Menjelang salat zuhur saya menyempatkan diri untuk mengoreksi tulisan yang sudah saya rampungkan di waktu malam. Jika Anda melihat saya sekarang, Anda akan berkata bahwa saya berada dalam posisi menulis. Atau “saya sedang menulis”. Tapi bagaimana kalau dalam saat yang sama Anda juga berkata bahwa “saya tidak sedang menulis”?

Anda mengatakan “saya sedang menulis”, tapi Anda juga yang mengatakan kalau “saya tidak sedang menulis”. Kewarasan Anda sudah patut dipertanyakan ketika itu. Karena dua pernyataan tersebut saling bertentangan satu sama lain. Dan dari sinilah hukum kontradiksi berlaku. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa dua hal yang bertentangan itu tidak mungkin terhimpun juga tidak mungkin terangkat.

Tidak bisa saya dikatakan menulis, tapi dalam saat yang sama saya juga dikatakan tidak menulis. Salah satu dari keduanya harus ada yang benar. Tidak ada pilihan ketiga. Imma saya menulis, atau saya tidak menulis. Makna “tidak menulis” ini cakupannya sangat luas; duduk, selonjoran, tidur, mandi, makan, minum, menonton, garuk-garuk, dan lain sebagainya, semuanya berada dalam cakupan “tidak menulis”.

Ketika saya dikatakan menulis, maka kontradiksinya ialah saya tidak menulis. Manakala yang satu benar, maka yang lain sudah pasti salah. Tidak ada pilihan yang ketiga. Itulah inti dari hukum kontradiksi. Adakah manusia berakal yang keberatan dengan rumusan kaidah seperti ini? Sejujurnya tidak akan ada. Apalagi kalau contoh yang dikemukakan adalah contoh sederhana seperti yang saya sebutkan di atas.

Tapi, dalam dunia filsafat biasanya ada saja. Para penganut filsafat materialisme-dialektis, sebagaimana dicatat oleh Baqir Shadr dalam Falsafatuna, termasuk orang-orang yang tak percaya dengan keuniversalan hukum itu. Kita tak punya banyak waktu untuk mengulas pandangan mereka dalam tulisan ini. Tapi anggaplah sekarang ada orang yang memang tidak percaya akan keuniversalan hukum tersebut.

Bagi yang bersangkutan, misalnya, bisa saja dua hal yang bertentangan itu saling terhimpun dan terangkat. Meskipun pandangan itu sangat sulit untuk kita terima, anggaplah sekarang yang bersangkutan menyertakan sejumlah argumen untuk mendukung pandangannya itu.

Lantas bagaimana kita membantahnya? Bantahannya sederhana saja. Kepada yang bersangkutan kita ingin bertanya: Apakah Anda meyakini pandangan tersebut sebagai pandangan yang benar? Anda mengatakan bahwa hukum kontradiksi itu tidak berlaku secara universal.

Oke, pertanyaannya: pandangan Anda itu benar atau salah? Tidak mungkin yang bersangkutan berkata salah. Sebab, pandangan itu sendiri dia kemukakan untuk membantah pandangan yang dia pandang salah, yakni pandangan yang menyatakan bahwa hukum kontradiksi itu bersifat universal.

Karena pandangan ini dianggap salah, konsekuensinya, pandangan yang dianutnya, yang merupakan kontradiksi dari pandangan tersebut, sudah pasti dipandang tidak salah alias benar. Artinya, dia sudah pasti yakin bahwa pandangan yang menyatakan “hukum kontradiksi itu tidak bersifat universal” adalah pandangan yang benar.

Dengan begitu, tanpa dia sadari, pengingkaran dia terhadap keuniversalan hukum kontradiksi, dan pembenaran dia atas pandangan yang kontradiktif dengan dirinya, sebetulnya merupakan bentuk pengakuan dia akan keabsahan hukum kontradiksi itu sendiri. 

Sebab, kalau tidak, tidak mungkin dia meyakini pandangannya sebagai pandangan yang benar, dan pandangan yang kontradiktif dengannya diyakini sebagai pandangan yang salah. Pengakuan dia akan kebenaran yang satu dan kesalahan yang lain merupakan pengakuan akan hukum kontradiksi itu sendiri.

