Peneliti
2 bulan lalu · 175 view · 12 menit baca · Pendidikan 46799_97352.jpg

Apakah Etika Kita Akan Bergantung kepada Etika Orang Lain?

Karakter yang Beradab

Hartono Tasir Irwanto mengungkapkan gagasannya dalam materi “Karakter (yang) Beradab” mata kuliah Etika Profesi Guru, semester enam. Itu disampaikan di hadapan mahasiswa STIT AL Chaeriyah, Mamuju, Sulawesi Barat di café Resensi. 

Karakter beradab dijelaskannya dalam bentuk mind mapping. Semuanya dibagi ke dalam Pendahuluan, Mazhab-mazhab Etika, 24 Adab dalam 24 Jam, dan Penutup.

Pendahuluan

Awalnya, Hartono atau Tonton melakukan ice breaking dengan bertanya pada mahasiswa tentang perbedaan defenisi antara adab, etika, dan moral. Kemudian, Tonton memberikan penjelasan bahwa sebenarnya ada perbedaan penempatan namun makna yang ingin disampaikan hampir sama. 

Adab lebih kepada kebiasaan atau habit harian, etika cenderung pada pemaknaan filosofis, dan moral berhubungan dengan norma-norma pada masyarakat. Dengan referensi bacaan untuk kuliah hari ini, yaitu Falfasah Akhlak oleh Mutthada Mutthari, Etika dan Moral oleh Frans Magnis Suseno, dan Etika oleh K. Bertens.

Mazhab-Mazhab Etika

Pada bagian etika, dibagi lagi ke dalam mazhab-mazhab etika, yaitu materialisme Darwinisme, materialisme individualis, sosialis, rasionalis, dan kaum rasionalis Islam.

Materialisme Darwinisme atau teori Darwin menganggap bahwa etika adalah kemampuan untuk bertahan hidup atau adaptable. Orang yang paling beretika menurut Darwin adalah orang yang paling mampu bertahan hidup atau mampu mempertahankan kelangsungan hidup diri dan kelompoknya. 

Ketika orang bisa mempertahankan hidupnya maka dia beretika, ketika dia bisa mempertahankan diri dan kelompoknya, berarti dia beretika. Namun ketika dia membunuh diri atau kelompoknya sendiri, berarti dia tidak beretika.

Pandangan kedua dari kaum materialisme individualis yang diungkapkan oleh Bertrand Russell yang bertumpu pada teori berpikir pribadinya. Dalam bukunya, Russell menulis bahwa etika adalah kemampuan berbuat baik kepada orang lain karena orang lain tersebut berbuat baik kepada kita.

“Ini berdiri pada prinsip, saya tidak menyakiti Anda karena Anda tidak menyakiti saya. Saya tidak mencuri sapi Anda, karena Anda tidak mencuri sapi saya. Saya tidak mengganggu rumah Anda, karena Anda tidak mengganggu rumah saya. Saya tidak menyuruh Anda memilih Prabowo, karena Anda tidak menyuruh saya memilih Jokowi, misalnya,” kata Tonton memberikan contoh etika ala materialisme individualis.

Namun, lanjut Tonton, yang menjadi pertanyaan, apakah kalau orang lain berbuat baik kepada kita, kita menjadi baik juga? Apakah karena orang lain berbuat jahat, maka kita juga akan serta berbuat jahat? Apakah etika kita akan bergantung kepada etika orang lain kepada kita? 

Ketika kita diperlakukan baik, kita menjadi baik. Ketika diperlakukan jahat, kita menjadi jahat, sehingga etika kita bergantung pada perlakuan orang lain. Inilah kelemahan etika dunia Barat dalam materialisme individualis.

Etika yang ketiga dari kaum sosialis yang tokohnya adalah Erich Fromm. Menurut Fromm, etika adalah apa yang bermanfaat atau berguna bagi masyarakat. Jadi kalau kita lebih mengutamakan kepentingan masyarakat, itu dikatakan beretika.

Pertanyaan untuk Fromm dan kaum sosialis lain adalah, misalnya, hal hal yang berguna bagi masyarakat adalah hal-hal yang sifatnya politik praktis: apakah kita akan ikut serta pada hal-hal politik praktis tersebut? Apakah mayoritas menjadi jaminan bagi tegaknya sebuah moralitas? Apakah misalnya jika Jokowi menang nantinya sekitar 52% menurut survei pemilihnya itu lebih bermoral? 

