Seniman
4 minggu lalu · 471 view · 7 min baca · Filsafat 89617_58928.jpg
Pexels

Apakah Hidup Punya Makna?

Ini adalah pertanyaan sejuta umat, pertanyaan yang kerap menghantui insomnia kita semua. Dan di saat kita menyadari bahwa hidup—secara keseluruhan—tak mempunyai makna intrinsik, maka datanglah yang namanya krisis eksistensial. 

Krisis Eksistensial 

Dahulu kala, pada saat permulaan manusia, fokus utama tiap harinya ialah mencari makanan, air, dan menemukan tempat berlindung—itu saja.  

Mungkin memang manusia terdahulu memiliki lebih banyak waktu luang dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, mereka terus-menerus disibukkan oleh perasaan khawatir dimakan singa ataupun hewan buas lainnya.

Tujuan hidup mereka: untuk bisa tetap bertahan di alam liar. Maka itu, mereka tak punya waktu untuk merenungkan hal lain, apalagi memikirkan tentang makna.

Di saat mereka mulai khawatir akan kematian dan segala misterinya yang tak bisa mereka jelaskan—karena tentu saja sains belum berkembang—saat itulah mereka mulai berspekulasi metafisika, menerka-menerka, berfiksi tentang roh-roh penunggu batu dan pohon, dan lantas mulai menyembah kekuatan lain yang ada di luar nalarnya, dalam hal ini: Tuhan.

Aku tak bermaksud untuk mendiskreditkan agama di sini—silakan meyakini apa pun yang ingin kauyakini—tapi, salah satu alasan mengapa manusia bisa percaya pada Tuhan ialah karena hal itu bisa memberi manusia perasaan aman, istimewa, dicintai, dan punya tujuan di alam semesta.

Namun, dalam berapa abad belakangan ini, segalanya telah banyak berubah. Tak sedikit dari hal-hal mistis atau takhayul kini telah bisa dijelaskan oleh sains, dan manusia tak perlu repot-repot untuk berspekulasi metafisika. 

Selain itu, manusia modern tak lagi kesulitan mendapatkan makanan ataupun air bersih, dan tak lagi khawatir akan ancaman binatang buas.

Dibandingkan manusia terdahulu—yang fokus berburu; bertahan hidup di alam liar; sibuk menyembah Tuhan tertentu—kini manusia memiliki banyak waktu untuk merenungkan berbagai hal: bertanya-tanya tentang tujuan kehidupan, juga fungsi manusia di jagat raya.

Peradaban modern yang segalanya serbapraktis, berteknologi, dan berbasis pesan layan antar telah menciptakan rasa kekosongan yang begitu kentara. Dan kekosongan itu ialah makna.


Mari kuberi satu contoh, sebut saja hewan peliharaan manusia, yaitu kucing. Kira-kira, apa saja yang dibutuhkan oleh seekor kucing? 

Well, tentu saja makanan, minuman, dan tempat berlindung. Kau cukup memberi kucing tiga hal tersebut, niscaya ia pun akan tenang-tenang saja dan tak bakalan komplain.

Tak pernah terjadi sebelumnya, seekor kucing tetiba mempertanyakan tujuan dan makna eksistensinya, apalagi sampai menuntut untuk diajari teori mekanika kuantum. Poinnya adalah, sangatlah mudah untuk memuaskan kebutuhan seekor kucing, akan tetapi tidak demikian dengan manusia.

Kebutuhan Manusia

Secara umum, manusia memiliki 5 tingkatan kebutuhan, antara lain:

  1. Kebutuhan dasar, yaitu sandang, makan, dan papan
  2. Kebutuhan keamanan, semisal tak perlu lagi khawatir akan ancaman hewan buas di malam hari, atau mendapat perlindungan hukum dari tindakan kriminal
  3. Kebutuhan cinta, seperti dalam keluarga, pertemanan, atau pula hubungan asmara
  4. Kebutuhan penghargaan, yaitu bisa dihargai dan dihormati oleh orang lain atas apa yang dikerjakan
  5. Kebutuhan aktualisasi diri, yang merupakan tingkat pemenuhan tertinggi akan eksistensinya sebagai manusia, juga pencarian akan makna.


