32770_23904.jpg
ilmuwan muslim
Agama · 4 menit baca

Membincangkan Islam dengan Sains

Agama sebagai kepercayaan yang dianut oleh seseorang, yang mana membawa keyakinan akan kepercayaan atas dzat yang sifatnya transdental, seringkali mengalami ketegangan yang kontra produktif  dengan sains.

Antara agama dan sains mempunyai dasar asumsi yang pada penetrasi awal penghayatan dan penggaliannya berbeda. Agama mempunyai pengandaian awal untuk iman (yakin/percaya) terhadap sesuatu yang sifatnya metafisik (tuhan), sedangkan prinsip sains bertumpu pada sesuatu yang sifatnya fisik dan empiris (tampak).

Ketegangan-ketegangan tersebut sering terjadi dalam peristiwa-peristiwa belakangan ini. Ketegangan tersebut di latar belakangi oleh problem relasi keduanya yang pada zaman serba digital ini begitu kompleks. Di satu sisi memang sains sudah begitu sangat signifikan sekali perkembangannya, sedangkan di sisi yang lain agama cenderung jauh tertinggal di belakangnya.

Maka kemudian, karena tidak terintegrasinya antara pemahaman keagamaan dengan kemampuan nalar saintifik umat beragama, seringkali terjadi perseteruan dan penolakan terhadap sains oleh kalangan beragama.

Fenomena beberapa waktu yang lalu cukup menghebohkan publik adalah anjuran dari salah seorang penceramah di televisi yang mengatakan bahwa meminum air kencing Unta dapat memberi dampak kesehatan bagi tubuh.

Bahkan sang penceramah tersebut untuk memperkuat argumentasinya dengan mendatangkan dalil sunnahnya. Menurutnya, anjuran minum air kencing Unta tersebut ada dalilnya. Sontak kemudian persoalan tersebut menjadi perbincangan yang hangat di media sosial dan menuai banyak tanggapan dari warganet.

Sebelum hebohnya fenomena air kencing Unta, sempat menjadi perbincanagan publik tanah air juga adalah fenomena kelompok anti-vaksin. Kelompok anti-vaksin ini bermula menolak himbauan dari Kementrian Kesehatan (kemenkes) yang menghimbau kepada para orang tua untuk memberikan vaksinasi terhadap anak-anak.

Himbauan kemenkes tersebut terkait dengan instruksi kejadian luar biasa (KLB) difetri yang terjadi di sejumlah provinsi di Indonesia (13/12/2017, Detik.com). Kelompok anti-vaksin menolak faktualitas kabar itu dan juga menolak vaksin untuk anak-anak mereka.

Dua fenomena tersebut bukanlah fenomena yang baru kali ini saja, sebelumnya kita juga dihebohkan dengan kelompok yang percaya dengan konspirasi bumi datar. Kelompok ini juga menyampaikan argumentasi yang menolak pandangan sains modern bahwa bumi itu bulat. Kelompok ini juga sangat yakin terhadap kepercayaan mereka tersebut walaupun bukti empirisnya juga tidak ada.

Sebelumnya juga ada fenomena yang cukup menghebohkan dan  masih berkaitan dengan sains dan Islam, dimana seorang ustadz pengisi ceramah di stasiun televisi swasta tanah air. Ustadz tersebut memberikan himbauan kepada para pendengarnya bahwa wanita yang sering menggunakan pembalut dan sepatu high hills dapat menyebabkan sulit hamil. Dan naasnya, keyakinan ustadz tersebut tanpa ada dasar ilmiahnya.

Relasi Agama dengan Sains

Fenomena anti sains sebagaimana dalam contoh diatas walaupun tidak bisa dikatakan sepenuhnya dilakukan oleh umat beragama, tapi juga tidak bisa disanggah bahwa itu juga ada keterkaitan dengan kecenderungan antusiasme keberislaman dalam ruang publik kita. Seperti fenomena ustadz penceramah dalam salah satu stasiun televisi swasta tersebut.

Pada dasarnya, fenomena penolakan terhadap penemuan ilmiah yang terdapat dalam contoh diatas, dalam perspektif relasi agama dan sains Ian G Barbour (1923-2013), seorang Ilmuwan Amerika yang concern dengan tema Sains dan Agama, masuk dalam tipologi konfliktual, dimana hubungan antara agama dengan sains saling meniadakan.

Seperti dalam contoh dakwah ustadz dalam stasiun televisi tersebut mempunyai argumentasi yang tidak memberikan penjabaran yang ilmiah. Tetapi justru justifikasi penolakan terhadap sains dilawan menggunakan dalil nash tanpa penjelasan yang lebih mendalam. Namun yang terjadi adalah dalil nash hanya menjadi justifikasi dari kayakinan tanpa dasar sang ustadz sendiri.

Kecenderungan penolakan dari kelompok agama terhadap sains sebenarnya malah memberikan implikasi negatif terhadap doktrin agamanya sendiri. Agama menjadi terkesan anti terhadap nalar dan bukti-bukti ilmiah. Berbeda halnya jika relasi antara agama dengan sains yang saling menyapa, yang kemudian agama menjadi pendorong dalam berkembangnya sains.

Dalam istilah Ian G Barbour (1923-2013), relasi yang ideal antara agama dengan sains ini adalah tipe relasi integrasi. Dimana agama maupun sains sama-sama menjadi pendorong metafisika inklusif. Agama maupun sains menjadi pendorong berkembangnya ilmu pengetahuan.

Dalam sejarah Islam sendiri, relasi antara agama dengan sains sangat mesra pada masa zaman keemasan peradaban Islam, dimana pada masa itu banyak dilakukan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani kuno kedalam bahasa Arab. Pada masa itu didirikan lembaga yang menjadi pusat berkembangnya ilmu pengetahuan, yaitu bait al-hikmah. Pada masa itu juga ditandai dengan banyaknya bermunculan ilmuwan dan filusuf muslim.

Bahkan, ada sederet ilmuwan besar yang diakui dunia berasal dari kalangan muslim. Malahan ada yang mengatakan bahwa para ilmuwan muslim tersebut mempunyai andil besar terhadap pembentukan bagi pengetahuan modern saat ini.

Di antara mereka antara lain Ibn’ Rusyd, Ibn’ Sina, Ibn’ Khaldun dan masih banyak nama-nama ilmuwan muslim lainnya. Konon, hingga saat ini buku karya Ibn’ Sina yang berjudul at-tib masih menjadi salah satu rujukan penting dalam ilmu kedokteran modern.

Malah justru sebaliknya, saat ini relasi antara Islam dengan sains menemui ujian berat, dimana saat ini seringkali umat beragama mempunyai kecenderungan percaya kepada sesuatu yang sama sekali bertentangan dengan nalar sehat.

Fenomena kencing Unta, bumi datar, anti vaksin dan segala bentuk tafsir terhadap suatu fenomena tanpa ada landasan ilmiahnya, menjadi sesuatu yang tak masuk akal dan menciderai nalar waras kita yang telah diberikan oleh Allah Swt. Dalam kondisi yang seperti ini, peran agama yang mencerahkan nalar sangatlah ditunggu-tunggu.