Itu artinya, semua yang memilih Jokowi bermoral karena itu lebih mayoritas? Dan yang orang-orang yang memilih Prabowo sekitar 34% dan silent voters sekitar 32% dan golput sekitar 30% itu tidak bermoral? Artinya, mayoritas dan minoritas itu tidak berkaitan dengan moralitas.

Etika yang keempat adalah etika kaum rasionalis yang diwaklili oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, etika adalah upaya untuk mendahulukan ego universal dibanding dengan kepentingan partikuler yang lebih khusus.

Misalnya, ketika kita diperhadapkan pada ada kuliah jam sebelas dengan aktivitas main game. Namun kita lebih memilih berkuliah, maka kita lebih beretika karena kita lebih mengutamakan ego atau kehendak dan manfaat yang universal. 

Atau ketika kita diperhadapkan pada gotong royong untuk kerja bakti jam tujuh pagi atau kembali tidur sehabis subuh. Tapi, kita lebih memilih untuk bangun kerja bakti berarti kita beretika, atau bemoral karena kita lebih mengutamakan kepentingan yang lebih luas.

Misalnya lagi, kita mengalami konflik batin dalam kepentingan pribadi, diri sendiri. Saya harusnya membaca, namun suara hati kita yang lain menyuruh untuk main game. Tapi, ketika kita lebih memilih membaca, maka kita lebih beretika pada diri sendiri. 

Atau pilihan-pilihan sederhana seperti saya harus mandi, namun pilihan yang satunya mengatakan saya malas kalau harus basah. Tapi, Anda lebih memilih untuk mandi, berarti Anda beretika bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga lingkungan sekitar.


Tapi, kritik kita bagi kaum rasionalis, apakah etika ini atau moral ini hanya berlaku bagi manusia dalam artian diri kita sendiri? Apakah ini hanya nisbahkan pada diri kita sendiri atau kehendak-kehendak universal? Ego-ego yang universal? 

Misalnya, apakah kita mandi hanya untuk diri kita sendiri? Atau membaca hanya untuk diri kita sendiri? Hal ini kemudian melahirkan pandangan (etika) yang kelima.

Etika yang kelima, kaum rasionalis Islam. Mereka mengatakan ego itu harus kembali pada Allah SWT atau kehendak universal harus kehadapan-Nya. 

Misalnya, ketika kita diperhadapkan pada mandi atau tidak mandi, bukan semata-mata hanya karena kita ingin wangi, tetapi karena kebersihan adalah sebagian daripada Iman. Begitupun dengan kuliah dengan pilihan main game tadi. Bukan karena kuliah membuat absen kita terisi atau karena kita belajar, namun karena kuliah termasuk proses peribadatan mencari ilmu.

Ketika diperhadapkan, antara memilih Jokowi atau Probowo, namun kita lebih memilih Jokowi karena menurut kita Jokowi lebih dekat pada Allah SWT; lagipula wakilnya adalah ulama, atau sebaliknya kita memilih Prabowo-Sandi karena menganggap Jokowi mengkriminalisasi ulama. Silakan, dengan pilihan Anda masing-masing, namun dipertanggungjawabkan juga masing-masing.

Ketika kita diperhadapkan memilih kesenangan sesaat dengan berpacaran atau dengan mencoba memperbaiki diri, kemudian mencoba memapankan diri karena sesungguhnya memperbaiki diri membuat kita lebih dekat kepada Allah, berarti Anda beretika.

Etika dalam Islam disandarkan pada kehendak-kehendak Allah  SWT. Jadi, tidak dikatakan orang beretika ketika bertentangan dengan ego atau kehendaknya dengan Allah. 

Ketika kita disuruh salat lima waktu dalam sewaktu namun kita cuma salat satu kali, berarti kita telah bertentangan dengan kehendak Allah. Walaupun kita telah memenuhi seruan-Nya walau cuma sekali. Ketika Allah menyuruh menjaga lisan kita agar tidak menyakiti orang lain atau tetangga namun kita memilih melakukan hal tersebut, berarti kita tidak beretika.

Kesimpulannya, etika dalam Islam dinisbahkan pada kehendak Allah SWT yang termaktub dalam Alquran dan sunah rasul. Ketika kita dihadapkan pada pertanyaan, bagaimana kita bisa mengetahui kalau hal ini kehendak Allah? Kita kembali pada (ada) kitab suci Alquran, ada sunah rasul yang bisa direnungkan melalui akal sehat dan warasnya kita.

