Tindak kejahatan terorisme berupa penembakan massal di dua masjid di Christchurch, New Zealand, yang dilakukan seorang pemuda kulit putih Australia, menyisakan banyak polemik.

Di pihak kulit putih – khususnya Australia – orang-orang berdebat apakah ekstremisme supremasi kulit putih adalah fenomena terisolasi yang perlu diberantas sampai ke akarnya, atau merupakan tanggung jawab seluruh ras kaukasia di negara itu (bahkan seluruh dunia) akibat eksploitasi dan diskriminasi berabad-abad atas ras, budaya dan agama lain. Yang terakhir ini menuntut ‘revolusi budaya’ besar-besaran untuk menghancurkan dominasi kaukasian (“eurosentrisme”) menjadi multidiversitas.

Di pihak Islam, para fundamentalis memanfaatkan posisi korban untuk menunjukkan, “Inilah teroris yang sesungguhnya!”, menggunakannya kepentingan politik (dari Arie Untung sampai Erdogan), dan mendoakan warga yang menjaga mesjid sampai si Will “Egg Boy” Connolly menjadi mualaf. 

Beberapa Muslim progresif ikut-ikutan trend menyalahkan ras kaukasia seperti disebutkan di atas. Lainnya memaafkan, menyerahkan tersangka pada proses hukum New Zealand dan mengapresiasi empati warga setempat untuk duka yang mereka alami.

Kasus ini seolah mengukuhkan fenomena dua raksasa yang saling berhadapan: Islam yang kulitnya berwarna, dengan kulit putih yang berlatar belakang Kristen. Kelompok kiri kulit putih melompat merangkul kelompok Islam sambil menunjuk semua yang kurang setuju, abu-abu atau suam-suam kuku sebagai antek-antek kelompok kanan supremasi kulit putih. Kelompok Islam fundamentalis megkafirkan sesama Muslim yang tidak mengkriminalisasi semua kulit putih kafir.

Tetapi apakah kenyataan sejarah berkata demikian? Apakah hubungan Islam-Eropa (Kristen) bisa disederhanakan dalam konteks perang salib dan kolonialisme? Singkatnya, apakah islamisme dan white supremacy secara alamiah saling bermusuhan?

Jika kita telisik sejarah, istilah perang salib (crusade) sebetulnya tidak melulu terkait Islam. Tepatnya, Islam hanyalah satu dari sekian banyak ‘masalah’ yang mengancam kristendom di masa lalu. Selain perang salib di Timur Tengah, ada Perang Salib Utara (Northern Crusades) melawan suku-suku Baltik pagan, Perang Salib Albigensia di Perancis melawan sekte Cathar yang dituduh sesat, dan bahkan perang melawan Protestan (Perang Tiga Puluh Tahun). Semua perang ini melawan sesama orang kulit putih.

Rasisme juga bukanlah fenomena khas kulit putih. Rasisme adalah penyakit global yang muncul akibat ketidaktahuan atau ketakutan yang tidak beralasan. Kulit putih benci kulit hitam, Melayu benci Tionghoa, Arab benci Semit. Pun penyebabnya tidaklah melulu perbudakan, kolonialisme atau paham superior. Ada masalah ekonomi, pendidikan, budaya, sejarah dan sebagainya. Kelompok supremasilah yang memaksimalkan kegamangan umum ini untuk kepentingan pribadi dengan cara-cara jahat.

Dunia Islam (Arab?) juga tidak kebal dari rasisme. Hanya saja karena keterbukaan informasi tidak sebagus di Barat, maka siapapun yang membongkar borok-borok rasisme dianggap anti Islam atau antek Barat. Beberapa jemaah haji berkulit hitam (bahkan keturunan Eropa yang mualaf) menceritakan perlakuan diskriminatif dari otoritas Saudi atau jemaah negara Islam lainnya. Bahkan etnis yang masih berkerabat dengan Arab seperti Kurdi dan Assyria juga mengalami diskriminasi yang parah.

Teori-teori konspriasi penghancuran khilafah sebagai bentuk kebencian kulit putih/Barat terhadap Islam sebenarnya juga absurd. Amerika Serikat sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Maroko sejak mereka merdeka. Kesultanan (‘khilafah’) Ustmaniyah sendiri gonta-ganti musuh dan sekutu di Eropa: hari ini Inggris, besok Perancis, lusa Jerman. Yang terakhir ini punya sejarah menarik dengan Islam ketika negara Eropa itu berada dalam bentuk terburuknya.

Secara umum, Nazi Jerman menganggap rendah semua ras dan ‘-isme’ di luar mereka. Tetapi, Adolf Hitler dan banyak petinggi Nazi bersimpati dengan Islam dan Arab. Mereka sama-sama membenci kolonialisme Inggris-Perancis (kalau Jerman karena sakit hati sejak Versailles) dan Yahudi. Agama Islam dianggap lebih disiplin, militeristik, praktis dan politis daripada Kristen – cocok dengan paham Nazi. “Seandainya Islam berhasil menguasai Eropa,” kata Hitler, “Jerman Islam sudah memimpin dunia.”