Sayangnya, banyak dari kita yang entah mengapa masih saja berkutat di antara nomor 3 (kebutuhan cinta) dan nomor 4 (kebutuhan penghargaan). Mereka belum bisa sampai di tahap aktualisasi diri; mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia.

Namun, di era modern yang mana semuanya serbakonsumerisme ini, aktualisasi diri malah diartikan sebagai pencarian uang sebanyak-banyaknya, lalu belanja sampai mati sejadi-jadinya.

Sebuah studi di Universitas Princeton pada tahun 2010 menyatakan bahwa pendapatan orang-orang yang ada di atas $75.000 atau di atas 1 miliar rupiah per tahun tak berbanding lurus dengan rentang kebahagiaan batinnya. Malah sebenarnya, mereka teramat depresi, kemudian berfoya-foya hanya untuk menutupi kesedihannya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang. Hanya saja, kita semua tahu bahwa uang tak bisa membeli kebahagiaan. Bukan, begitu?

Paradoks Kebahagiaan

Ada masalah besar pada upaya pemenuhan kebahagiaan, yang kebanyakan dari kita berpikir bahwa, setelah membeli rumah impian; setelah mendapatkan si dia yang kita cintai; setelah lulus kuliah; setelah mendapatkan pekerjaan idaman, maka kita akan bahagia selamanya, dan segala keluh kesah akhirnya bakal pudar.

Jika kau adalah manusia, maka tentu kau tahu bahwa bukan seperti itu cara kerjanya sebuah kebahagiaan.

Sebagai contoh, ketika kau berpenghasilan Rp7.000.000 per bulan, memiliki dan berkendara motor matic kelas 150 cc sepertinya keren. Namun kemudian, ketika penghasilanmu naik menjadi Rp15.000.000 per bulan, rasa-rasanya akan semakin keren setelah membeli mobil LMPV.

Dan perasaan bahagia seperti ini akan terulang, terulang, dan terulang kembali seterusnya hingga kemudian sulit sekali untuk bisa dihentikan. Manusia tak akan pernah puas.

Dalam psikologi, fenomena ini disebut Hedonic Treadmill. Kenapa disebut treadmill? Karena treadmill itu identik dengan orang yang selalu berlari-lari di tempat. Hal ini juga berlaku pada sebuah hubungan asmara, ataupun pekerjaan yang begitu diidamkan.


Anekdot Pribadi yang Tak Perlu

Berapa tahun yang lalu, aku pernah bekerja di sebuah perusahaan BUMN besar. Sejak pertama kali diangkat menjadi pegawai, setiap harinya selalu saja kuhabiskan untuk berfantasi bagaimana caranya untuk pensiun dini.

Anyway, jadi ada seorang wanita di kantor, yang jika kuperhatikan, tampaknya begitu menikmati aktivitas masuk pukul 8 pagi; duduk di depan monitor; rutinitas cetak-mencetak; dan sekali waktu bermain facebook jikalau bos besar tak memperhatikan.

Kemudian, suatu hari aku bertanya mengapa dia suka bekerja di sana, dan dia bilang bahwa sejak kecil ia sudah bercita-cita untuk menjadi pegawai kantoran, memiliki meja sendiri, dan selalu berpakaian rapi. 

“Aku sedang menjalani mimpi,” katanya.

Pada saat itu pula, langsung kusadari betapa beragamnya motivasi tiap manusia. Jika bekerja di kantor adalah cita-citanya, dan dia bahagia menjalaninya, lantas apa hakku untuk menyarankannya berhenti?

Sayangnya, manusia bukanlah kucing. Makanan, minuman, dan tempat berlindung semata tidak akan segampang itu memuaskan. 

Kebanyakan dari kita, kerap ingin tetap bertahan di zona nyaman, sementara spektrum kebahagiaan dan kenikmatan manusia begitu luas.

Itu adalah persoalan yang jauh lebih rumit, tak semudah itu. Dan, dalam proses pencarian makna kehidupan—setidaknya makna yang personal—adalah perjalanan yang harus dilalui individu sendirian.