Kaitannya etika ini dengan Etika Profesi Guru, yaitu ketika nanti kita menjadi guru atau berprofesi menjadi guru, lalu kemudian mengajar semuanya diniatkan kepada Allah SWT bahwa pekerjaan saya adalah tanggung jawab bukan hanya kemanusiaan tetapi juga pada umat; karena kalau saya tidak mengajar, (akan) tidak ada lagi penyempurnaan dalam Islam.

Sehingga, tepatlah atsar dari Sayyidina Ali RA bahwa ketika seorang ulama atau pemikir meninggal dalam suatu umat atau generasi, maka dia  menyisakan lubang dalam tubuh umat tersebut. Dan lubang-lubang tersebut akan terus menganga lebar sebelum dia digantikan oleh kelahiran ulama-ulama atau pemikir-pemikir baru.

Menurut Tonton, umat kita, umat Islam, bangsa kita, bangsa Indonesia, mengalami lubang-lubang dalam tubuh kebangsaan bahkan keropos, sehingga bisa rubuh karena tidakhadiran ulama-ulama baru untuk menggantikan ulama-ulama yang telah mendahului kita. 

Makanya, kehadiran kalian sebagai para guru adalah berupaya menjadi penambal lubang-lubang dalam tubuh kebangsaan kita. Supaya tegak kembali tubuhnya umat, jadi etika profesi guru berbicara mengenai penambal lubang-lubang dalam tubuh umat yang akan menjadi pewaris-pewaris para nabi.

24 Adab dalam 24 Jam

Pada bagian ini, Tonton mengaku bahwa teori ini dibangunnya sendiri yang tidak akan didapatkan pada buku lain atau searching di internet. Teori adab yang dibangun membentuk Adab; lima (modal) adab, yaitu, 1) Spiritual, 2) Intelektual, 3) Fisikal, 4) Sosial, dan 5) Finansial, di mana keseluruhannya akan membentuk karakter sebagai seorang guru. 

“Ini nyambung dengan diskusi kita dalam materi dua minggu yang lalu bahwa tujuan dari pendidikan adalah untuk membentuk karakter yang beradab,” kata Tonton.

Menjadi seorang guru adalah bagaimana membentuk karakter yang beradab. Bagaimana kita menciptakan peserta didik yang beradab jika kita sendiri belum beradab karena mustahil memberikan tanpa memiliki. Ini adalah proses tanpa henti, never ending process

Maka, kita harus membentuk adab harian kita sendiri sebagai seorang manusia karena proses pembelajaran atau pendidikan di semua tempat. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah.

Dua puluh empat (24) jam itu adalah semua sumber-sumber keadaban yang mana adab harian ini ketika dikolektivasi menciptakan sebuah peradaban. Peradaban merupakan akumulasi dari adab-adab harian per individu. 

Akumulasi adab harian setiap individu menciptakan peradaban di masyarakat. Makanya, Rasul dikatakan sebagai uswatun hasanah atau menjadi contoh yang baik karena beliau bisa menciptakan peradaban.

Bahkan peradaban itu sendiri berasal dari kata tamaddun, yang melahirkan Madinah, atau kota yang beradab. Padahal dulunya Madinah itu bernama Yastrib. Namun, nama kota yang lebih kepada kota pra-Islam. 

Bagaimana menciptakan kota yang beradab? Berawal dari karakter individu yang beradab. Bagaimana menciptakan karakter individu yang beradab? Kita melihat apa yang orang (individu) lakukan setiap hari. Bagaimana mengukur adab seseorang dalam sehari-hari? Dengan melihat lima adab di atas.

Setiap kita memiliki dua puluh empat (24) jam yang sama, 1440 menit yang sama, 86.400 detik juga sama. Dua puluh (24) habit atau kebiasan harian yang bedanya dengan orang beradab dengan tidak tergantung pada pemanfaatan waktunya. 

Makanya,waktu adalah waktu yang paling berharga. Menurut Imam Hasan Al Basri, jika waktu berlalu sebagian dari kita juga berlalu bukan usia yang bertambah tapi berkurang.  

Pertama, pada adab spiritual yaitu shalat. Salat itu adab. Dalam surah Al Ankabut ayat 45 yang artinya sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Salat bukan sekadar ritualitas kepada Allah SWT dari Allahu Akbar sampai salam; salat membentuk adab sampai moral publik.

