Indonesia darurat kasus kekerasan seksual dengan banyaknya kasus yang terjadi. Kasus kekerasan seksual kini tak pandang tempat. Bahkan universitas dan pondok pesantren yang notabennya tempat pendidikan dan agama juga tak dapat dipungkiri dapat saja terjadi. Keberadaan tempat yang dianggap nyaman dan aman, sekarang tidak menutup kemungkinan menjadi celah para pelaku dalam melakukan aksi bejatnya.

Selain itu, kasus kekerasan seksual ternyata juga dapat terjadi bagi kaum laki-laki dan tidak hanya kaum perempuan saja yang menjadi korbannya. Lantas mengapa perempuan lebih sering menjadi korban kekerasan seksual?

Hal ini dikarenakan perempuan rentan dengan kekerasan seksual karena budaya patriarki yang masih kuat di Indonesia sehingga kaum perempuan dianggap sebagai kaum lemah yang dikesampingkan. Kasus kekerasan seksual juga banyak terjadi di ranah rumah tangga atau hubungan personal. Sementara itu, pelaporan kasus kekerasan seksual di Indonesia masih dianggap aib yang harus ditutupi.

Pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia bukanlah hal baru dalam problematika sosial di masyarakat namun semakin hari jumlah kasusnya semakin meresahkan. Baru-baru ini kasus kekerasan seksual mencuat di hadapan publik dengan kasus baru yang terus saja berdatangan. Padahal bisa saja kasus kekerasan seksual mungkin saja sudah terjadi sebelumnya dan mungkin masih banyak kasus yang tidak terlaporkan.

Hal itu seakan-akan membuat kasus ini pecah di hadapan media akhir-akhir ini dengan begitu banyak yang menjadi korban di berbagai tempat. Sebab mereka baru berani untuk speak up dan baru siap melaporkannya ke pihak berwenang.

Alasan lain karena para korban tidak memberanikan mengutarakan dan membela diri karena malu. Budaya masyarakat yang masih menutupi kasus kekerasan seksual akhirnya semakin membuat banyak korban yang tak terhitung jumlahnya serta kurangnya aturan penegakan hukum di Indonesia untuk melindungi para korban yang membuat semakin lemahnya payung hukum untuk melindungi perempuan. 

Pelaporan korban kasus kekerasan seksual yang masih takut dan memilih untuk merahasiakannya ke hadapan publik menjadi latar belakang pelaku dapat melakukan aksinya dengan mudah tanpa adanya campur tangan aparat berwajib untuk menjatuhkan hukuman.

Indonesia belum ada aturan hukum yang komperhensif yang dapat mengakomodir kebutuhan korban kekerasan seksual. Selain itu kesadaran kebiasaan dimasyarakat yang masih menempatkan korban kasus kekerasan seksual sebagai pihak yang memalukan.

Itulah yang masih menjadi pandangan kuat di Indonesia. Korban kekerasan seksual dianggap aib dan sesuatu yang harus ditutup rapat-rapat. Lalu siapa yang disalahkan dengan adanya kasus kekerasan seksual?

Sebaliknya masyarakat cenderung menyalahkan korban. Hal ini dikaitkan dengan kaum perempuan yang tidak dapat menjaga diri. Dengan alasan “Korban pakai baju apa?” Pakaian sering dikaitkan dengan sebab terjadinya kekerasan seksual karena mengundang nafsu. Apakah perkara pakaian bisa jadi alasan kekerasan seksual dapat terjadi?

Padahal tak dipungkiri dengan menutup aurat saja sebagaimana kasus yang terjadi di pondok pesantren, perempuan bisa saja menjadi korban. Padahal jika dipandang dari pemahaman perspektif perempuan, kekerasan seksual dapat saja terjadi kapan saja, di mana saja dan tanpa alasan. Justru otak pelaku yang perlu untuk dibenahi karena ketidaknormalan tindakan bejat yang mereka lakukan.

Sesama perempuan, sedih rasanya. Apalagi bagaimana perasaan korban? Kebanyakan korban kasus kekerasan seksual berakibat menyalahkan diri sendiri, depresi bahkan ada yang coba ingin melakukan bunuh diri. Wajar saja jika mereka mengalami hal tersebut dengan kejadian yang tak mereka harapkan. Rasa bersalah sudah pasti mereka rasakan. Mereka butuh semangat, pelukan dan dukungan. Mereka butuh bantuan dan support kita. Bukan nasehat, apalagi disalahkan.

Di tengah daruratnya kasus kekerasan seksual, sex education sudah seharusnya ditanamkan sejak dini baik melalui pendidikan formal maupun informal. Namun fenomena yang terjadi di Indonesia, agaknya masih timbul pro kontra di masyarakat, lantaran adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu karena sesuatu yang dianggap vulgar.

Masyarakat masih salah kaprah mengartikan tentang pendidikan seksual. Padahal seks itu artinya jenis kelamin yang membedakan pria dan wanita secara biologis bukan tentang hubungan seks. Selain itu, Indonesia perlu adanya aturan perundang-undangan yang memuat sanksi bagi pelaku kekerasan seksual untuk memperoleh hukuman seadil-adilnya dengan harapan dapat meminimalisir kasus kekerasan seksual agar tidak merajalela.

Para korban butuh bantuan penanganan dan pemulihan yang baik dengan adanya jaminan pelindungan dari negara. Mereka butuh perlindungan baik secara fisik maupun psikis untuk menjaga integritas dirinya serta tubuhnya.

Kasus kekerasan seksual bukan hal yang harus ditutupi dan bukan hal yang memalukan. Kita tidak bisa diam begitu saja dengan apa yang sudah terjadi. Kita punya hak asasi dan privasi yang tidak semuanya dapat kita publikasikan apalagi menyentuh pribadi. Sudah seharusnya Indonesia punya payung hukum yang kuat untuk menjamin keamanan perempuan.