1 tahun lalu · 2014 view · 7 menit baca · Pendidikan 40178.jpg
www.yukepo.com

Apakah Dunia Runtuh tanpa Skripsi?

Memikirkan Ulang Penting Tidaknya Skripsi

Hei mahasiswa, apakah kalian pernah berfilsafat, bagaimana akhir dari perjalanan akademik kalian? Kalian, makhluk lemah tanpa kuasa, tiap hari dirancang untuk menjadi robot daging, manusia-manusia digantung pada sistem pendidikan.

Dengarkan baik-baik. Manusia adalah ras bebas, merdeka dan tidak sepatutnya tunduk pada siapa pun kecuali pada kehendak diri sendiri. Untuk menjaga supaya manusia yang kuat tidak menindas, maka kehendak masing-masing orang berbatas sebatas orang lain tidak terganggu. Itu artinya, jangan melakukan yang Anda tidak ingin orang lain melakukannya padamu.

Bebas dan merdeka, butuh rasionalitas. Rasio diperlukan, agar manusia mampu menghadapi tantangan hidup. Untuk menjaga akal merdeka kita makin tajam, kita butuh nasihat dan ajaran orang lain yang dianggap akalnya sudah lebih tajam ketimbang kita. Di atas muka bumi, ada tempat-tempat tertentu yang menyediakan jasa penajaman akal, yang biasa disebut ‘’Sekolah’’.

Manusia dari dahulu kala, ada yang lemah, ada yang kuat. Kekuatan tidak hanya diukur dari fisik, tapi juga kemampuan pikir, ekonomi, politik, militer maupun kebudayaan. Karena ada ketimpangan, maka kebudayaan manusia pun berjalan tidak setara. Dalam kaitannya dengan tempat khusus yang menjual jasa penajamanan akal, yang disebut ‘’sekolah’’, hierarkisitas pun tidak dapat dihindari.

Karena hierarkis, secara otomatis, sekolah juga berstruktur. Dalam tingkatan tertinggi, biasanya disebut ‘’Universtas’’. Di Universitas itulah, banyak jasa penajaman akal dijual bebas, meski dengan biaya yang mahal. Ada jasa penajam akal yang khusus memikirkan tentang pengolahan makhluk hidup, nama jurusannya ‘’Bioteknologi’’.

Ada yang khusus menajamkan akal di bidang politik, biasanya disebut ‘’Ilmu Politik’’. Biasanya dimasukkan ke dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik alias FISIP. Selain contoh di atas, ada banyak penjualan jasa penajaman akal. Ada di bidang Hukum, Teknik, Ekonomi, Bahasa hingga Jasa yang menawarkan akal untuk tajam di bidang analisa kejahatan, misalnya Kriminologi.

Untuk nama-nama jurusan, kalian lebih tahu daripada Saya. Intinya begini, wahai manusia yang berakal merdeka, dengan syarat-syarat tertentu, asal kalian punya uang, kalian bisa membeli jasa penajaman akal kalian di Universitas (kuliah). Tanpa uang kalian, Universitas sebagai tempat penjualan jasa, pasti bangkrut. Itu artinya, subjek pendidikan bukanlah sekolah, tapi Siswa dan Mahasiswa.

Karena kita (mahasiswa), memegang kunci bangkrut atau tidaknya Universitas, maka harusnya kekuasaan tertinggi Universitas adalah dipegang segenap mahasiswa, bukan Pimpinan Kampus. Kita sebagai Investor, sebagai yang punya uang, sebagai penggerak operasional Universitas, butuh aturan dalam mengawal kegiatan pembelajaran, maka peraturan pun harusnya disusun oleh kita, mahasiswa.

Mungkin kita sadar, tapi adik-adik kita mahasiswa baru, tidak. Pertama kali mereka masuk Kampus, mereka sengaja tidak disadarkan terlebih dahulu oleh Kampus. Mereka sengaja dibiarkan tenggelam dengan pola pikir lama, seragam dan pasif. Akhirnya mereka menerima begitu saja peraturan kampus, dan bahkan bila menjumpai kebobrokan, mereka tak punya nyali untuk meneriakkan kebenaran.

Kita yang mempunyai saham terbesar dalam pengelolaan Universitas, nyatanya malah menjadi kelompok yang paling lemah pada tataran civitas akademika. Padahal, kalau kita mau kompak dan solid, misalnya kita memboikot bayaran kampus, maka dalam tiga bulan, kampus akan bangkrut, dan sekrup tenaga Pengajar, Staf dan Pekerja di sistem, akan lumpuh karena tidak digaji.

