(Maha) siswa
4 bulan lalu · 224 view · 3 menit baca · Filsafat 40711_71662.jpg
Koalisiseni.or.id

Apakah Manusia Dibekali Pengetahuan Sejak dalam Kandungan?

Tabula rasa sebenarnya tidak relevan lagi. Kira-kira begitu pernyataan teman saya. Manusia sudah dilengkapi dengan pengetahuan sejak dalam kandungan, tambah teman saya. Demi mengukuhkan pendapatnya.

Kehangatan itu terjadi sesaat setelah bincang-bincang kecil dimulai. Maulana teman bincang-bincang saya di kedai kopi idea, Sabtu malam (15/09/2018) kemarin. Ia menceritakan suasana diskusi di ruang kuliahnya yang tidak menumbuhkan minat baca dan berpikir mahasiswa.

Saya terus bertanya perihal diskusi di ruang kuliah yang katanya tak lagi menumbuhkan minat baca dan berpikir mahasiswa itu. Kebetulan temannya menjadi pemakalah di ruang kuliahnya. Niatnya ingin menghidupkan suasana ruang kuliah yang menumbuhkan minat baca dan berpikir, malah si pemakalah memilih jalan tengah agar tidak terjadi diskusi yang hangat.

Ia juga menceritakan diskusinya dengan seorang dosen. Yang saya dengar dari ceritanya, dosennya berpendapat, manusia sudah disiapkan dengan pengetahuan yang melekat padanya. Ia menuturkan, seorang bayi yang diberi garam akan menolak. Dalam penafsirannya, itu artinya si bayi sudah paham bahwa garam itu bukan sesuatu yang dibutuhkannya. Dengan sendirinya ia menolak perihal tabula rasa yang digagas oleh John Locke.

Saya perlu garis bawahi pernyataannya. Ada pernyataan yang ia sendiri kutip dari dosen dan ia tambahkan dengan penafsirannya sendiri yang mesti saya kemukakan kembali. Yaitu mengenai manusia yang menurutnya sudah dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan. Contoh bayi yang diberi garam adalah argumen penguat pernyataannya.

Apakah benar manusia sudah dibekali pengetahuan sejak dalam kandungan? Bagaimanakah dengan garam yang ditolak si bayi?  

Ada sebuah kisah, Musa yang masih bayi suatu ketika diberi dua pilihan untuk membuktikan bahwa ia tak berbahaya di kemudian hari bagi Firaun. Musa diberi makanan dan api. Disuguhkanlah dua-duanya. Musa memilih api. Dikiranya makanan juga. Cerita Ini mungkin bias. 

Ada cerita lain. Suatu ketika saya mengunjungi teman. Saat itu pula, teman saya menyuguhkan madu pada adiknya. Kebetulan madu itu rasanya pahit. Awalnya, adiknya menerima dan meminumnya. Ternyata yang dirasakannya pahit. Ketika madu itu disodorkan lagi padanya, ia menolak.. 

Perilaku pertama dalam konteks penerimaan adalah bukti bahwa manusia memang tidak disiapkan dengan pengetahuannya. Cerita musa yang memilih api adalah bukti juga. Manusia memang dibekali dengan akalnya, tapi jika tidak ada kesan yang masuk melalui akal budinya, bisa dipastikan ia tak mampu memutuskan.

Bayi dalam cerita teman saya adalah bukti tidak kuat. Bisa jadi, si bayi sudah mendapatkan kesan terlebih dahulu. Terlebih lagi, tidak ada bukti konkrit tentang hal itu. Bayi yang dicontohkan dosennya hanya spekulatif. Manusia yang dilengkapi pengetahuan sejak dalam kandungan adalah mustahil. Jika manusia sudah dibekali dengan pengetahuan, bisa dipastikan tanpa interaksi sosial, ia sudah mengetahui segalanya. Tapi ini ketidakmungkinan. Lihatlah bagaimana anak kecil yang harus diajarkan pelbagai pengetahuan mengenai warna-warni, huruf-huruf, angka-angka dan sebagainya.

Betul kiranya, manusia hanya disiapkan seperti kertas putih kosong. Konsep tabula rasa yang dikenalkan John Locke adalah kebenaran. Paling tidak, ia adalah kenyataan yang mendekati kebenaran.

Manusia yang seperti kertas kosong bisa diisi dengan apa saja. Kesan-kesan yang ia tangkap dari pengalaman sehari-harinya akan membentuk gagasannya. Kesan yang ditangkap begitu kompleks. Besar kemungkinan akan membentuk kepribadiannya. Akal awalnya menerima kesan-kesan yang didapati dari inderanya dengan pasif. Kemudian ia akan mengolah kesan-kesannya tersebut secara aktif.

Dalam konteks agama, tabula rasa diibaratkan sebagai fitrah. Meskipun agak mirip, fitrah tidak begitu persis dengan tabula rasa. Sebab, di dalam fitrah sejatinya sudah terkandung potensi baik. Manusia dengan fitrahnya sudah berpotensi berbuat baik. Tabula rasa seperti kertas putih kosong. Tidak ada potensi baik yang dikandungnya.

Terlepas dari hal ini, tabula rasa saya pikir sudah mendekati kebenaran daripada gagasan yang menyatakan bahwa manusia sudah dibekali dengan pengetahuan sejak dari dalam kandungan.

Itulah mengapa dalam konteks agama, kita disuruh membaca. Dalam artian menganalisa setiap peristiwa. Itu artinya, kesan yang ditangkap adalah keharusan. Akal hanya mengolahnya. Kesan-kesan itu didapat dari interaksi sosial. Pengalaman-pengalaman di lingkungan, kampus dan organisasi.

Kertas kosong yang sudah melekat pada diri kita akan berwarna jika sering berinteraksi. Ada banyak hal yang tidak didapat hanya duduk termenung. Merenung juga butuh objek yang jadi bahan perenungan. Jika tidak, ia hanya jadi lamunan.

Tabula rasa adalah teman awal manusia. Tempelan-tempelan datang kemudian setelah adanya interaksi. Saya jadi ingat pesan guru waktu SD dulu. Dengan semangatnya, ia bilang, "ini ibu Budi," dan kita mengikutinya. Pertanyaannya, sebelum intruksi membaca dari guru, kita tahu siapa Budi dan ibunya? Pertanyaan lain, dari manakah definisi manis, pahit, panas, dingin serta lainnya yang jadi kesan bagi kita?