“Segala apa yang diperintahkan kaum laki-laki adalah benar.” ( George Orwel)

Banyak perselisihan dalam rumah tangga, itu karena 100 % campur tangan istri. Laki-laki tak bisa memegang kendali sebagai peranan tugas dan tanggung jawab besarnya. Titik! 

Masalahnya adalah apakah kita salahkan perempuan atau laki-laki. Jika tugas dan fungsinya seorang perempuan mengambil alih peran dan kewenangan seorang laki-laki? Itu dulu pertanyaannya saya.

Sebab sepengetahuan saya, tugasnya laki-laki adalah memimpin, mengatur dan membina seorang perempuan untuk taat dan tunduk pada perintah. Bukan malah sebaliknya perempuan yang mengatur-ngatur peran suami agar tunduk dan taat pada tugas perintah seorang istri.

“Perempuan itu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu laki-laki lebih suka merangkak dalam hidup” (Jalaluddin Rumi).

Karena dalam perspektif sejarah dan agama manapun, tak ada konstruksi hukum yang berhak mengintervensi urusan laki-laki. Sebab laki-laki adalah "kehendak mutlak" atas kebebasan keperempuanan "bersandar".

Istri minta jatah; suami beri, istri minta makan, suami kasih dan istri minta baju, suami beli. Segala urusan yang menyangkut kebutuhan dan keperluan seorang istri. Itu wajib hukumnya suami turutin. Kalau tidak, dipastikan tugas, tanggung jawab dan kewenangan seorang laki-laki akan di dominasi oleh kaum wanita.

Itu bahayanya patriarki bagi kaum laki-laki. Jika perempuan banyak maunya. Tentu laki-laki harus taat perintah dan tunduk pada larangan. Karena mau tidak mau. Dominasi kaum perempuan terhadap kehendak bebas kaum laki-laki itu jauh lebih bahaya daripada bahaya narkoba dan kekerasan.

Bayangkan saja, ketika aktifitas dan pekerjaan laki-laki diambil alih oleh seorang perempuan. Apa yang akan terjadi? Mungkin sebagian besar perkelahian sengit dan perbedaan pendapat antara kaum perempuan dan laki-laki itu tak akan bisa terbendung. Karena dengan alasan apapun, kalau tikus mencuri makanan kucing. Sampai ke lubang semutpun pasti ia akan kejar.

“Tidak ada dunia yang diciptakan yang merintangi jalannya guntur”. (Holderlin)

Apalagi kaum perempuan, kalau ia sudah haus dengan kekuasaan, materi dan kekayaan. Laki-laki akan jadi budaknya, korbannya. Bahkan pembantu sekalipun. Tak ada model alasan bagi seorang laki-laki. Kalau sudah jadi korban, budak dan klienya. Semuanya jadi sahabat, asalkan diantara keduanya itu saling mengerti dan melengkapi.

Perempuan belum dikatakan mengerti dan sempurna, jika metode laki-laki belum terisi secara sempurna. Demikian laki-laki belum dikatakan merdeka, jika tak ada dorongan perempuan secara utuh. Karena bagi Bung Karno; dibalik kesuksesan seorang laki-laki, ada seorang wanita hebat dibelakangnya.

Kita tak tahu, betapa power-Nya kaum perempuan, sampai ia cerdas mengendalikan laki-laki. Laki-laki yang seharusnya punya sikap kesatria dan merdeka. Itu dengan getolnya dipropaganda oleh kaum perempuan.

Baca Juga: Oh, R.A Kartini

Padahal jika laki-laki mau sedikit jujur secara intelektual. Tidak ada hak dan kebebasan mutlak bagi seorang perempuan mengikut campur dalam urusan kemerdekaan laki-laki. Sekalipun bapaknya yang melarang. Maka ia tetap harus melanggar. Sesuai konstruksi hukum dan perintah agama. Bahwa peran besar seorang laki-laki adalah bagaimana menyelamatkan seorang perempuan di atas penindasan kaum laki-laki.

Jelas, perempuan menilai bahwa penindasan ini adalah bentuk penyelewengan bagi kekuasaan kaum laki-laki. Di perempuan tidak begitu. Justru yang punya peran, dugaan dan fungsional kuat terhadap laki-laki. Itu adalah karakter dan pembawaan keras dari pikiran dan rahim seorang perempuan.

Laki-kaki tak paham, apa bahaya-Nya, jika tugas dan tanggung jawab besar seorang suami melayani istri? Yang ia mengerti bagaimana menikmati produk jualan istri. Tak peduli apakah jualan istri laris atau tidak, yang penting dapat bernegosiasai. —Sampai sudah pada klimaknya.

Perlakuan itulah penjajahan kelas pada kaum-kaum perempuan. Menyetubuhi wanita dengan tanpa suatu ikatan yang sah. Itu dapat memicu ketegangan, perselisihan dan pertikaian yang besar terhadap peran, tugas dan fungsinya seorang laki-laki.

Karena bahaya-Nya seorang laki-laki, ketika perempuan memonopoli dan menguasai kehendak dan kebebasan kaum laki-laki. Dalam hal memimpin keluarga, membina rumah tangga, dan mengatur tugas anak. Itu sangat rentan kacau dalam konflik rumah tangga.

Benar dan tidaknya, kalau seandainya itu dapat terjadi dalam hubungan dan keadaan keluarga kita. Maka dominasi perempuan akan menjadi suatu ancaman bagi keharmonisan dan keutuhan keluarga.

Itu buruk dan jahatnya tugas dan fungsinya seorang perempuan. Dalam hal mengatur keluarga, dan membina rumah tangga. Karena selepas dari pendidikan dan pembinaan dari laki-laki. 

Perempuan akan terkecoh ketimpangan penyelesaian masalah, tak tahu menemukan solusi. Sebab tugas khusus seorang laki-laki yakni bagaimana mengatur seorang istri agar selalu tunduk dan taat pada perintah suami. Bukan maleh sebaliknya menentang.

Tetapi apa boleh buat, jika perlakuan istri ingin melebihi derajat, wibawa dan kehendak bebas seorang suami. Apa yang mau dikata? Kalau bukan dengan “melawan dan memberontak”. Mungkin itu adalah jalan salah-satunya cara untuk membebaskan dominasi perempuan di atas kehendak dan kebijakan kaum laki-laki.

Sebagai kesimpulan akhir : 

“Jangan lupa kegilaan sesekali membuat hidup lebih berwarna, orang-orang yang patuh dan penurut sangat membosankan”. (Paulo Coelho)

“Apa saja yang membakar dan membuat orang lain terbakar adalah berguna.” (Kali Gibran)

Baca Juga: Kulihat Kartini