Menelisik lebih jauh realita sekolah pada umumnya, hanya fokus dalam satu atau dua tujuan pendidikan. Cara pihak sekolah menerapkan tujuan pendidikan akan berpengaruh pada proses belajar mengajar yang ada di sekolah nanti.

Bagi kebanyakan sekolah tujuan pendidikan hanya sampai Learning to know. Bagi sekolah yang menerapkan tujuan pendidikan seperti ini, yang penting bagi siswa untuk banyak tahu sebanyak – banyaknya, tanpa harus tahu kegunaan ilmu yang mereka gunakan.

Untuk itulah para murid dituntut untuk memiliki daya ingat yang kuat dalam pelajaran. Mereka perlu tahu banyak ilmu yang ada baik mengingat tanggal sejarah, kapan lampu merah menyala bersamaan, mengetahui energi kalor dalam benda, menghafalkan banyak rumus kimia, menghafalkan berbagai enzim yang ada di tubuh manusia.

Menurut pengalaman saya yang pernah merasakan hal itu semua, kemudian munculah pertanyaan di dalam otak saya, untuk apa para murid perlu banyak tahu tentang banyak hal itu kalau hanya untuk sekadar mengingat.

Sebagian ada sekolah yang mewajibkan murid untuk menghafal ataupun mengetahui banyak hal itu untuk mengerjakan ujian akhir. Kalau tidak dipelajari murid akan kesulitan menjawab ujian akhir tersebut.

Konsekuensi dari tujuan pendidikan yang sempit ini mengakibatkan sekolah hanya fokus mempersiapkan para muridnya untuk mengikuti ujian akhir tanpa memperhatikan betapa pentingnya ilmu bagi si murid.

Disisi lain, ada sekolah yang benar – benar ingin menumbuhkan rasa cinta terhadap pengetahuan. Meskipun sekolah sama – sama mempunyai tujuan agar tahu, tetapi murid diajak untuk benar – benar mengetahui apa yang mereka pelajari.

Misalnya, saat belajar tentang komputer, murid tidak hanya disuruh membaca buku pelajaran tentang komputer, murid bisa menerapkan pengetahuannya secara langsung dengan komputer dan didampingi oleh orang yang ahli komputer dengan membahas secara detail tentang komputer.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengetahui banyak hal, tetapi kita perlu bertanya murid perlu tahu untuk apa? Lagi pula tujuan belajar tidak hanya untuk tahu, tetapi masih ada tujuan – tujuan lainnya .

Di beberapa sekolah yang lain sudah muncul kesadaran bahwa murid harus juga memiliki keterampilan, hal ini bisa diberikan dan dikembangkan utamanya untuk masa depan para murid seperti keterampilan berdagang, berbahasa inggris, ataupun program magang yang dilakukan untuk memberi pengalaman.

Pengembangan keterampilan secara non akademik juga perlu diberikan dan dikembangkan seperti kepemimpinan, bersosialisasi, public speaking, menanamkan etos kerja, belajar memanajemen pekerjaan dan lain sebagainya.

Kalau kita terampil berbagai hal, tetapi selalu bermasalah Ketika berhubungan dengan orang lain apa gunanya? Manusia adalah makhluk sosial yang juga harus belajar cara hidup dengan orang lain. Itulah salah satu tujuan pendidikan yang lain adalah belajar hidup dengan orang lain.

Sekolah memang tempat murid bisa belajar hidup bersama orang lain. Bagaimana tidak, setiap murid harus belajar bersama teman sebaya nya dan berinteraksi dengan gurunya. Namun, sebenarnya di sekolah murid belajar hidup dengan siapa? Apakah murid diberikan kesempatan untuk belajar bersosialisasi bersama dari mereka temui? Apakah sekolah memfasilitasi untuk murid berinteraksi dengan latar belakang murid yang berbeda dan kondisi ekonomi yang berbeda?