Kekuasaan tertinggi dalam menjalankan Kampus, harusnya ada di tangan kita, mahasiswa. Tapi kenapa terbalik? Kenapa malah Rektorat yang memiliki kekuasaan tertinggi? Apakah tanpa Rektorat, Kampus bisa berjalan? Bisa! Karena pembelajaran hanya dibutuhkan seorang Dosen dan para mahasiswa. Tanpa Rektorat sekalipun, tidak akan ada gonjang-ganjing apa pun, asal mahasiswanya bayar tiap semester.

Kalian mahasiswa, yang punya uang dan Pemberi nafas Universitas agar tetap hidup. Peraturan dan cara menjalankan kegiatan perkuliahan, harusnya mahasiswa yang berkuasa. Hal-hal diatas tersebut, kita kalah dan dipecundangi padahal kita yang mengeluarkan uang. Dan barangkali uang kita adalah hasil dari keringat orang tua kita tersayang. Entah yang Pekerja di pabrik, Nelayan, atau Petani di desa.

Oke, kita kalah pada hal-hal di atas. Sekarang kita harus bertanya pada judul di atas. Sistem menyuruh kita menyelesaikan Tugas Akhir, tapi kenapa kita mesti melakukannya? Apa gunanya kita menyusun skripsi? Apakah tanpa adanya skripsi, dunia akan runtuh dan peradaban Negara kita bakal ambruk? Kalau jawabannya ‘’iya’’, berarti ketika skripsi dibuat, negeri ini maju pesat? Apakah faktanya demikian?

Sudah ada lebih dari tiga puluh orang, dari lima belas Kampus yang Saya amati dan wawancarai. Mereka mahasiswa tingkat akhir, hidup dengan narasi yang menyedihkan. Dengan uang saku yang tidak seberapa, mereka bergadang sepanjang malam. Ada yang berkutat dengan buku, diskusi dengan teman, ada pula yang memantengi komputer sepanjang malam hingga matanya mirip Panda.

Saking tertekannya, sampai-sampai pola makan mereka tidak teratur. Banyak bergadang, pola makan kacau, ngopi, tertekan, banyak beban dan hidup mirip budak, tentu membahayakan nyawa seorang Pemuda. Tidak jarang, ada yang jatuh sakit, bahkan beberapa meninggal karena kebanyakan beban hidup. Ada yang meninggal pasif, ada yang meninggal aktif, misalnya bunuh diri.

Bergadang, tidur kurang, bangun pagi, kena macet, belum sarapan, mata ngantuk, kelopak hitam, bergelut dengan kekacauan lalu-lintas, penampilannya pun kacau. Sesampainya di Kampus, harus menunggu Dosen Pembimbing yang gayanya sering kali feodalis. Saya tidak tahu, apakah etika menjadi Dosen Pembimbing itu harus sok, jual mahal, gaya’, bila ditelepon tak diangkat dan kalau dichatting, dibaca doang.

Responden yang Saya tanyai, kebanyakan tidak tahu betul apa gunanya skripsi dan mengapa harus membuat naskah penelitian yang akhirnya hanya akan teronggok di pojokan gudang. Mereka mulai bertanya, apakah menyusun skripsi masih menjadi sesuatu yang relevan dalam dunia yang lebih membutuhkan kreativitas, ketimbang standar formal berbasis gelar.

Menurut responden, yang kebanyakan adalah sahabat-sahabat saya sendiri, jarang sekali mereka mengunakan idealisme dalam menyelesaikan skripsi. Kebanyakan, memilih cara untuk tunduk dan patuh apa pun kata Dosen Pembimbing. Semua demi satu hal, ‘’skripsi cepat kelar!’’.

Karena tujuannya tidak benar-benar meneliti, untuk mencari kebenaran ilmiah, maka, lebih dari 80% responden menggunakan trik dan strategi yang meskipun bertentangan dengan nurani, mereka lakukan demi satu hal, yaitu ‘’di-acc’’. Karena terlalu concern pada hasil akhir yang muaranya adalah sidang-lulus-ijazah, maka, trik-trik menggelikan pun dipakai.

Responden yang saya wawancarai, tidak semua aktif di Organisasi. Dan tentu saja, beberapa tidak mengenal para Pemikir strategi-taktik dunia. Kebanyakan tidak pernah mengenal dan membaca 33 Strategi Perang Sun Tzu, atau Il Prince karya Nicollo Machiavelli, atau Tokoh lain seperti Mao Tse Tung atau pengalaman Bursah Zarnubi.

Minimnya pengetahuan mereka tentang strategi dan taktik perang, membuat trik yang diterapkan amat menyedihkan. Untuk mendapat tandatangan Dosen Pembimbing, ada yang jauh-jauh hari sama sekali nurut dan tidak membantah sedikit pun ketika dibimbing (meski dalam nalar, banyak pernyataan si dosen yang tidak disetujui).

