Lecturer
3 tahun lalu · 4188 view · 4 min baca menit baca · Keluarga 9146378590_1cb1fb5c26_z.jpg
Pasangan Boneka [Foto: Athena Lao/Flickr]

Apakah “Azwaj” dalam QS.26:166 “Bukan Pasangan Suami-Istri”?

Pagi ini, waktu Amerika bagian timur, saya melihat di wall Facebook banyak link ke tanggapan Sdr. Fadli Lukman atas tafsir kisah Nabi Luth yang saya tulis beberapa hari lalu. Menambah keceriaan pagi! Sambil sarapan pagi, saya tulis respons pendek ini.

Saya sangat menghargai tulisan Fadli karena memperlihatkan kesungguhan dan keseriusan untuk berdiskusi dengan pikiran jernih. Tidak seperti banyak komentar di medsos yang hanya berisi umpatan.

Kesan saya ketika membaca sebagian komentar-komentar keras di medsos, sepertinya mereka tidak membaca tulisan saya itu. Jika pun membaca, sepertinya mereka terburu-buru sehingga tidak mengerti. Cara menanggapi seperti ditunjukkan Fadli ini perlu diapresiasi. Dan karena saya memberikan penghargaan tinggi, maka saya tulis respons pendek ini.

Sdr. Fadli kelihatannya mengikuti alur argumen tulisan saya dengan baik. Ini terbukti dari ringkasan dia yang cukup teratur. Bahkan, menarik dicatat, tanggapan Fadli itu lebih banyak berupa ringkasan atas tulisan saya ketimbang pemaparan tanggapan. Saya hitung dari segi paragraf, 11 untuk ringkasan dan 8 untuk pemaparan. Tidak ada yang salah dengan ini! 

Tanggapan Fadli berpusat pada penerjemahan kata “azwaj” dalam Qs. 26:166 sebagai istri. Menurutnya, kata itu merujuk pada pasangan laki-laki dan perempuan saja, “Bukan dalam makna suami-istri yang telah menikah.”

Kalimat dalam tanda petik itu berasal dari tulisan Sdr. Fadli. Ini penafsiran yang sangat “liberal” (dalam pengertian harifyah) karena berimplikasi bahwa hubungan seks diperbolehkan asalkan dilakukan antara laki-laki dan perempuan, kendati bukan sebagai pasangan suami-istri. Sebentar lagi saya akan tunjukkan ini.

Untuk sementara, saya perlu juga sebutkan, perbedaan Sdr. Fadli dan saya sebenarnya tidak terlalu lebar. Misalnya, dia setuju “Saya sepakat dengannya bahwa dosa yang menumpuk-numpuklah yang  memancing azab Tuhan bagi kaum Luth.” Ini contoh cara berdiskusi yang baik: tunjukkan aspek yang Anda tidak setuju, juga hal-hal lain yang sebenarnya Anda sejalan.

Sdr. Fadli membangun argumennya berdasarkan analisis atas kata “azwaj” (bentuk plural dari “zawj”) dan berbagai derivasinya dalam al-Qur’an. Saya sangat suka metode ini. Bahkan, beberapa tahun lalu saya mengerjakan proyek penulisan buku menganotasi al-Qur’an dengan cross reference. Saya tulis proyek cross-reference al-Qur’an itu di tautan ini.

Setahu saya, ini adalah upaya pertama untuk menerbitkan al-Qur’an lengkap dengan catatan ayat-ayat atau frase-frase yang saling berhubungan dalam al-Qur’an.

Para mufasir dahulu sudah menekankan pentingnya metode yang mereka sebut “tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an” (menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an), tetapi belum ada sarjana Muslim yang menerbitkan al-Qur’an dengan cross-reference, suatu tradisi yang sudah lama berkembang dalam penerbitan Al-Kitab.

Jadi, saya sendiri menggunakan metode itu ketika mengartikan kalimat “ata’tuna al-rijala” (mengapa kalian mendatangi laki-laki) dalam Qs. 26:166 dengan penjelasan Qs. 27:55.