Membangun Monumen Makna

Terkadang jika kau mengamati sekeliling, maka akan kautemukan orang-orang yang jauh lebih tua, yang tampak tak pernah sekalipun mempertanyakan hakikatnya sebagai manusia, apalagi mengalami krisis eksistensial.

Betapa pun tua mereka, belum tentu mereka menyadari keabsurdan hidup—yang mana manusia selalu bergerak ke masa depan, dan masa depan kian mendekatkan manusia pada kematian. 

Ini menunjukkan bahwa, usia fisik sangatlah jauh berbeda dengan usia mental.

Aku pernah berdiskusi tentang hal ini dengan seorang teman bule dari Spanyol. Ia adalah seorang penganut Buddha.

“Semakin dini kau mengalami krisis eksistensial, maka akan semakin bagus. Pencarian akan makna hidup, ialah monumen yang harus kaubangun sendiri. Tiap batanya, harus kaucetak dan kaususun seorang diri,” tuturnya. “Kau harus berontak melawan keabsurdan hidup.”


Kata-katanya itu bagaikan kanker otak, yang hingga saat ini selalu terpatri di dalam kepalaku. Bagaimanapun, tak bisa dimungkiri, apa yang ia katakan memang benar.

***

Posisi kita di zaman sekarang ini, mungkin adalah bagian dari eksperimen terbesar dalam sejarah manusia. Kita dianugerahi teknologi canggih, pendidikan, internet, akses informasi tiada batas, realitas virtual, dan lain-lain.

Tapi tetap saja, akan ada orang yang akan selalu berkata, “Ya, ya, terima kasih atas teknologi, internet, dan lain sebagainya, tetapi kenapa kehidupan masih saja terasa hampa pada tingkatan-tingkatan tertentu? Dan sebenarnya, apa pula yang sedang kita lakukan sekarang ini?”

Apa pula yang Sedang Kita Lakukan Sekarang Ini?

Setiap zaman memiliki cobaan; krisis eksistensial mungkin akan selalu milik kita.

Jika saja kematian tak pernah ada dan kehidupan bisa abadi selamanya, maka mungkin tujuan dan makna akan kembali kepada tuannya: Manusia.

Manusia lahir di dunia sekonyong-konyong begitu saja, tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa alasan. Kau boleh saja bertanya apa yang sedang kita lakukan di sini kepada setiap orang, dan tak ada seorang pun yang bakal tahu jawabannya.

Ditambah, mau tak mau, manusia harus bertatap muka dengan kesepian, pekerjaan yang tak disukai, khawatir akan pendapatan, penyakit, berada di lingkungan konservatif, patah hati yang datang silih berganti, kematian orang terdekat, juga penderitaan yang tak terelakkan.

Omong-omong, kau, kita semua, tak lebih dari kumpulan makhluk kecil yang lagi merayap di atas setitik debu; melayang-layang di ruang hampa. Kita tak memiliki peran di luasnya jagat raya.

Ya, selamat datang di eksistensi; semuanya membingungkan, alam semesta tak pernah secuil pun peduli pada manusia. Manusia akan punah—menyusul 6 kepunahan besar yang pernah terjadi sebelumnya—dan alam semesta bakal move on. Manusia hanyalah angin lalu bagi alam semesta.

Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?

Angkatlah tanganmu tinggi-tinggi; berikan jari tengah pada alam semesta, dan katakan, “Fuck you! Aku menolak untuk menyerah, apalagi harus bunuh diri. Aku akan berontak melawan keabsurdan eksistensi, lalu berkarya merayakan kebebasan.”

Positifnya: tak ada seorang pun di antara kita yang tahu apa yang sedang kita lakukan di sini—dan itu bagus. Setidaknya kita semua bernasib sama, dan dengan bersama-sama pula kita akan menghadapi ini.

Jadi, bangunlah monumen maknamu—banyak orang telah melakukannya, dan tampaknya mereka baik-baik saja.

Selamat menyusun bata, kawan!

Artikel Terkait