Menurut adat budaya suku-suku bangsa di Indonesia, nama anak bukan hanya berfungsi sebagai nama diri, nama panggilan, tetapi juga merupakan sebentuk “doa kebaikan”. Maka nama anak dirancang oleh ayah dan ibu dengan sebaik-baiknya tanpa lupa mohon petunjuk kepada Tuhan.

Nama anak selalu “indah kata, luhur makna”. Apa makna nama Joko Widodo?

Umumnya orang Jawa (dan semua etnik di Indonesia), ketika memiliki anak, anak perempuan ataupun anak lelaki, dia mengharap anaknya itu memiliki sifat satria. Kemudian ketika sudah menjadi lansia (63 tahun ke atas), sifat satria itu ditambah dengan sifat pandhita.

Sifat satria itu berupa kumpulan sifat jujur, sifat membela kebenaran, sifat membela orang lemah, sifat susila, sifat sembada ngrampungi, sifat waskitha, sifat mumpuni, sifat lembah-manah andhap-asor, dan sifat legawa.

Sifat satria yang begitu itu kemudian di usia lansia ditambah dengan sifat pandhita, yaitu sifat mursid yang lazim dimiliki oleh orang-orang yang dekat dengan Tuhan alias wali Allah. Sifat mursid oleh bahasa Jawa digambarkan dengan kata weruh seprapat wis tamat, wingka lan kencana katon padha.

Artinya, dengan melihat seperempat bagian saja, dia sudah bisa melihat seluruh keadaan dan seluruh permasalahan, lagi pula, sekeping pecahan genting (wingka) dan sekeping emas (kencana) tampak sama. Semua manusia itu sama, semua budaya itu sama, semua agama itu sama, semua nasib itu sama, semua (nama) Tuhan itu sama.

*[Anda tidak diwajibkan memahami bab sulit-sulit. Setiap orang diwajibkan untuk beribadah memakai cara, ilmu, agama, kemampuan masing-masing dan bekerja pada bidang keahlian masing-masing, Maka jangan memaksa diri untuk memahami konsep sulit, pekerjaan sulit. Itu bukan kebutuhan hidup Anda, bukan rezeki Anda. Maka, Anda juga jangan meremehkan konsep yang berkata: “Semua agama itu sama.”].

Untuk menggambarkan sifat satria, para orang tua Jawa lazim memberikan kepada anak lelakinya nama: Satria, Satrio, Bambang, Jaka, Joko, Gatot, Bima, Bimo, Bisma, Bismo, Harjuna, Harjuno, Narendra, Narendro, Harya, Haryo, Aditya, Adityo, Abimanyu, Abiyasa, Abiyoso, Karno, Sukarno, Basukarno, Rama, Lesmana, Yudhistira, Bharata, Priyambada, Setyaki, Supriyadi, Puthut, Nakula, Sadewa, Basudewa, Baladewa, Wibisono, Permadi, Palgunadi, Kresna, Wisnu, Ismaya, Narayana, dan sebagainya.

Apa arti kata widada atau widodo? Dalam bahasa Jawa, terdapat tujuh kata yang memiliki arti “selamat”. Tujuh kata itu terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok: slamet, wilujeng, sugeng. Kedua, kelompok: raharja, rahayu. Ketiga, kelompok: basuki, widada.

Tujuh kata itu memiliki arti yang sama, yaitu “selamat”, tetapi memiliki “tiga macam arti selamat” ketika “tujuh kata dalam tiga kelompok kata” itu dipakai sebagai nama diri seseorang.

Nama Slamet, Wilujeng, Sugeng, memiliki arti: “orang yang bercita-cita untuk hidup selamat lahir dan batin, Kemudian dalam keadaan darurat bahaya keselamatan hidup, dia boleh mengorbankan keselamatan batin demi menjaga keselamatan lahir. Maka, aku boleh curang supaya tidak miskin walaupun aku harus celaka batin karena curang”.

Nama Raharja, Rahayu, memiliki arti: “orang yang bercita-cita untuk hidup selamat lahir dan batin. Kemudian dalam keadaan darurat bahaya keselamatan hidup, dia boleh mengorbankan keselamatan lahir demi menjaga keselamatan batin. Maka, aku boleh miskin asalkan aku tidak curang”.

