N membunuh Tuhan?”

Nietzsche: Menolak Fiksasi Ide

Perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa N menggambarkan “Kebenaran” sebagai seorang “Wanita”. Wanita yang perlu dipahami, dikagumi, sekaligus dihormati. Akan tetapi, tidak sedikit dari kita berusaha “menelanjanginya”. Mencoba mencari dan menangkap bagian yang terdalam darinya.

Wanita memiliki pesona yang tidak akan pernah bisa kita tangkap, walau kita berusaha dengan keras sampai menelanjanginya. Itulah kebenaran. Menurut N, kebenaran bersifat misterius seperti wanita.


Kita berusaha mencari kebenaran yang absolut (red: Tuhan), menghormatinya, mengaguminya, bahkan menyembah kebenaran tersebut. Akan tetapi, kita tidak pernah bisa menangkap kebenaran yang sejati. Ketidakberdayaan inilah yang sering kali membawa kita pada ungkapan, “Apakah ada Wanita? Apakah ada Kebenaran?”

Kebenaran—sampai saat ini—masih hanya ingin mengungkapkan kebutuhan subyektif manusia[3]. Dengan kata lain, kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang benar karena ingin menganggapnya benar, agar tercipta kedamaian, kelegaan dan ketentraman. Ketika kebenaran sudah diberi kotak dan garis batas (fiksasi), di saat itulah kebenaran palsu tercipta.

Hal ini dikarenakan (menurut N) kebenaran selalu berkembang, segala bentuk fiksasi hanya akan menghambat perkembangan tersebut. Pandangan N mengenai kebenaran ini membawa kita pada sebuah pemikiran, “N tidak pernah setuju dengan bentuk-bentuk pengabsolutan suatu hal. Bahasa yang lebih sederhana, N menolak fiksasi ide.[4]

Setelah memahami makna kebenaran menurut N dan posisi N terhadap kebenaran, selanjutnya kita akan membahas pertanyaan utama kita: “Apakah N membunuh Tuhan?”

Nietzsche sang Pembunuh “tuhan”

N tidak pernah menyebut dirinya sebagai pembunuh Tuhan. Pembaca tulisan-tulisannya yang berpendapat demikian, secara khusus dalam artikel “The Two Types: Dionysus and the Crucified” dalam kumpulan teks yang tidak dipublikasikan tahun 1888.


Dalam artikel ini N mencoba menguraikan perbedaan antara Dionysus (Tokoh Dewa Yunani yang dianggap sebagai “tuhannya” N) dan Yang Tersalib (sosok Tuhan bentukan St. Paulus). Dalam artikel ini Nietzsche memandang bahwa Tuhan sudah kehilangan keilahian-Nya ketika sudah difiksasikan oleh lembaga-lembaga agama yang ada. Secara khusus N mengkritik konsep Kristus (Tuhan dalam Kristen) yang dibentuk oleh St. Paulus.

Ketika idea Kristus muncul, menurut N, di sanalah Tuhan telah dibunuh oleh Paulus dan pengikutnya (umat Kristiani). Tuhan bukan hanya seperti konsep-konsep dan idea fix yang dibentuk oleh St. Paulus. Hal ini juga berlaku di agama-agama lain. Ketika Tuhan sudah dibatasi oleh lembaga agama tertentu (bentuk fiksasi ide), di sanalah idea mengenai Tuhan telah mati, tidak dapat berkembang lagi, dan menjadi konsep kebenaran yang palsu.

Oleh sebab itu penulis mengambil garis simpul, “N tidak pernah membunuh Tuhan, yang ia bunuh adalah tuhan bentukan manusia.” N mengagumi Tuhan dengan segala misteri-Nya, segala hal tentang Dia yang tidak bisa manusia telanjangi dan tangkap secara utuh.

Sebaliknya, N sangat membenci “tuhan-tuhan” bentukan lembaga-lembaga agama. Karena di sanalah titik di mana Tuhan telah jatuh ke dalam fiksasi ide dan konsep. Setelah memahami bahwa N tidak membunuh Tuhan, bahkan sangat mengagumi-Nya, namun menolak tuhan bentukan lembaga-lembaga agama yang ada, bagaimana sikap kita berikutnya?

Ajakan Moral Nietzsche

Menurut penulis, pemikiran N mengenai Tuhan, justru mengajak pembaca untuk bertanya dengan lebih kritis, “Bagaimana aku memandang Tuhan?” Ketika manusia jatuh pada ekstrem fiksasi ide mengenai Tuhan, efek negatif yang muncul ada segala bentuk fundamentalisme agama.

Karena T(t)uhan adalah suatu konsep tertentu yang dianggap paling benar oleh sebuah kelompok (bentuk fundamentalisme), maka kelompok tersebut akan melawan dengan segenap tenaga, budi dan hati konsep-konsep T(t)uhan lain. Apakah ini yang dikehendaki oleh Tuhan?

Daripada jatuh ke praktik ateisme, penulis melihat pemikiran N malah mengajak pembaca untuk  lebih mendalami Tuhan secara lebih murni, tanpa dibatasi oleh pandangan-pandangan sempit lembaga agama tertentu. Hal ini dibahas oleh N dalam artikelnya “The Two Types: Dionysus and the Crucified”. Dalam artikel tersebut N membedakan antara religious man (manusia religius) dengan religion man (manusia agama).


Manusia religius adalah mereka yang mampu memandang Tuhan, melebihi konsep-konsep Tuhan bentukan lembaga-lembaga agama tertentu. Sedangkan manusia agama adalah mereka yang melulu memandang Tuhan berdasarkan fiksasi-fiksasi ide bentukan lembaga agama tertentu. N mengajak pembaca untuk menjadi manusia religius, melebihi manusia agama.

Penulis tidak mengajak pembaca untuk meninggalkan agama, melainkan kembali kepada ajaran pokok dari setiap agama, yaitu kasih. Walaupun agama tidak bisa menjelaskan secara menyeluruh siapa itu Tuhan, paling tidak setiap agama memandang satu hal yang sama mengenai Tuhan, yaitu kasih.

Penulis membuka diskusi lebih lanjut mengenai paham N tentang Tuhan, karena apabila penulis menjadikan artikel ini sebagai kata akhir, sama saja penulis jatuh pada fiksasi ide, yang notabene dibenci oleh N.

Akhir kata, penulis kembali kepada argumen pertama, N tidak membunuh Tuhan. Ia membenci fiksasi ide mengenai Tuhan yang menyebabkan timbulnya bentuk-bentuk fundamentalisme agama. Lalu, apakah Nietzsche hanyalah manusia pemberontak alamiah, seperti kebanyakan orang? Saya pikir tidak.


[1] Bdk. Roy Jackson, Friedrich Nietzsche, (Yogyakarta: Penerbit Bentang Budaya, 2003), hlm. 59

[2] Penulis mengambil perumpamaan “simpul kusut”, karena memang pemikiran N sulit untuk dipahami. Di dunia filsafat, banyak pakar yang masih memperdebatkan mana “yang benar” menurut N.

[3] Bdk. A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, (Yogyakarta: Galang Press, 2004), hlm. 125

[4] Uraian menarik, mendalam dan komprehensif mengenai teori kebenaran N, dapat dibaca dalam A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, (Yogyakarta: Galang Press, 2004).

Artikel Terkait