Cara mengukur diterima tidaknya shalatnya seseorang secara penglihatan manusia. Kita bisa melihat sejauh mana adabnya. Tonton kemudian mengkritik seseorang jika ada yang shalat lima waktu sehari semalam namun selalu menyinggung temannya hanya karena pilpres berarti salatnya belum benar.

Jika ada yang salat tapi korupsi impor dagang sapi, ketika ada yang salat tapi korupsi kotak haji, atau ada yang salat tapi melakukan penyuapan dana di Kemenag, berarti salatnya tidak benar.

Lalu dia menyatakan bahwa Munir, seorang aktivis HAM yang dibunuh, mengatakan dia tidak bisa membayangkan ketika Allahu akbarnya saya berbarengan dengan korupsi dan kolusi. Namun, bukan berarti saya menyuruh kalian tidak salat karena adabmu saja belum benar. Padahal, salat adalah adab spiritual yang paling fundamental.

Lalu ada mengaji sebagai bagian dari adab harian spiritual. Tonton bertanya, sudah seberapa berdebukah Alquran Anda? Kemudian dia mengajak untuk membaca Alquran bukan hanya sekadar membaca terjemahan bahasa Indonesia-nya namun juga tafsirnya. 

Bagaimana kita dikatakan umat Islam ketika kita jauh dari kehidupan Rasulullah? Juga ketika kita jauh dari Alquran dan Hadis?


Apakah pembeda kita sebagai umat Islam dengan umat lain? Yaitu mengucapkan dua kalimat sahadat. Bagaimana ketika kita berulang kali melakukan sahadat karena keimanan kita yang naik-turun. 

Tonton lalu mengatakan bisa saja di pagi hari kita beriman namun di sore hari kita tidak beriman. seperti lagunya Gigi, pagi beriman, sore lupa lagi. Jadi yang membedakan kita dengan umat lain adalah ketaatan kita pada Alquran dan meneladani Rasul.

Ketika ada yang beragama Islam tapi tidak mengamalkan Alquran, berarti cuma mengaku Islam. Lalu, selanjutnya, bagian dari adab spiritual adalah berzikir, berdoa, dan melakukan sunah atau amalan amalan sunah di antaranya puasa Senin-Kamis dan salat-salat sunah walaupun adab spiritual yang paling fundamen adalah salat.

Adab yang kedua adalah adab intelektual. Adab intelektual di antaranya; membaca, menulis, menyimak, mengajar, dan meresensi. Tonton mengajak, setiap hari kita harus konsisten membaca, menulis, dan lain sebagainya. Bukan karena kita kuliah atau disuruh untuk melakukan hal-hal adab intelektual di atas. 

Misalnya, kalaupun harus membuka atau menyimak di media sosial, sebaiknya membuka YouTube yang berisi ruang ilmu pengetahuan. Misalnya membuka-buka ceramah Gus Dur, Gus Mus, KH. Said Aqil Siradj atau Buya Syafii Maarif. Namun, bagi Tonton, adab intelektual yang paling fundamen adalah membaca.

Adab sosial sebagai adab yang ketiga contohnya adalah silaturahmi, bermedia sosial, membantu dan lain sebagainya. Bermain game sosial termasuk ke dalam adab sosial ketika dilakukan bersama karena dalam permainan game juga ada game sosial yang bermainnya berkelompok, ada interaksi namun kita membatasi waktunya. 

Silaturahmi adalah adab yang paling  fundamental. Silaturahmi berasal dari kata Silat yang berarti terhubung yang menyambungkan tali persaudaraan yang sempat terputus.

Contoh sederhananya, ketika kita mempunyai musuh namun kita duluan membuka komunikasi itu namanya silaturahmi, ketika kita menyapa mantan yang pernah sempat membuat gagal move on namun kita mengajak komunikasi yang bukan untuk balikan tapi menyambung silaturahmi. 

Ketika kita mengajak lawan politik yang memotong gerakan kita di organisasi namun kita mengajaknya untuk ngopi bareng, itu namanya silaturahmi. Inilah sebaik-baiknya adab sosial.

Pendapat Tonton pada adab keempat, adab fisikal. Adab fisikal itu banyak; ada olahraga, tidur, makan, dan mandi. Adab fisikal cenderung kepada fisik pribadi. Beradab pada diri sendiri dengan tidak menzalimi diri (tubuh). Dan yang paling terbaik adalah melakukan olahraga secara rutin. Sedangkan, Nabi SAW juga menganjurkan untuk memanah dan berkuda.

