Memahami Tuhan yang transenden secara rasional tak lain adalah upaya manusia untuk memahami hakikat yang tak kasat mata yang dianggap memengaruhi seluk beluk kehidupan. Namun Tuhan masih menjadi sebuah misteri -- manusia tak dapat memahami-Nya dengan pasti, kecuali hanya sekadar melakukan tafsiran dan pembacaan subjektif terhadap-Nya.

Dalam usaha untuk memahami dan menjelaskannya, maka bahasa sangat diperlukan dalam menginterpretasikan realitas yang Maha Absolut tersebut.

Bahasa merupakan salah satu maha karya paling penting yang pernah diciptakan oleh manusia. Juga umumnya, setiap kali ada pertentangan mazhab dan teologi, ujung-ujungnya kadang kembali pada persoalan bahasa.

Jika kita menengok apa yang ditegaskan oleh kajian kontemporer -- bahasa-bahasa -- selalu membatasi atau paling tidak berperan dalam membatasi pandangan dan konsepsi manusia akan sesuatu.

Menurut Win Ushuluddin Bernadien, setidaknya ada dua pendekatan yang dapat dilakukan dalam diskusi mengenai Tuhan. Pertama, Dia dapat didekati sebagai 'something to be argued about', yang dalam hal ini objek formalnya adalah segala hal yang berkaitan dengan teism, ateism, nonteis, deism, dan agnosticism. 

Pendekatan kedua, dapat dilakukan dengan memosisikan Tuhan sebagai 'something to be sacrificed form' yang dalam hal ini berkenaan dengan segenap aktivitas sosial dalam kehidupan masyarakat, baik berupa commitment, dedication, maupun involvement.

Namun, satu hal yang terpenting bagi manusia dalam memahami Tuhan, yaitu manusia harus mengerti keterbatasan konsepsinya tentang Tuhan karena tidak ada yang bisa mengenal Tuhan kecuali diri-Nya sendiri.

Dari dua pendekatan tersebut, kita bisa menemukan dua pengertian tentang Tuhan, yaitu Tuhan dalam konsepsi manusia dan Tuhan yang jauh di luar konsepsi manusia. Dalam tulisan kali ini, tentu saja kita tidak sedang membicarakan Tuhan yang jauh dari pemahaman kita itu, melainkan sekadar Tuhan dalam konsepsi atau pengertian kita.

Pada dasarnya, menurut Abed Al-Jabiri, bahasa hanyalah sekadar penggambaran kita pada realitas lingkungan kita, dan adalah mungkin bahasa juga membatasi pengetahuan kita akan suatu informasi. Misal, jika kita terlahir di lingkungan tropis tentu pengetahuan bahasa kita tentang kehidupan di wilayah tropis jauh lebih banyak daripada pengetahuan mereka yang hidup di wilayah Kutub. Begitu pula sebaliknya.

Karena -- karakteristik bahasa bergantung pada karakteristik penuturnya, dan karakteristik penuturnya juga bergantung pada budaya di mana penutur tersebut berada. Dengan demikian bahasa menetapkan batasan-batasan -- bagi setiap pengetahuan manusia, termasuk pengetahuan kita tentang Tuhan.

Olehnya, tak heran jika defenisi dan konsepsi seseorang atau suatu kelompok tertentu berbeda-beda dalam mendefenisikan Tuhan.

Setiap tradisi, kepercayaan, atau budaya memiliki pandangannya masing-masing tentang apa yang dimaksud dengan "kekuatan adimanusiawi" tersebut, dan menurut hemat penulis, mereka sah-sah saja dalam mendefenisikan tuhan-tuhan mereka. Toh, itu tidak akan mencoreng hakikat Tuhan itu sendiri. Dan mungkin saja konsepsi suatu kepercayaan tertentu bisa terdengar aneh bagi kelompok kepercayaan yang lain, tetapi itu tak melepaskan fakta bahwa pada dasarnya semuanya hanya berusaha mendefenisikan Tuhan yang sama.

Derrida, salah satu pakar filsafat bahasa, dengan "dekonstruksi"-nya juga bisa digunakan dalam dimensi "teologis"; bahwa hakikatnya Tuhan bukanlah hal yang terikat dalam batas-batas teks dan bahasa yang umumnya kita gunakan. Dia tak pernah benar-benar kita pahami. Dan meskipun keterangan tentang-Nya ada dalam teks kitab suci, kita tak dapat menangkap hakikat maknanya karena "di sana" ada batas-batas epistemolgi yang mustahil kita pahami. Karena Ia tak "mengada" seperti apa yang kita konsepsikan.

