Penulis
1 tahun lalu · 572 view · 4 menit baca · Filsafat 46262_78157.jpg
blogscoopit

Apakah Epistemologi Itu Penting?

Seluruh dimensi kebenaran yang pernah diperbincangkan oleh umat manusia dalam sepanjang sejarah, pasti menuai sekaligus memiliki landasan epistemologi. Dimensi kebenaran itu sangat beragam dan ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk sampai kepada dimensi kebenaran tersebut.

Sifat khas dari sebuah rumusan kebenaran adalah terletak dari bagaimana kebenaran itu dapat diketahui secara pasti, kertimbang secara langsung berbicara tentang kebenaran dalam dirinya sendiri. Dalam artian bahwa kebenaran tidak akan memiliki arti apa-apa jika cara yang ditempuh untuk sampai kepada kebenaran tersebut tidak pernah menjadi pertimbangan yang matang, pada posisi inilah epistemologi sangat penting dalam seluruh kajian filsafat, ilmu pengetahuan, serta kajian agama.

Epistemologi merupakan salah satu cabang dari filsafat yang secara khusus berbicara tentang teori-teori pengetahuan, atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa epistemologi adalah cara bagaimana kebenaran (sebagai isi dari pengetahuan) dapat diketahui secara pasti dan dapat diterima oleh individu ataupun masyarakat secara luas. Tugas penting epistemologi adalah bagaimana sebuah kebenaran dapat dipertanggungjawabkan dalam konteks cara pemerolehan kebenaran tersebut.

Jika karakter pengetahuan itu bersifat empiris, maka landasan epistemologinya adalah indra, dan seluruh kebenaran yang bersifat empiris selalu saja bertitik tolak pada segala sesuatu yang memiliki akar-akar indrawi.

Sementara ada bentuk kebenaran yang tidak melulu berhubungan dengan kenyataan faktual atau empiris, seperti konsep-konsep, matematika, dan beberapa bentuk ilmu eksakta yang secara langsung tidak memiliki hubungan dengan kenyataan empiris, di sinilah pentingnya akal pikiran untuk merumuskan dan memahami kebenaran dari pengetahuan konseptual itu sehingga ia dapat diterima sebagai salah satu bentuk kebenaran.

Sementara itu, pengalaman kebudayaan manusia secara keseluruhan juga memberikan satu bentuk pemahaman baru tentang arti sebuah kebenaran, yakni dalam konteks kebenaran agama. Agama tidak selalu berkaitan dengan teks dan konteks, ia yang lebih penting adalah soal kepercayaan, justifikasi terhadap sikap kebenaran agama seringkali tidak dapat dimengerti oleh kebenaran yang bersifat empiris maupun rasional.

Kebenaran agama seakan-akan membentuk cara pandang tersendiri tentang apa arti kebenaran yang terlepas dari dimensi pengetahuan alamian manusia, yang lebih ditekankan dalam konteks kebenaran ini adalah sebentuk pengalaman keagamaan yang disebut intuisi, atau pengalaman langsung yang bersifat ilahiah.

Intuisi adalah pengalaman metafisik yang bersifat transpersonalisme di mana individu kadang-kadang tidak punya kehendak akan pengetahuan tersebut, namun seakan-akan ia hadir sebagai bentuk kebenaran yang diterima.

Dalam konteks kebenaran agama, kepercayaan, intuisi, dan pengalaman keagamaan adalah bersifat objektif-inter-subjektif, artinya bahwa yang kebenaran agama adalah bersifat objektif, namun pengalaman terhadap kebenaran agama tersebut selalu saja bersifat subjektif dan saling mengikat antara satu subjek dengan subjek yang lain, khususnya yang memiliki satu keyakinan yang sama.

Di atas, telah diberikan tiga contoh penting bagaimana epistemologi bekerja dalam tiga wilayah kebenaran yang selalu menjadi bagian penting dari wawasan pengetahuan umat manusia.itu artinya bahwa seluruh dimensi pengetahuan, yang bermacam-macam, selalu membutuhkan apa yang disebut sebagai landangan kebenaran atau cara-cara jitu bagaimana kebenaran itu dapat sampai dan diterima secara bersama.