Adalah Mufti Agung Yerusalem, Amin al-Husayni, yang aktif melawan Zionisme dan kolonialisme Inggris. Ia adalah pengagum Hitler, sahabat Himmler dan von Ribbentrop. Dalam menghadapi musuh yang sama, ia membantu merekrut pasukan Nazi dari Muslim Arab dan Balkan, bekas wilayah Ustmaniyah. Misalnya Legiun Arab Merdeka (Legion Freies Arabien), Divisi Gunung SS (Schutzstaffel) ke-21 Skanderbeg (Albania), Divisi Gunung SS ke-18 Handschar dan ke-23 Kama (Bosnia-Kroasia).

Pasca perang, tidak sedikit tokoh progresif nasionalis Arab seperti Gamal Abdul Nasser yang menampung mantan Nazi Jerman. Gerakan perlawanan anti-Israel seperti PLO dan Hamas beberapa kali tertangkap menggunakan salam Nazi. Nasionalisme Arab yang beraliran kiri (Partai Baath) sedikit banyak mengadopsi konsep nasionalisme etnisitas Nazi. Di sisi lain, kelompok supremasi kulit putih di Barat selama Perang Dingin lebih banyak menindas kulit berwarna dan Yahudi daripada Muslim.

Baru setelah maraknya terorisme modern (pasca 9/11), orang-orang mulai menaruh kecurigaan pada imigran Arab dan Muslim (‘Islamofobia’). Peristiwa Arab Spring dan ISIS memperpanjang kekacauan di Timur Tengah, sehingga makin banyak imigran Timur Tengah yang berdatangan ke negara Barat. (Di lain pihak, beberapa negara Islam yang kaya juga enggan menerima mereka.) Ketakutan ini dimanfaatkan oleh kelompok white supremacy Barat untuk mencapai tujuan politik mereka.

Kelompok supremasi kulit putih seperti Ku Klux Klan dan Nazi adalah sesuatu yang relatif baru. Mereka muncul bukan semata karena rasisme, tetapi terutama karena kalah perang. Sama halnya dengan kolompok Islam ekstrem muncul bukan karena kebencian semata pada non-muslim, tetapi juga karena konflik. Kebencian etnis atau agama adalah bara api yang dijadikan alasan untuk kegagalan mereka memenangkan persaingan di masa lalu.

Kemiskinan dan kesenjangan sosial juga bukanlah faktor penyebab banyak orang bergabung ke dua kutub ekstrem ini. Tetapi memang isu sosial tersebut dimanfaatkan oleh kedua kelompok. White supremacist menakut-nakuti pemuda kulit putih kalau pekerjaan dan status sosial mereka akan dirampas imigran kulit berwarna. Ekstremis Islam memanas-manasi pemuda Muslim dengan cerita kemiskinan di negara Muslim akibat eksploitasi Barat.

Keduanya juga menjanjikan nostalgia: kembalinya kejayaan kristendom di Eropa ataupun supremasi kulit putih di manapun mereka (pernah) melakukan kolonisasi. Atau kembalinya khilafah yang tidak terpecah-pecah menjadi negara-bangsa, menguasai negara kulit putih kristen yang dulu berkonspirasi menghancurkan khilafah dan merampas budaya, ilmu pengetahuan dan teknologinya. Justru kedua kutub ekstrem inilah yang menyederhanakan sejarah menjadi semata hitam vs putih.

Apa artinya semua ini? Pertama, konflik atar manusia sangatlah dinamis, penyebabnya beragam, dan tidak bisa dipukul rata kecuali (mungkin) tujuannya: kekuasaan. Konflik seperti perang dan revolusi hanyalah alat untuk mencapainya, dan kebencian sebenarnya hanyalah bahan bakar untuk menggerakkannya. Tetapi namanya bahan bakar bisa menjadi kerak yang mengotori mesin, bocor, tumpah ke jalan dan tersulut api. Itulah yang sering terjadi saat ini.

Kedua, permusuhan yang semakin runcing adalah tujuan dari kelompok-kelompok ekstrem. Ketika senator kulit putih menuduh imigran Muslim adalah masalah sesungguhnya, atau politisi partai Islam menuding kulit putihlah teroris sesungguhnya, mereka bersorak gembira. Mereka semakin mendapat alasan bahwa orang-orang yang tidak sepaham atau sepihak dengan mereka adalah musuh yang harus diperangi.

Ketiga dan mungkin yang paling krusial, menuduh orang-orang yang berada di wilayah abu-abu sebagai antek musuh sangatlah berbahaya. Hanya karena tidak setuju dengan satu-dua hal, atau melakukan tindakan yang mirip sesuatu, mereka dituduh rasis atau kafir. Mereka akan kecewa dan memilih tidak berbuat apapun supaya tidak dituduh bertanggung jawab, atau yang lebih berbahaya, malah menjadi ekstrem.

