Lagu 'Aisyah Istri Rasulullah' tengah ramai dibincangkan dan diributkan di jagat maya. Hal ini bermula setelah lagu tersebut viral dicover oleh Annisa Rahman dan disusul yang lainnya. 

Ada yang menghujatnya dan ada pula yang menganggap lebay orang yang menghujat lagu tersebut. Saya sendiri mulanya mendapatkan perdebatan tentang lagu ini dari grup WhatsApp pesantren.

Salah seorang teman yang entah penasaran atau ingin membuat grup itu ramai meminta orang-orang yang ada di grup untuk memberikan komentar. Dari sinilah perdebatan dimulai. 

Sebagaimana lazimnya sebuah isu, pasti ada yang pro dan ada yang kontra. Dan dalam kasus ini, memang harus diakui, orang orang lebih banyak mengambil jalur kontra. Termasuk saya.

Yang banyak menuai penolakan dari lagu tersebut adalah liriknya. Sebab dianggap terlalu menceritakan atau menggambarkan fisik Aisyah RA. Itu tidak sopan kata mereka. Karena beliau adalah ummul mukminin, ibundanya para orang beriman!

Sampai-sampai ada yang menyebut bahwa deskripsi fisik Aisyah RA dalam lagu itu bisa mengantarkan para pria untuk membayangkan yang tidak-tidak tentang ummul mukminin. Karena dalam bait lagu tersebut dituliskan begini:

Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merahnya pipimu

Saya awalnya berada di pihak ini. Tetapi tidak sampai menganggap bahwa hal itu tidak sopan dan mengundang sesuatu yang tidak diinginkan. Saya hanya menganggap bahwa ketimbang menceritakan fisik, lebih mending dan lebih baik jika yang diceritakan adalah karier politik dan intelektual Aisyah RA yang telah turut dan banyak berkontribusi dalam meriwayatkan hadis-hadis Nabi.

Namun pandangan itu kemudian agak sedikit meluntur. Hal itu berawal ketika sedang gabut, artinya sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Saya tengah men-scroll postingan-postingan di FB. 

Nah, di tengah aktivitas scroll tersebut, saya terhenti pada salah satu postingan seorang ulama Muhammadiyah, yakni Wawan Gunawan Abdul Wahid. Beliau ternyata juga ikut menyumbangkan wacana tentang lagu yang kini viral itu. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti sejenak.

Saya membacanya baris demi baris dan sampai pada kesimpulan bahwa pendapat beliau adalah pendapat yang sangat anti-mainstream. Di saat orang lain menghujat lagu tersebut, beliau justru memberikan apresiasi. Karena telah menyiarkan sosok Aisyah RA lewat syair (baca: lagu). 

Menurut beliau, syair mendapat tempat yang istimewa dalam Islam. Hingga saat ini telah banyak penyair yang dihasilkan oleh Islam. 

Nabi sendiri, terang Wawan, pernah memberikan sekeping emas pada penyair yang telah melantunkan pujian pada beliau lewat syair. Karenanya tidak ada masalah dengan lagu 'Aisyah Istri Rasulullah' tersebut. Hal itu merupakan ekspresi seni dalam mengungkapkan syiar-syiar Islam.

Mana yang Lebih Tidak Beradab?

Dengan perasaan bingung saya bertanya-tanya, kenapa kita lebih marah Aisyah RA digambarkan secara fisik daripada Rasulullah? Bukankah dalam hadis Rasulullah sering disebut kalau tubuh beliau itu kekar, dadanya rata dengan perut. 

Bukankah dengan begini perempuan juga bisa membayangkan yang tidak-tidak tentang Rasulullah? Ini kalau dalih kita bahwa penggambaran fisik Aisyah RA dalam lagu tersebut mengundang pikiran kotor bagi pria.

Bahkan lebih jauh, kita bisa lihat juga bagaimana Tuhan digambarkan dalam syair-syair. Apakah kita lebih memarahi orang yang mendeskripsikan Aisyah, ketimbang Rasulullah dan Allah?

Selanjutnya, kalau kita menganggap bahwa penggambaran itu tidak beradab, bukankah lebih tidak beradab orang-orang yang mendeskripsikan Nabi? Karena secara, lebih sakral Nabi ketimbang Aisyah RA. Itu kalau sakralitas merupakan titik tolaknya. 

Masa iya Rasulullah bisa digambarkan fisiknya, sedangkan Aisyah RA tidak. Manakah yang lebih sakral? Rasulullah atau Aisyah?

Dan lagi pula, kalau ingin ditarik lebih jauh, sanjungan-sanjungan terhadap ibunda Aisyah itu, kan, tidak ada dengan sendirinya. Pasti ada qaul (perkataan) sahabat atau tabiin yang meriwayatkan yang jadi sandarannya. 

Nah, berarti riwayat itu perlu dihapuskan. Sebab telah mendeskripsikan fisik ibunda Aisyah. 

Terlebih kita juga belum tahu yang riwayatkan itu siapa? Laki-laki atau perempuan? Kalau laki-laki berarti fatal. Dia berarti memperhatikan benar-benar fisik ibunda Aisyah sampai bisa menjelaskan secara tepat dan mendetail seperti itu.

Apa yang Vulgar?

Banyak yang menganggap lagu tersebut terlalu vulgar dan bisa mengundang pikiran kotor. Ketika pernyataan itu dilemparkan, saya juga kembali bertanya-tanya: jika penggambaran itu kita anggap vulgar dan dapat mengundang pikiran kotor, bukankah juga lebih vulgar dan akan mengundang pikiran kotor ketika menggambarkan cara bersenggama Rasusullah? 

Sebagaimana yang sering dilukiskan kitab Fathul Ijar dan Qurratul Uyun. Pikiran kita pasti akan melayang layang. Membayangkan bagaimana rupanya.

Oleh karena itu, saya masih merasa heran saja sampai sekarang jika lirik lagu tentang Aisyah RA itu dianggap vulgar. Padahal masih dalam batas wajar. 

Lagi pula, sebagaimana anggapan kebanyakan orang, bahwa yang bikin kita muncul pikiran kotor itu adalah jika sudah body yang digambarkan. Nah, di lagu Aisyah itu, sejauh yang saya lihat, tidak ada disebutkan body.

Adapun jika ingin dipersoalkan kenapa lebih mengangkat fisik ketimbang karier politik dan intelektualnya? Ya saya kira itu soal pilihan. Ada yang menggambarkan karier intelektual dan ada juga yang memilih jalur lain. 

Lagi pula pembahasan tentang karier intelektual Aisyah itu sudah banyak. Jadi sudah mainstream. Makanya ada sebagian orang yang mengambil jalur lain. 

Karier politik dan intelektual Aisyah itu banyak dibahas di forum-forum feminisme Islam. Hanya saja tidak viral seperti penggambaran fisik dalam lagu Aisyah yang viral belakangan ini.

****

Sebagai khatimah, hal yang hanya bisa saya sampaikan adalah jangan terlalu menarik segala hal yang bukan ranah halal-haram ke dalam masalah fikih. Sebab saya melihat kecenderungan itu dalam kasus lagu ini. 

Ini adalah persoalan seni. Ranahnya adalah persoalan indah dan tidak indah. Bukan halal-haram. 

Bagaimana seni dalam Islam akan maju jika sedikit-sedikit dihukumi haram? Harusnya ia didukung dan bahkan didorong. Agar kesenian kita juga berkembang dan turut mewarnai dunia seni, baik dalam skala nasional ataupun internasional.