Hari-hari ini ada dua film yang “bertarung” memperebutkan penonton di bioskop ibukota, yaitu film superheroes Hollywood, “Captain America: Civil War”, dan film sekuel “Ada Apa dengan Cinta” (AADC2) yang sudah lama ditunggu para penggemarnya.

Sebagai penikmat film, saya termasuk yang bersemangat melihat fenomena film lokal yang “berani” berhadap-hadapan langsung dengan film box office Hollywood di bioskop. Sudah menjadi rahasia umum jika film Indonesia --betapapun bagus kualitasnya, masih sulit bersaing dengan film produk Hollywood, (terutama yang bertema superheroes) dalam hal mengumpulkan jumlah penonton.

Tapi kali ini tidaklah berlebihan kalau berharap “AADC2” bisa mengungguli “Captain America: Civil War”. Di hari pertama saja, film karya produser-sutradara Mira Lesmana-Riri Riza itu sudah berhasil meraup 200.000 penonton. Dan hanya butuh waktu 5 hari untuk mencapai 1 juta penonton. Luar biasa!

Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang persaingan film lokal dan Hollywood. Sebaliknya, saya ingin membahas tentang perilaku para penonton film bioskop, khususnya di Jakarta. Menonton film di bioskop tentu berbeda dengan menonton film di ruang pribadi di mana kita bisa berlaku seenaknya.

Sebelum film dimulai, di layar selalu ada peringatan (imbauan tepatnya) untuk tidak berbicara/mengobrol selama film berlangsung, tidak bermain hp, tidak meletakkan kaki di kursi depan, dan seterusnya. Intinya, para penonton diharapkan untuk menjaga perilaku supaya tidak mengganggu penonton lainnya.

Kenyataannya bagaimana? Ternyata masih banyak penonton bioskop yang tidak memahami (atau tidak peduli?) dengan aturan sederhana ini. Semula saya menganggap penonton film di bioskop bagus di pusat kota lebih beretika dibandingkan penonton film di bioskop pinggiran kota, karena harga tiket yang berbeda.

Dugaan saya tidak sepenuhnya betul. Penonton yang berlaku seenaknya dan tidak peduli dengan kenyamanan orang lain, ternyata cukup banyak jumlahnya, dan bisa ditemui di mana saja, termasuk di bioskop berlabel “premiere yang ekslusif dan harga tiketnya paling mahal.

Saya sendiri beberapa kali merasa terganggu dengan ulah penonton film yang seperti itu. Ada yang menelepon dengan suara keras dan tidak berniat melanjutkan pembicaraan di luar ruangan atau sekadar memelankan suaranya meski sudah ditegur beberapa orang. Atau segerombolan ABG yang menonton sambil mengobrol dan main hp.

Yang terbaru, ketika menonton film “A Copy of My Mind” di salah satu bioskop di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, penonton perempuan yang duduk persis di sebelah saya sama sekali tidak memerhatikan layar bioskop. Nyaris sepanjang film dia sibuk memainkan dua smartphone-nya secara bergantian. Kalau sekadar mengecek pesan atau membalas WA, saya mungkin bisa memakluminya, mungkin penting dan mendesak.

Tapi ternyata dia juga berselancar di beberapa media sosial: Facebook, Instagram, Twitter, secara bergantian. Saya jadi heran, kalau memang dia tidak tertarik dengan filmnya, untuk apa membeli tiket? Atau kalau dia memang sekadar “killing time” mengapa tidak memilih tempat duduk di sudut bioskop, supaya tidak mengganggu penonton lain?

Jika mengamati percakapan di media sosial, masih ada beberapa “dosa” penonton film yang dianggap mengganggu kenyamanan orang lain. Menendang-tendang kursi misalnya. Bisa saja karena ketidaksengajaan, misalnya ingin mengubah posisi kaki tapi malah menabrak kursi depan.

Tapi ada juga penonton film yang hobi menendang kursi depannya, entah apa maksudnya. Kalau merasa terganggu, sebaiknya memang ditegur langsung.

Jenis "dosa" yang lain: bermesraan secara berlebihan. Barangkali beberapa orang merasa cukup aman untuk melakukan aktivitas seksual (lebih dari sekadar berciuman) di dalam ruangan yang gelap. Tapi mungkin mereka lupa, sinar dari layar bioskop cukup untuk menerangi aktivitas yang harusnya sangat pribadi itu. Penonton lain pasti merasa jengah dan ingin berkata, Get a room!

Selain beberapa hal di atas, yang menurut saya lebih mengganggu adalah keberadaan anak-anak kecil di dalam bioskop yang memutar film dewasa. Banyak orangtua yang dengan santai mengajak anak mereka yang berusia balita untuk menonton film yang sebenarnya sangat tidak layak untuk anak seusia itu karena mengandung unsur kekerasan dan seksual.

Sebenarnya setiap film yang beredar pasti telah melewati pemeriksaan Badan Sensor Film, dan selalu disertai dengan Rating, apakah cocok untuk semua umur (SU), remaja (R) atau Dewasa (D). Istilah yang dipakai dalam film Hollywood hampir sama G (General), PG-13 (Parent Guidance) dan R (Restricted).

Info mengenai rating film ini dengan mudah bisa dilihat di situs-situs yang mengupas film seperti imdb.com, RottenTomatoes dan seterusnya. Juga situs milik studio yang memutar film, seperti cinema 21 misalnya. Sayangnya banyak orangtua yang kurang peduli dengan hal-hal seperti itu dan mengikuti saja keinginan anak untuk menonton film jagoan mereka, meski materinya tidak cocok untuk anak-anak.

Masih segar dalam ingatan saya, ketika “Deadpool”, film laga yang diangkat dari komik Marvel diputar di bioskop, banyak anak di bawah umur yang ikut menonton bersama orangtuanya. Padahal film itu sarat dengan adegan kekerasan yang sadis dan juga adegan seksual yang sangat tidak pantas dilihat oleh anak-anak. Seharusnya pihak bioskop tidak mengijinkan anak di bawah umur untuk menonton film semacam itu.

Di sisi lain, pasangan muda yang membawa balita (bahkan bayi di bawah umur setahun) ke bioskop untuk menonton film dewasa kadang punya alasan sederhana: karena tidak punya babysitter atau tidak ada kerabat yang bisa diminta menjaga anaknya.

Menurut saya orangtua seperti ini sedikit egois. Pertama, kasihan kalau anaknya masih terlalu kecil, pasti terganggu dengan suara kencang dari layar film. Yang kedua, ya namanya anak kecil, kadang rewel mendadak atau tantrum, tentunya akan mengganggu penonton lain. Toh menonton film juga tak harus ke bioskop bukan?

Menunggu beberapa saat, film terbaru bakalan muncul juga di saluran televisi kabel seperti HBO, atau melalui sarana streaming berbayar semacam Netflix. Tapi kalau memang tetap cuek mengajak balita menonton film, ya harus siap menerima pelototan atau teguran dari penonton lain jika si kecil rewel. Ya kan?

Toh hidup adalah tentang pilihan. Anda memilih yang mana?