Kadang-kadang, para ilmuwan tidak pernah berfikir bagaimana kebenaran yang mereka cari dan peroleh itu juga merupakan persoalan epistemologi yang cukup rumit. Memang, tidak sulit untuk menetapkan dan memilah-milah mana kebanaran yang bersifat faktual dan mana yang tidak, namun persoalannya menjadi lain ketika kebenaran faktual atau pengalaman empiris tersebut adalah benar-benar bersifat objektif tanpa ada persepsi atau pengaruh apa-apa dari subjektifitas para ilmuwan, pada wilayah inilah seringkali problem epistemologi ilmu pengetahuan menjadi pelik.

Dalam mengatasi problem pelik di atas, adalah tugas epistemologi yang dapat memecahkan persoalan intinya. Epistemologi, sebagai cara bagaimana kebenaran itu diperoleh, bukan melulu soal filsafat, meskipun ia adalah disiplin khas filsafat, sebagai tolak ukur dalam mengakaji segala sesuatu, epistemologi penting bagi seluruh dimensi pengetahuan dan kebenaran, sebagaimana diberikan tiga contoh kebenaran di atas, epistemologi juga bekerja dalam wilayah kebenaran ilmu pengetahuan, filsafat, dan sekaligus agama.

Adanya epistemologi dapat dijadikan tolak ukur untuk mengetahui bagaimana kebenaran itu dipahami dan diterima sebagai kebenaran, dan bagaimana kesalahan itu juga dipahami sebagai kesalahan, tanpa melecehkan satu sama lain, tetapi bersikap secara apa adanya berdasarkan akal budi manusia yang dimiliki.

Dapat dikatakan bahwa tidak ada metode atau teori yang baku dalama studi filsafat atau dalam berfilsafat, namun melalui studi epistemologi, kita menjadi tahu di mana batasan kebenaran filsafat dan bagaimana kebenaran filsafat dapat ditempuh dan dicapai, hal itu juga berlaku bagi segenap ilmu pengetahuan berserta batasan-batasannya, serta posisi kebenaran agama dihadapan filsafat dan ilmu pengetahuan.

Meski epistemologi adalah kajian khas yang dimiliki filsafat, ia juga sekaligus cara bagaimana seluruh dimensi kebenaran yang diperbincangkan manusia dapat diterima secara meyakinkan. Pada wilayah ini, menjadi jelas bahwa epistemologi selalu saja menjadi prinsip dan landasan paling penting untuk sampai kepada kebenaran.

Beberapa kriteria penting dalam epistemologi umumnya dipahami sebagai segala sesuatu yang memiliki kesesuaian antara konsep-konsep dan fakta-fakta, antara teori dan praktik, antara teks dan konteks, dan seluruh kriteria tersebut merupakan problem primordial yang dihadapi oleh manusia untuk sampai pada bentuk kebenaran apapun yang sempat dan akan mereka kaji dan wacanakan.

Kebenaran itu beragam, banyaknya kebenaran merupakan implikasi terhadap adanya ilmu pengetahuan yang banyak, banyaknya ilmu pengetahuan merupakan hasil perkembangan dan dialektika antara manusia dan alam, hasil dialektika tersebut menghasilakan pengetahuan baru sekaligus kebenaran-kebenaran baru yang mau tidak mau harus diterima secara konsensus jika kebenaran tersebut sudah menjadi hokum universal dan secara khusus jika kebenaran tersebut dapat memberikan manfaat bagi umat manusia.

Dalam ilmu pengetahuan sains, kebenaran kadang-kadang tidak identika dengan fakta-fakta atau bentuk kebenaran yang paling objektif, sesuai dengan landasan epistemologinya, tetapi yang juga penting adalah bahwa kebenaran sains tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia, karena kebenaran ilmu pengetahuan itu berkembang sesuai dengan kemajuan dan hal-hal baru yang dapat ditemukan.

Sehingga, dapat disimpukan bahwa epistemologi merupakan satu-satunya cara yang dapat dijadikan tolak ukur dalam menentukan kebenaran. Ada banyak kebenaran dan ada banyak cara untuk sampai kepada kebenaran, maka antara metode dan isinya tidak bisa lepas satu sama lain, pengetahuan selalu terikat dengan asal-usulnya, dan epistemologi juga terikat dengan karakteristik kebenaran yang sedang berada dihadapannya.

Sehingga dua-duanya sangat penting bukan saja tentang persoalan kebenaran, tetapi juga bagaimana kebenaran tersebut dapat memberi makna dan manfaat bagi kehidupan umat manusia secara keseluruhan.