Minggu lalu saya terkejut ketika mendapat notifikasi email dari Ellen May Indonesia yang memberi saya kesempatan untuk mengikuti seleksi interview. Menarik, kemarin itu saya apply posisi sebagai penulis.

Sebelum lanjut ke tahap berikut saya diharuskan membuat artikel mengenai Financial freedom, begitu dilematis karena saya harus menulis tanpa mengalami terlebih dulu bagaimana nikmatnya kebebasan finansial. Otomatis ketika membuat artikel itu saya melakukan research mengenai investasi, mulai dari reksadana, saham, obligasi maupun properti.

Ada temuan mengejutkan, ternyata minat investasi masyarakat Indonesia masih sangat minim. Hanya sekitar 1% (termasuk saya) masyarakat Indonesia yang melakukan investasi di reksadana, saham dll.

Kesimpulan yang saya dapatkan dari minimnya kesadaran masyarakat ialah karena minimnya akses informasi dan mitos. Mitos terkait resiko kerugian yang besar memang sudah dominan menguasai pola pikir masyarakat.

Jauh sebelum adanya panggilan interview dari Ellen May Indonesia, saya pribadi sudah memiliki rencana untuk melakukan investasi reksadana. Hasil dari research kemarin membuat saya berpikir untuk coba berinvestasi, dengan hitungan usia saya yang semakin menua, hal ini harus saya lakukan. Di USA, Poltak Hotradero mengatakan, "di sana masyarakatnya sudah beralih ke investasi reksadana." 

Ada kesadaran tersendiri untuk berinvestasi reksadana maupun saham karena tingkat inflasi di era milenium saat ini begitu cepat kenaikannya setiap tahun. Dengan asumsi gaji rata-rata sekitar 5 juta/bulan, menabung memang sudah bukan opsi terbaik lagi.

Khusus reksadana, kita bisa tenang karena adanya fund manager yang mengelola. Sebelum berinvestasi kita bisa pilih manager investasi dan kita harus pastikan manager investasi tersebut sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Investasi saham memiliki risk yang tinggi mengingat kita perlu belajar terlebih dulu sebelum berinvestasi. Mengikuti training dan workshop ke praktisi saham terkenal rasanya wajib dilakukan, karena investasi saham tidak dikelola fund manager, kita sendiri yang mengelola.

Saya belum memahami bagaimana alur kerja investasi saham atau reksadana, tapi saya ingin belajar. Mengingat mahalnya biaya pernikahan, kenaikan harga rumah dan tanah yang tidak wajar memaksa saya harus siap-siap untuk pusing mempelajari instrumen investasi.

"If you don't find a way to make money while you sleep, you will work untill you die."  Begitu yang dikatakan Warren Bufet, wajar-wajar saja dia bilang begitu, dia sudah kaya raya dan sudah mengerti strateginya yang jitu.

Sahabat saya pernah cerita pas mulai investasi reksadana, katanya selain bekerja memang kita harus menghasilkan income tanpa kita harus kerja (Passive income). Sekarang investasi dia sudah mulai menghasilkan untuk digunakan membeli apartemen di Jakarta.

Para praktisi saham dan reksadana mengatakan bahwa tingginya resiko dalam berinvestasi karena minimnya pengetahuan tentang investasi.

Saya ingin coba untuk memulai dan akan banyak menulis mengenai investasi reksadana dan saham. Teknik dasar, cara memilih instrumen saham dan kapan harus buy-selling. Ternyata asik juga kala bisa untung dari investasi, walaupun bakal sedih kalau sampai merugi.