Singkat kata, yang bersangkutan tidak memungkinkan keterhimpunan dua hal yang bertentangan. Dua pandangan tersebut tidak bisa dipandang benar duanya-duanya. Juga tidak bisa dipandang salah dua-duanya. Salah satunya harus ada yang benar. 

Dan manakala yang bersangkutan mengimani kebenaran pandangannya, dan menyalahkan pandangan yang kontradiktif dengannya, secara sadar atau tidak sebetulnya dia sudah mengakui keabsahan hukum kontradiksi itu sendiri.  

Karena itu, keuniversalan hukum kontradiksi sesungguhnya sangat sulit untuk kita ingkari. Karena dialah yang menjadi dasar utama dari seluruh produk pemikiran manusia. Masalahnya, yang mengingkari hukum kontradiksi itu sendiri kadang tidak paham dengan apa yang dimaksud kontradiksi, juga tidak paham dengan syarat-syaratnya.

Seringkali orang mengira dua pernyataan sebagai pernyataan yang kontradiktif, padahal kenyataannya tidak, lalu—dengan kekeliruan itu—dia mengambil kesimpulan bahwa hukum kontradiksi tidak bersifat universal. Kebanyakan orang-orang yang mengingkari hukum kontradiksi adalah orang-orang yang tidak paham dengan hukum dan syarat-syarat kontradiksi itu sendiri.

Hukum kontradiksi ini dilengkapi oleh dua hukum lain, yang juga sama-sama bersifat mutlak dan universal. Yaitu hukum identitas (qânûn al-Huwiyyah/law of identity) dan hukum terangkatnya kemungkinan ketiga (qânûn al-Tsâlits al-Marfû’/law of excluded middle). 

Jika hukum kontradiksi menolak keterhimpunan dua hal yang bertentangan, maka hukum identitas menyatakan bahwa sesuatu itu adalah dirinya sendiri.

A itu adalah A. B itu adalah B. Laptop itu adalah laptop. Buku itu adalah buku. Tidak bisa Anda mengatakan laptop sebagai buku. Juga tidak bisa Anda mengatakan buku sebagai laptop. Karena keduanya memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Tidak ada orang berakal yang bisa mengingkari hukum itu.

Terlihat bahwa kedua hukum tersebut saling melengkapi satu sama lain. Kalau sekarang Anda mengatakan “ini adalah laptop”, tidak mungkin dalam saat yang sama Anda mengatakan bahwa “ini juga bukan laptop” (hukum kontradiksi). 

Mengapa? Karena laptop memiliki ciri khasnya sendiri yang membedakan dia dengan sesuatu yang lain selain laptop. Imma sesuatu itu laptop, atau selain laptop. Salah satu dari keduanya harus ada benar, tidak ada kemungkinan ketiga. Dan inilah ketentuan yang termaktub dalam hukum terangkatnya kemungkinan ketiga tadi.

Manakala hukum kontradiksi hanya memberikan dua pilihan—yang satu positif dan yang lain negatif—maka konsekuensinya akal kita tidak memungkinkan adanya kemungkinan ketiga. Ungkapan lainnya, “tidak ada perantara antara dua hal yang bertentangan”. 

Hukum terakhir ini, yakni hukum terangkatnya kemungkinan ketiga, melengkapi dua hukum sebelumnya. Masing-masing dari ketiga hukum tersebut bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman. Mengingkari ketiganya sama saja dengan mengingkari akal sehat itu sendiri.

Keyakinan yang benar, atau pandangan yang benar, sudah pasti tidak akan bertentangan dengan ketiga hukum itu. Manakala kelak ditemukan satu keyakinan, atau mazhab, atau pandangan tertentu yang bertentangan dengan tiga hukum di atas, maka keyakinan, mazhab atau pandangan tersebut sudah pasti bukan keyakinan yang benar. 

Karena keyakinan yang benar tidak mungkin bertentangan dengan hukum-hukum akal, meskipun seringkali berkaitan dengan hal-hal yang berada di luar jangkauan akal. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.