6 bulan lalu · 549 view · 3 min baca · Hukum 19229_27290.jpg

Apakah Layak Bicara Kemanusiaan pada Terorisme?

Tak ada lagi hal tentang “manusia” yang melekat pada terorisme.

Belum juga 24 jam debat pertama pilpres 2019 berlalu, salah satu calon presiden seperti lupa telah membuat luka lewat pernyataannya. Masih hangat dan ingat betul kemarin, selain yang joged-joged dan emosional, serta kalimat-kalimat ngawur ngidul, ada empat hal penting yang dibahas, yaitu hukum, korupsi, dan HAM, dan terorisme, yang dibahas.

Dalam paparannya tentang terorisme, calon presiden Prabowo Subianto mengatakan akan berinvestasi total dalam pendidikan dan kesehatan. Sementara itu, Sandiaga akan memetakan wilayah mana di Indonesia yang memiliki risiko tinggi atau terpapar ideologi dan paham terorisme. Untuk mencegah aksi terorisme, Prabowo berjanji memperkuat aparat penegak hukum seperti polisi, intelijen, dan sebagainya agar bisa mendeteksi sejak dini paham radikalisme yang tumbuh di masyarakat.

Adapun dari kubu paslon 01, calon wakil presiden Ma'ruf Amin mengatakan akan mengutamakan pencegahan dengan menekan paham intoleran dan melakukan deradikalisasi. 

Mentah, sungguh mentah. Tak dapat dicerna. Visi misi yang lebih baik soal terorisme mungkin bisa dicetuskan oleh mereka yang bertarung dalam pemilihan ketua Osis.

Soal terorisme, petahana begitu menggebu ingin memberantasnya, meski hanya kalimat-kalimat normatif saja. Namun, pagi ini kabar dibebaskannya napi terorisme Ustaz Abu Bakar Ba'asyir konon disetujui presiden dengan alasan kemanusiaan. Kemanusiaan yang bagaimana yang layak bagi pelaku terorisme? 

Sungguh pernyataan ini melukai. Kabar yang beredar teroris legendaris ini akan bebas tanpa syarat. Jika memang disetujui, lantas, kalimat-kalimat pemberantasan terorisme yang kemarin lantang dibicarakan mau dibawa kemana? Ah...makin ragu menentukan pilihan.

Terorisme itu sungguh kejam. Luka-luka fisik akibatnya memang sembuh. Namun, apakah luka batin keluarga korban teror akan lega mendengar kabar ini? Bertahun-tahun keluarga korban teror sembunyi dari trauma, bahkan ada yang dipasung sebab menggila, kini pelakunya harus bebas tanpa syarat? Benar-benar gila.


Banyak yang sangsi jika Abu Bakar Ba’asyir tak terlibat pengeboman di Bali. Siapa yang bisa menjamin bahwa dia memang tak pernah bersentuhan dengan kasus “bom” manapun? Atau siapa yang bisa menjamin jika ia tak pernah memelihara “bom waktu” untuk negara ini?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengizinkan pembebasan terhadap terpidana kasus terorisme Ustaz Abu Bakar Ba'asyir. Apa pertimbangan Jokowi memberikan izin pembebasan tersebut?

Faktor kemanusiaan. Artinya, beliau sudah sepuh. Ya faktor kemanusiaan. Termasuk kondisi kesehatan, begitu pertimbangan Presiden yang katanya cukup panjang. Bukankah kematian pun rasanya tidak bisa membayar apa yang telah ia kerjakan dengan sadar terencana di pulau Dewata (katanya tak pernah terlibat) atau pulau-pulau lainnya? Tulisan ini sangat emosional, lebih dari yang dirasakan paslon no urut 2 saat disinggung soal persetujuannya terhadap pencalonan mantan korupsi pada pemilu.

Apakah bapak Presiden, pengambil keputusan, para ahli yang ikut memutuskan keputusan ini pernah mempertimbangkan bagaimana nyawa seorang ibu yang direnggut tiba-tiba dari anaknya yang masih menyusu? Apakah ada pertimbangan untuk jangan meledakkan bom jika yang mati nantinya adalah seorang ayah yang menjadi tulang punggung satu-satunya? 


Bagaimana dengan mereka, para korban yang selamat, namun cacat seumur hidup? Memaafkan diri mereka sendiri saja, sangat susah dilakukan. Mereka meminta mati, sebab hidup tak berarti. Siapa yang lantas memikirkan ini? Apakah ada pertimbangan matang dari seorang manusia yang memikirkan bagaimana Bali atau daerah-daerah lain bisa bangkit setelah dibom berkali-kali?

Bagi saya tak ada lagi hal tentang “manusia” yang melekat pada pelaku terorisme.

Pak Jokowi yang sungguh dermawan hingga langsung turun tangan mengawasi kasus seorang yang melawan begal yang akhirnya bebas dari status tersangka. Pak Jokowi yang pemurah yang turut mengawal kasus pelecehan yang menimpa Baiq Nuril. Serta Pak Jokowi yang selalu saya kenal memperjuangkan keadilan, mengapa tidak sensitif terhadap apa yang akan bapak putuskan untuk membebaskan seorang teroris? 

Jangan hanya karena ingin menarik simpatisan menjelang pilpres, bapak lupa bahwa ada yang terluka atas putusan yang tidak masuk akal ini. lukanya tidak main-main, Pak. Tugu kematian ratusan jiwa masih terpampang nyata di Legian Bali. Bertahun-tahun orang datang mengenang lalu menangis. Keluarga mereka selalu berandai, jika saja satu malam itu tidak ada yang datang, maka tak ada manusia yang mati sia-sia. 


Trauma kematian masih saya dengar cerita hingga kini, Pak. Bagaimana seorang ibu bercerita tentang suaminya yang bekerja sebagai Satpam selamat dari kebiadaban terorisme itu. Apakah air mata ini tidak lebih mulia dari kemanusiaan yang bapak bagi untuk pelaku teror yang akan dibebaskan tanpa syarat itu?

Pelaku yang legendaris itu, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, belum genap, baru 9 tahun, lalu mengapa harus bebas tiba-tiba? Tua dipenjara bukanlah hukum yang setimpal, apalagi harus bebas. Ah...musim politik telah benar-benar mempertanyakan arti menjadi “manusia” . teruslah berdebat, teruslah menggugat bapak-bapak yang terhormat, agar kita (khususnya saya) makin tahu siapa yang hendak kita gugat.

Artikel Terkait