Nama Basuki, Widada, memiliki arti: “orang yang bercita-cita untuk hidup selamat lahir dan batin. Kemudian dalam keadaan darurat bahaya keselamatan hidup, dia tidak boleh mengorbankan keselamatan lahir maupun keselamatan batin, dia harus selamat lahir dan selamat batin. Pokoknya, aku tidak boleh miskin dan tidak boleh curang”.

Karena “tujuh kata selamat” itu ketika dipakai sebagai nama-diri memiliki “tiga siasat selamat”, maka bisa ada orang Jawa yang memiliki nama “dua kali selamat”. Contoh: Slamet Raharja (Slamet Rahardjo Djarot itu nama aktor, sutradara, penulis skenario; nama itu berasal dari bahasa Jawa).

Dalam bahasa Bali, rahajeng artinya selamat. Contoh: Maria Asteria Sastrayu Rahajeng disingkat Maria Rahajeng (itu nama Miss Indonesia 2014; saya tidak tahu nama itu berasal dari bahasa Bali ataukah bahasa Jawa).

Dalam bahasa Jawa, kosa-kata rahajeng tidak ada, tetapi bisa dibuat lewat menggabungkan rahayu dan wilujeng menjadi rahajeng yang sama arti dengan basuki, widada, slamet raharja, sugeng raharja, rahayu wilujeng, wilujeng rahayu (disingkat wiluyu).

Nama sebagai doa. Bila doanya terkabul 90%, maka sifat orangnya dan nasib hidupnya sama dengan arti pada namanya. Bila doanya tertolak 90%, maka sifat orangnya dan nasib hidupnya menyimpang dari arti kata pada namanya.

Jadi, apa arti nama (Presiden Republik Indonesia) Joko Widodo? Artinya: “Seorang lelaki yang bercita-cita dan berdoa dan berusaha untuk memiliki sifat satria demi mendapatkan hidup yang selamat lahir dan selamat batin yang dalam keadaan sesulit apa pun, tidak boleh mengorbankan keselamatan satu bidang pun, pokoknya harus selamat bidang lahir dan selamat bidang batin, selamat dunia dan selamat akhirat.”

Pada fakta kehidupan sehari-hari di masyarakat Indonesia, doa lewat nama Joko Widodo itu bagi Pak Jokowi menjadi doa yang lebih banyak terkabul ataukah lebih banyak tertolak?

Dalam statusnya sebagai pribadi yang berisi kehidupan pribadi dan keluarga, tampaknya doa Pak Jokowi banyak terkabul, maka bersama istri, anak-anak, dan cucu-cucu tampak damai, maju, halal, bahagia.

Sedangkan dalam statusnya sebagai Presiden RI yang berisi pelaksanaan tugas dan fungsi presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, tampaknya doa Pak Jokowi banyak tertolak, maka timbul banyak kekecewaan rakyat, lalu lahirlah banyak demo yang dilengkapi dengan lahirnya tagar #2019GantiPresiden.

Meski begitu, melalui Pemilu pada bulan April 2019, Tuhan menetapkan Pak Jokowi terpilih lagi oleh rakyat untuk menjadi Presiden RI 2019-2024.

Kemudian pada hari ini dalam artikel ini dimunculkan pertanyaan: dalam banyak kegagalan dan kekecewaan pada masa jabatan presiden tahun 2014-2019, kesalahan pokok ada pada ketidakmampuan pribadi Jokowi, ataukah ada pada ketidakmampuan pribadi-pribadi rakyat NKRI?

Itu pertanyaan sulit bila jawabannya harus benar. Ada dua petunjuk Islam yang cocok dipakai untuk membantu kita menemukan jawaban yang benar, seperti berikut ini.

Petunjuk yang pertama. QS Al-A’raaf/17: 96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Ayat firman itu dengan jelas menunjukkan bahwa bila rakyat Indonesia adalah manusia-manusia yang beriman, bertaqwa, beribadah dengan baik, pastilah bangsa Indonesia berkecukupan rezekinya, tidak menjadi bangsa yang terbelakang di segala bidang kehidupan.

Petunjuk yang kedua. Sabda Rasulullah-SAW: “(Pada akhir zaman) Orang tidak mengenal ulama kecuali pakaiannya yang khas (bersurban), dan bukan karena ilmu serta akhlaknya. Orang tidak mengenal Al-Qur’an kecuali dengan suaranya yang merdu. Mereka tidak beribadah kepada Allah kecuali di bulan Ramadhan saja.