Adab yang terakhir yang kelima adalah adab finansial. Bekerja, menabung atau memenej keuangan dengan berinvestasi. Memeras keringat sendiri adalah etika. Sebaik-baik adab finansial adalah bekerja secara halal walaupun sekarang mencari uang haram saja susah apalagi mencari uang halal. Menurut Nabi SAW, sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah berdagang.

Penutup

Adab, etika, atau moral itu adalah upaya atau ikhtiar yang mendahulukan kepentingan (ego) atau kehendak universal diatas kepentingan (ego) atau kehendak partikuler. Kehendak yang paling universal dalam Islam adalah berdasarkan kehendak Allah SWT.

Beradab, beretika, dan bermoral itu identik dengan jalan derita. Kita pasti akan lebih banyak menderita. 

Siap-siaplah menderita jika kita mau nanti memiliki karakter yang beradab. Tinggal, bagaimana kita menggeser paradigma atau defenisi penderitaan adalah sesuatu yang baik-baik saja. Penderitaan itu adalah suatu proses atau derita adalah jalan sementara dan kebahagiaan adalah tujuannya.

Jadi, untuk mendapatkan kebahagiaan, kita harus banyak-banyak menderita. Akumulasi dari derita melahirkan kebahagian nantinya. Sebaliknya, akumulasi kesenangan sesaat sementara akan melahirkan kesengsaraan. 

Misalnya, pacaran yang lama dengan hanya bersenang-senang tanpa memikirkan masa depan untuk menikah akan membuat kesengsaraan. Sedangkan, ketika kita bekerja dan menabung untuk mengumpulkan uang panai’, konsep uang mahar Sulselbar misalnya, kita akan menikah, penderitaan yang memberikan kebahagiaan.

Begitupun dengan lima adab harian ini. Adab spiritual, salat. Siapa sih yang kuat salat? Bangun subuh-subuh untuk melakukan ibadah. 

Salat merupakan jalan derita menuju kebahagiaan karena setelah salat kita merasakan kebahagiaan spiritual. Tidak ada yang suka membaca, namun kita harus membaca sebagai jalan derita untuk menuju kebahagiaan intelektual. Tidak ada yang mau bersilaturahmi dengan menghubungi musuhnya. Namun, kita tetap harus silaturahmi, karena silaturahmi merupakan jalan derita menuju kebahagiaan sosial. 

Siapa yang cinta dengan olahraga? Tidak ada, lebih enak nongkrong, ngopi dan merokok. Namun, kita harus tetap berolahraga karena berohraga adalah jalan derita menuju kebahagiaan fisikal. 

Siapa yang menikmati bekerja secara halal atau pergi ke kampus berpanas-panas atau pergi mengajar untuk menguras keringat. Padahal, lebih enak tiduran di rumah sambil membuka medsos. Bekerja secara halal adalah jalan derita menuju kebahagiaan finansial.

Itu artinya, seluruh jalan-jalan derita kita menciptakan kebahagiaan dan membentuk karakter yang beradab. Namun, ketika ada pertanyaan saya tidak mendapatkan kebahagiaan dengan salat, membaca, bersilaturahmi, berolahraga, dan bekerja? Cuma kesemuan yang saya dapatkan. Mungkin, tidak ikhlas, tapi, yakinlah bahwa ketika kita tidak mendapatkannya di dunia, kita akan mendapatkannya di akhirat.

Seperti pesan dari belakang truk yang tertulis: “Dunia sementara, akhirat selamanya”. Karena sesungguhnya, dunia adalah jalan derita sedangkan akhirat adalah kebahagiaan yang hakiki. Berarti untuk menjadi beradab, beretika, dan bermoral bagi profesi guru adalah lebih banyak meluangkan waktu untuk menciptakan karakter yang beradab bagi peserta didiknya.

Menciptakan karakter peserta didik yang beradab sebelumnya dimulai dengan menciptakan seorang guru yang beradab. Jadilah sebagai seorang kaum yang terdidik di mana segala tindakannya menjadi sumber pendidikan bagi murid-muridnya. 

Maka, selamat menderita untuk menuju jalan kebahagiaan dan selamat bahagia dalam penderitaan.


Artikel Terkait