Ada yang lebih suka membawa oleh-oleh penganan, ada yang pura-pura main ke rumah, lalu ikut bermain-momong anaknya Si Dosen. Ada yang rajin menawarkan antar-jemput dosen ketika hendak mengajar. Ada yang belajar silat lidah, ilmu ngeles, menjilat, dagelan hingga pujian. Semua dipraktikkan ke Dosennya saat waktu bimbingan tiba. Segala cara dipakai, meski beberapa dengan cara naif.

Karena persetujuan dan kebenaran yang direstui oknum Dosen kebanyakan bukan faktor objektif, dan lebih banyak karena faktor like and dislike, tidak enak, puas mengerjai dan kasihan, maka kualitas kebenaran objektif dalam skripsi adalah dipertanyakan.

Objektivitas keilmuan, harusnya tidak dicampur dengan hubungan emosional dan kedekatan sosial, karena semua itu tidak ada kaitannya dengan peradaban IPTEK yang menopang kemajuan Negara.

Skripsi yang digadang-gadang menjadi penopang utama pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, nyatanya tidak lebih berisi intrik yang motif awalnya bukan pencarian kebenaran ilmiah, tapi sidang-lulus-ijazah. Karena skripsi tidak lagi memuat esensi objektivitas, maka tidak berisi teori ilmiah. Tapi catatan cerita antara mahasiswa dengan Dosen Pembimbingnya yang diberi sampul ‘’skripsi’’.

Kedekatan emosi dan cerita babak-belurnya mahasiswa tingkat akhir mengikuti permainan Dosen Pembimbingnya, tidak ada sangkut-pautnya dengan kemajuan teknologi suatu Bangsa. Ketika sistem pendidikan menerapkan wajib menyusun skripsi, dengan dalih bahwa itu dibutuhkan untuk pembangunan Bangsa, maka ada kecacatan dalam parktik dan terjadi ketidakrelevanan yang menga-nga.

Sudah terbukti, dengan adanya jutaan Mahasiswa tingkat akhir menyusun skripsi, tidak membantu secara signifikan kemajuan teknologi di Indonesia. Padahal, dalam proses yang namanya skripsi, ada ribuan kasus di mana seorang anak manusia (mahasiswa), diperlakukan hina, tidak penting, rendah, dikerjai, diabaikan, tertekan, dipermalukan dan ditindas oleh orang yang katanya ‘’Guru Pendidik’’.

Karena skripsi tidak secara signifikan meningkatkan kebudayaan IPTEK, maka, penghapusan skripsi dalam proses akhir kelulusan mahasiswa, tentu tidak akan membuat Indonesia merosot. Justru dengan adanya skripsi, mahasiswa yang memang motif awalnya bukan meneliti dan mencari kebenaran ilmian namun harus menyelesaikan skripsi, cenderung menggunakan segala cara untuk mengatasinya.

Karena skripsi adalah dipaksa sistem, dipaksa pelan-pelan dari luar diri mahasiswa, maka tidak ada keikhlasan. Pemaksaan melahirkan beban dan ketidaktulusan. Beban yang tidak disukai tapi wajib dilalui, cenderung akan diatasi dengan berbagai cara. Termasuk dengan kecurangan, intrik, suap hingga plagiasi. Maka, sebenarnya kenapa korupsi di Negeri ini merajalela, adalah karena adanya Skripsi.

Kebiasaan curang, tidak jujur, plagiasi dan suap dalam masa-masa berat memalui proses skripsi, mempengaruhi cara berpikir dan perilaku mahasiswa di Indonesia. Perilaku yang dilakukan banyak orang selama bertahun-tahun, melahirkan kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif dalam jangka panjang, akan membudaya, dan akhirnya menjadi kebudayaan yang terinternalisasi.

Maka jangan heran, ketika para Mahasiswa tersebut lulus dan mengisi banyak bidang dalam kehidupan bernegara, muncul manusia-manusia yang dalam dirinya ada susunan perilaku curang, bohong, plagiaris dan menghianati proses. Dan dapat kita tebak bersama, hasil akhirnya seperti apa. Maka, ketika mereka menjadi Pejabat, dalam dirinya mengandung ketidaktulusan dan ketidakjujuran.

Bila hari ini, Indonesia masih menempati daftar Negara yang paling korup, maka ya bisa kita tebak salah satu asal-usulnya dari mana. Untuk menekan angka korupsi dan membebaskan Bangsa kita dari kebudayaan tidak jujur, mari bersama-sama kita tolak yang namanya ‘’Skripsi’’.