Beberapa sekolah memang memahami tujuan pendidikan adalah belajar hidup bersama ( termasuk dengan orang yang memiliki pandangan berbeda). Sekolah – sekolah ini ingin tidak menjadi ‘’ sekolah elite ‘’. Sekolah dari berbagai golongan, latar belakang, suku, dan agama bisa berinteraksi satu dengan yang lain. Selain itu sekolah semacam ini membuka ruang bagi murid untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Berikut cara agar murid dapat bersosialisasi dengan masyarakat secara baik.

1. Membiasakan murid untuk berkontribusi pada masyarakat

Murid harus dipersiapkan dengan kompetensi untuk memanfaatkan kesempatan yang ada guna mengembangkan profesi mereka, sehingga bermanfaat untuk diri, keluarga, masyarakat bangsa dan negaranya. Untuk itu, mereka harus dilatih dalam proses pendidikan sehingga bisa diterima oleh orang lain, mampu menerima kenyataan yang ada pada orang lain dengan kemampuan adaptasi, dan terbiasa untuk berkontribusi pada orang lain, kelompok atau organisasi.

2. Berdiskusi atau bekerja kelompok dalam memecahkan masalah maupun dalam mengerjakan tugas.

Tips selanjutnya adalah coba untuk menumbuhkan kemampuan bersosialisasi murid adalah dengan mengarahkan anak untuk melakukan diskusi atau kerja kelompok jika diberi tugas ataupun jika ada masalah yang berusaha dicarikan solusi/jalan keluar.

3. Mengikutkan anak dalam kegiatan perlombaan

Sosialisasi tidak melulu tentang interaksi dua arah namun terkadang interaksi bisa berlangsung satu arah, salah satu jenis interaksi satu arah misalnya dalam kegiatan perlombaan yang menuntut anak tampil di panggung atau di depan khalayak ramai. Dengan rutin mengikuti perlombaan, murid menjadi tidak canggung untuk melebur dalam keramaian.

4. Mengajak murid berlibur atau study tour

Selanjutnya tips yang bisa coba untuk melatih murid bersosialisasi adalah dengan mengajak anak berlibur ke tempat wisata, karena bisanya tempat wisata selalu ramai dan padat dikunjungi oleh wisatawan, ibaratkan “sambil menyelam minum air”,selain anak bisa menikmati keindahan destinasi wisata yang dikunjungi anak juga bisa belajar bersosialisasi di tempat yang ramai.

Learning to be berarti belajar menjadi manusia yang terus menerus berusaha agar lebih bermartabat, lebih kritis, lebih toleran, dan terus lebih menjadi lebih baik dalam berbagai aspek. Bagaimana caranya agar kita belajar menjadi manusia yang terus – menerus yang lebih baik? Selain perlu mengalami berbagai pengalaman yang bermakna kita juga perlu kemampuan untuk berefleksi.

Sekolah yang sadar pentingnya tujuan Pendidikan untuk ‘’ belajar menjadi ‘’ akan menjadikan refleksi bagian dari keseharian di sekolah. Di sisi lain, sekolah yang tidak menyadari hal ini akan terus menyibukkan murid dengan berbagai hal ini akan terus menyibukkan murid tanpa tahu apa tujuan melakukan hal tersebut.

Perlu diingat Ketika tujuan pendidikan adalah agar manusia ‘’manusia belajar menjadi’’, bukan berarti bahwa murid sudah harus kritis dan sudah harus toleran. Bisa jadi murid baru satu langkah kecil untuk menjadi lebih bermartabat, kritis ataupun toleran.

Bisa jadi mereka melakukan banyak kesalahan, mengalami berbagai konflik, hal itu wajar terjadi. Sekolah yang menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah ‘’belajar menjadi’’ akan menghargai proses. Semua pengalaman yang pahit, akan bisa direfleksikan dan membuat menjadi suatu pembelajaran bagi ke depannya.