Bila ulama-ulamanya sudah seperti itu, dan bila umat muslim hanya sungguh-sungguh melakukan ibadah di bulan Ramadhan saja, maka mereka akan diberi penguasa yang tidak memiliki ilmu. Tidak ingin memaafkan rakyatnya. Dan tidak memiliki kasih-sayang kepada rakyatnya pula.”

Ayat hadits itu dengan jelas menunjukkan bahwa karena manusia-manusia Indonesia beribadahnya hanya di bulan Ramadhan saja, alias hanya mengamalkan satu bulan beribadah dari kewajiban duabelas bulan beribadah, maka bangsa Indonesia diberi penguasa (yaitu penguasa eksekutif, penguasa legislatif, penguasa yudikatif) yang tidak memiliki ilmu (karena ilmunya dikurangi dan dikurangkan oleh Tuhan Allah-SWT dan oleh Tuhan Yesus Kristus dan oleh nama Tuhan yang lain).

Itu berarti, apabila mulai besok pagi semua manusia Indonesia berubah dari kurang beribadah menjadi amat beribadah, maka pada tahun 2032, insha Allah, bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang maju dan berakhlak mulia karena Tuhan akan memberikan tambahan ilmu sampai menjadi “cukup ilmu” kepada semua pemimpin bangsa (dan tokoh masyarakat) seiring dengan bertambahnya “bukti ibadah” berupa amal akhlak mulia (kepada semua orang) oleh setiap warganegara Indonesia di negara mana pun dia hidup beribadah di tengah bermasyarakat, tanpa diskriminasi ras, diskriminasi budaya, diskriminasi agama, diskriminasi gender.

Jadi, bahwa sejak tahun 1945 sampai tahun 2020 bangsa Indonesia miskin terus, bodoh terus, terbelakang terus, terhina-hina terus, itu yang pokok bersalah bukanlah “tujuh Presiden Indonesia yang kurang berilmu”, tetapi adalah “semua rakyat Indonesia yang kurang beribadah”. 

Sehebat apa pun seorang Calon Presiden RI (dan Calon Gubernur hingga Calon Kepala Desa), ketika kemudian dia dilantik menjadi pemimpin, misalnya menjadi Presiden RI, maka dia akan kurang ilmu sebab ilmunya dikurangkan oleh Allah-SWT supaya  menjadi presiden yang “cocok fungsi dan cocok perasaan” (compatible and matching) bagi rakyat Indonesia, yaitu rakyat yang kurang beribadah.

Rakyat yang kurang beribadah, pastilah kekurangan petunjuk dan hidayah, kemudian kurang mampu mempergunakan akal dan otak secara benar, maka tersiksa oleh kekurangan prestasi kerja, kelebihan kesulitan, kelebihan kesalahan, kelebihan masalah, lalu kekurangan rezeki. 

Berjalan begitu terus, sampai (pada suatu hari) rakyat menjadi insyaf, bertobat, lalu menjalankan ibadah 365 hari, bukan ibadah 29 hari pertahun pada bulan Ramadhan saja. (QS Al-Araaf/17: 96; Hadits Rasulullah-SAW; QS Yunus/10: 100).

Begitu itulah yang terjadi ketika Jokowi berdoa. Doa untuk kemajuan keluarga, banyak terkabul sebab keluarganya banyak beribadah. Doa untuk kemajuan bangsa, banyak tertolak sebab warga bangsanya kurang banyak beribadah. Wallahu A’lam.

Mengapa bangsa Indonesia (dan semua bangsa di bumi) oleh Tuhan dipandang kurang beribadah padahal semua orang tampak rajin beragama? Sejak awal zaman hingga akhir zaman, setiap bangsa adalah bangsa yang kurang ibadah. Itu ketetapan Tuhan dalam menciptakan umat manusia (dan menciptakan umat hewan-hewan). Wallahu A'lam.

Cukup sekian. Semoga artikel ini bisa menginspirasi Anda untuk bersedia meninggikan ibadah. Setelah itu, barulah bangsa Indonesia akan mampu berakal dan berpikir secara benar, kemudian lebih berakhlak mulia, lebih berprestasi, lebih pandai bersyukur, maka lebih selamat dan lebih bahagia. Amin. [xx-01-2020/1].