Fadli sudah benar ketika mengatakan, bahwa tidak semua kata “azwaj” dalam al-Qur’an bisa diartikan pasangan suami-istri, tetapi pasangan dalam pengertian generiknya, sebuah makna generik yang diambil dari arti harfiyah akar kata “za-wa-ja”. Namun demikian, adalah penting melihat konteks di mana kata “azwaj” itu muncul dalam al-Qur’an.

Misalnya, sebuah ayat yang seringkali dikutip dalam surat undangan pernikahan, yakni Qs.30:21:

Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan untukmu ‘azwaj’ dari dirimu agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menciptakan di antara kalian rasa kasih dan sayang. 

Apakah “azwaj” di sini juga tidak merujuk pada pasangan suami-istri? Jadi, benar bahwa kata “azwaj” yang muncul di banyak tempat dalam al-Qur’an tidak semuanya berarti pasangan suami-istri.

Dalam kisah Nabi Nuh, hewan-hewan juga disebutkan dalam konteks “jawzayn” (pasangan). Tetapi, kata “azwaj” dalam Qs. 30:21 di atas akan terasa janggal jika dimaknai “Bukan dalam makna suami-istri yang telah menikah,” kecuali jika Sdr. Fadli akan mengatakan tidak masalah hubungan seksual asalkan dilakukan antara pasangan laki-laki dan perempuan walau tanpa diikat oleh tali pernikahan.

Mari kita lakukan pembacaan lebih dekat pada Qs. 26:166 itu:

Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara ciptaan dan malah meninggalkan “azwaj” kalian yang Tuhanmu ciptakan untukmu?

Saya sengaja tidak terjemahkan kata “azwaj” dalam ayat itu. Khitab (yang dituju) oleh ayat ini ialah laki-laki, dan hal itu dipertegas dalam Qs. 27:55

Mengapa kalian mendatangi laki-laki untuk melampiaskan nafsu, dan bukan perempuan? 

Kata “azwaj” sendiri secara gender bersifat netral. Nah, jika “azwajikum” dalam 26:166 diartikan “pasangan perempuan kalian”, lalu siapa identitas “pasangan perempuan” itu? Apakah perempuan yang menjadi istri-istri yang sah, atau perempuan di luar pasangan suami-istri?

Itu yang menjadi titik perbedaan antara Sdr. Fadli dan saya. Sementara tafsir saya sangat traditional (!), Fadli mengajukan tafsir yang cukup berani, “pasangan perempuan kalian” di situ “Bukan dalam makna suami-istri yang telah menikah.”

Betulkah? Kalau mengikuti alur argumen Fadli, logika lanjutannya ialah boleh melakukan hubungan seks dengan perempuan di luar nikah, yang tidak boleh itu seks dengan laki-laki. Jika ini yang ingin dikatakan Fadli, ya monggo.

Kesimpulan Fadli menarik: 

Jika demikian, yang ditentang Lut bukanlah perilaku seks di luar nikah, melainkan perilaku seks yang bukan kepada yang diperuntukkan, yaitu perempuan sebagaimana manusia diciptakan.

Jika kesimpulan ini dikaitkan dengan pemahaman Fadli atas kata “azwaj” dalam Qs.26:166, maka berarti yang dilarang ialah hubungan seks antara laki-laki dan laki-laki, sementara antara laki-laki dan perempuan diperbolehkan walaupun di luar nikah.

Tanggapan Sdr. Fadli ini disambut hangat dan gegap gempita di medsos, seolah dia telah berhasil “meruntuhkan” tafsir saya atas kisah kaum Luth. Para “pendukung” Fadli tidak sadar, yang diruntuhkan itu ialah pandangan tradisional mereka tentang lembaga perkawinan, bukan argumen saya.

Wow, saya jadi nulis agak panjang dan sarapan pagi saya tak tersentuh. Sekarang saatnya saya menikmati roti bakar yang diisi keju dan Nutella. Have a great day, friends!

Artikel Terkait