Maka apabila kita mencoba memahami Tuhan, tentu itu sangat bergantung pada lingkungan dan tradisi tempat kita berada, karena itulah struktur yang menyusun cara pandang kita dalam memahami sesuatu. Inilah yang disebut dengan "innana nufakkir kama natakallam" (bahasa yang membatasi kemampuan kita dalam berbicara, juga membatasi kemampuan kita dalam berpikir).

Apakah Ateis Itu Ada?

Sebelumnya kita sudah melihat bahwa pendefenisian Tuhan itu terbagi dua: pertama, Tuhan sebagaimana adanya. Yang mana ini mustahil untuk kita pahami hakikatnya. Kedua, Tuhan dalam wawasan atau konsepsi kita.

Sebagaimana konsepsi kita tentang Tuhan yang setiap waktu dan setiap tempat itu berbeda, begitu pula dengan pengertian ateis. Umumnya ateis dinilai sebagai sebuah paham yang mana "tidak mempercayai adanya tuhan" atau "menolak eksistensi tuhan".

Namun, jika kita menggunakan analisa sebelumnya, maka akan timbul satu pertanyaan: Jika benar Tuhan secara hakikatnya tidak bisa kita pahami, dan kita sekadar memahami-Nya dalam konsepsi kita semata, lalu tuhan mana yang ateis tolak?

Sekali lagi, kita harus sadar bahwa pendefinisian setiap orang mengenai Tuhan selalu berbeda. Ada yang memandangnya sebagai wujud tertentu (seperti yang ada dalam tradisi politeisme dan monoteisme pada umumnya), ada pula yang memahaminya sebagai sebuah hukum alam, ada yang memahaminya sebagai "akal", dan ada pula yang memahaminya sebagai perasaan atau kondisi tertentu.

Demi menjelaskan hal ini, penulis tertarik dengan pandangan Yuval Noah Harari. Namun sebelum itu, mula-mula kita harus memahami apa definisi "agama".

Agama umumnya adalah sebuah sistem norma yang didasarkan pada kepercayaan terhadap tatanan adimanusiawi. Maka kalau mengambil defenisi tersebut, sebagaimana Islam dan Kristen; Komunisme, Liberalisme, dan Kapitalisme juga bisa kita sebut sebagai agama. Walaupun kita lebih suka menyebutnya sebagai ideologi.

Namun Harari menerangkan bahwa antara ideologi dan agama pada dasarnya memiliki kesamaan, hanya saja pendefinisian mereka terhadap kekuatan "adimanusiawi" tersebut berbeda-beda.

Jika nilai dan norma agama didasarkan pada kekuatan adimanusiawi yang disebut "Tuhan", maka ideologi didasarkan pada kekuatan adimanusiawi yang sama, hanya saja dengan penyebutan dan pendefinisian yang berbeda; ada yang menyebutnya "hukum alam", ada yang menyebutnya "akal", "Ibu Bumi", "Air", dan lain sebagainya

Begitu juga dengan mereka yang mengaku diri sebagai ateis. Mereka ateis dalam pengertian menolak suatu konsepsi ketuhanan atau kekuatan adimanusiawi tertentu oleh kelompok atau agama tertentu, karena mereka juga sudah memiliki konsepsi sendiri tentang kekuatan adimanusiawi tersebut.

Atau dalam contoh lain yang lebih mudah; Agama Ayam boleh saja menilai Agama Bebek sebagai ateis karena Bebek tidak mempercayai konsepsi ketuhanan ala Ayam. Sebaliknya, Agama Bebek mungkin saja menilai Agama Ayam sebagai ateis karena Ayam tidak mempercayai konsepsi ketuhanan ala Bebek. Dari sini kita bisa melihat bahwa ini hanyalah sekadar pertarungan bahasa dan konsep.

Namun begitu, apa yang ingin saya katakan di sini adalah pada hakikatnya tidak ada yang benar-benar ateis. Kita hanya memiliki definisi berbeda tentang "Tuhan", karena keterbatasan bahasa dan pemahaman kita. Namun tentu kita selalu berupaya untuk mendefinisikan Tuhan yang sama.