Sebuah gambar ‘piramida white supremacy’mendadak santer pasca penembakan di Christchurch. Di paling bawah adalah mereka yang berusaha netral, sementara di puncaknya adalah militan bersenjata. Beberapa orang menyamakan mereka yang ada di dasar dengan para pembunuh di puncaknya. Seorang tokoh kulit putih yang tengah berdoa untuk para korban penembakan digeruduk sejumlah orang yang menuduhnya bertanggung jawab karena ‘tidak cukup berbuat banyak’ untuk mencegah hal itu terjadi.

(Bahkan menulis artikel ini pun mengandung risiko. Sebab, ‘melihat dari kedua sisi’ dapat dianggap sebagai tidak memihak kebenaran atau menganggap musuh itu pada dasarnya orang baik. Tujuan saya menulis ini adalah untuk menghentikan kebencian yang  main pukul rata, menyalahkan korban atau bermain sebagai korban. Singkatnya, saya mengajak pembaca berpikir logis dan jernih.)

Lalu bagaimana mengatasinya? Saya pernah bercerita tentang Daryl Davis, seorang musisi R&B kulit hitam yang berhasil membawa banyak mantan Ku Klux Klan bertobat. Ia bercerita tentang pendekatan personal pada mereka, bahkan sampai ke pentolannya. Yang terbaru adalah Deeyah Khan, seorang Muslimah pembuat film yang masuk ke kelompok white supremacy dan ekstremis Islam. Ia juga berbicara secara pribadi dengan mereka, dan beberapa juga bertobat dan bersahabat dengannya.

Keduanya mendapati gejala yang sama. Orang-orang yang bergabung di kelompok-kelompok tersebut bukanlah orang miskin, bodoh, bahkan rasis sejak kecil atau jebolan pesantren garis keras. Tetapi banyak dari mereka tidak pernah bertemu dengan orang kulit berwarna, atau bersosialisasi dengan banyak orang dari agama berbeda. Ketika melihat banyak peristiwa di media, pertanyaan kritis mereka tidak dijawab dengan memuaskan, bahkan mereka balik disalahkan dan dimusuhi.

Ketika mereka tengah galau inilah kelompok-kelompok radikal masuk dan memberi janji surga. Mereka tiba-tiba merasa punya teman, tempat berlabuh dan bahkan tujuan hidup. Sense of belonging dan life purpose! Mereka disuguhi pemandangan yang membanggakan jika bergabung dengan mereka: berbaris dengan gagah mengusung panji-panji Swastika atau Tauhid. Di sini kalian dianggap teman dan pahlawan. Di luar sana kalian dimusuhi, karena mereka memang musuh.

Davis dan Khan mengerti betul bahwa orang-orang ini dibutakan oleh ketakutan karena ketidaktahuan, disesatkan oleh sejarah yang sepotong-sepotong, dan disilaukan oleh simbol-simbol yang gagah. Jadi yang pertama disentuh adalah ketakutan mereka: bahwa orang kulit hitam atau non-Muslim itu sebenarnya baik, bahwa kami tidak memusuhi kalian sebagai sesama manusia. Setelah mereka dibebaskan dari ketakutan mereka, barulah mereka sadar dan bisa berubah.

Kesimpulan Khan tidak bisa lebih telak lagi: Islamisme ekstrem dan supremasi kulit putih tidak bermusuhan, setidaknya secara langsung. Bahkan mereka seperti saling membutuhkan sebagai simbol musuh yang harus diperangi. Yang mereka takutkan dan benci adalah orang-orang yang berada di tengah, yang bisa melihat persoalan secara jernih. Yang mereka kejar adalah orang yang tidak melawan secara frontal; itu sebabnya mereka meneror dan membunuh warga sipil.

Metode keduanya bukan tanpa risiko. Kita umumnya menganggap musuh kita di seberang sana itu ‘monster’, dan siapapun yang tidak merasa dirugikan oleh sistem yang ‘dibangun’ monster itu (patriarki, rasisme, islamisme, kapitalisme, komunisme) adalah monster juga! Orang-orang yang mencoba mengalahkan si monster dengan cara bersahabat dianggap pengkhianat, karena – menurut kita – si monster senang diperlakukan dengan lembut. Padahal mereka harus dihujat dan dinjak-injak.

Tetapi kenyataanya, semakin dihujat, orang semakin enggan mendekat. Ketika orang keberatan dengan satu-dua hal langsung dicap musuh, rasis, kafir, cebong, kampret; apakah mereka akan meninggalkan ketidaksetujuannya dan langsung bergabung dengan kita? Tidak! Mereka akan semakin resisten, menjadi acuh tak acuh, dan yang paling parah benar-benar bergabung dengan musuh di puncak piramida ekstremisme.

Solidaritas warga dan aparat pemerintah New Zealand seharusnya mengetuk pintu hati kita. Sama seperti umat Islam yang datang meminta maaf pada umat Kristen yang gerejanya dibom. Mereka datang bukan untuk mengatakan kami yang salah dan kamu yang benar, lalu memutuskan bergabung (menjadi mualaf atau masuk Kristen). Mereka datang untuk menawarkan persaudaraan: kami turut merasakan sakitmu karena kita bersaudara, mari kita saling menyembuhkan sebagai saudara.

 Bukankah saya menghancurkan musuh kalau saya menjadikan mereka sahabat? (Abraham Lincoln)