Novelis
1 tahun lalu · 1171 view · 2 menit baca · Budaya 97722_95034.jpg
Foto: Maria Pritta Rustandi

Apa yang Sebenarnya Saya Alami di Europalia

Dalam ribut-ribut kesertaan Indonesia di suatu festival seni dan budaya di Eropa

Saya tulis ini dengan sedikit terburu-buru, sebab saya dikabarkan merasa “kecewa" dengan penyelenggaraan Europalia 2017. Europalia adalah festival seni dan budaya dua tahunan yang berpusat di Brussel, Belgia, dengan beberapa program tersebar di kota-kota Eropa.

Tiap kali festival ini memperkenalkan suatu negara tamu. Untuk 2017, Indonesia jadi negara tamu. Ini tentu kesempatan besar untuk melanjutkan promosi Indonesia setelah menjadi bintang tamu Frankfurt Book Fair dua tahun lalu. Saya menjadi salah satu sastrawan yang dihadirkan di Europalia. Sepulang dari sana, saya dikutip merasa kecewa oleh reportasenews.com.

Hari pertama memang saya kecewa. Bagasi saya tidak mendarat bersamaan dengan saya di Brussel. Itu tentu bukan salah panitia, melainkan salah maskapai penerbangan Garuda-KLM.

Ketika saya meninggalkan kota, saya juga kecewa dengan stasiun kereta Brussel yang kedai-kedainya tak jauh dengan yang ada di stasiun Gambir (bahkan tak ada Starbucks). Penjaganya acuh tak acuh dan kue-kuenya tidak segar. Saya jadi rindu Amsterdam Centraal. Tapi, hal itu juga bukan salah panitia.

Adalah bagus untuk melakukan kritik, termasuk pada penyelenggaraan Europalia. Saya mendengar beberapa keluhan. Tapi, apa sebenarnya yang saya sendiri alami? Ini sisi lain yang saya katakan pada reportasenews.com yang tidak dikutipnya.

Saya tidak mengalami hal yang mengecewakan secara langsung. Untuk kasus saya, panitia di Indonesia maupun di Eropa menyiapkan segala hal dengan profesional, baik, juga bersikap ramah. Saya kira saya tidak memakai kata “kecewa”, melainkan bilang “sayang bahwa beberapa hal terjadi.”

Hal yang saya sayangkan itu adalah: 1) Kurangnya promosi acara (jika dibandingkan dengan penyelenggaraan kesertaan Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015). 2) Pembatalan beberapa acara. Dua dari lima program yang dijadwalkan bagi saya dibatalkan. Salah satunya—sedianya di Leiden—batal sejak saya belum berangkat, tanpa pemberitahuan alasan. Ini saya tahu dari panitia di Indonesia.

Jadwal lain—sedianya di sebuah toko buku—dibatalkan pada H-1. Ini saya tahu dari panitia di Brussel. Alasannya, penerbit Prancis tidak mengirimkan buku saya ke tempat acara, dan pendaftarnya hanya dua. Ini saya sayangkan, sebab seandainya saya diberitahu bahwa buku Inggris pun boleh, saya bisa membawa buku-buku tersebut.

Tiga acara yang tetap diadakan berjalan dengan baik. Yang pertama adalah bincang-bincang dalam festival buku Antwerpen. Saya diwawancara wartawan Belgia, Catherine Vuylsteke. Panggung saya dihadiri sekitar 75% orang Indonesia yang tinggal di sana, dan 25% orang Eropa. Tidak buruk, mengingat seperti biasanya di festival, banyak bincang buku diadakan secara bersamaan di panggung-panggung yang berdekatan dan harus saling bersaing.

Acara kedua, talkshow dengan penulis Belgia, David van Reybrouck, dipandu wartawan Gie Goris, di Bozar, sebuah pusat kesenian di Brussel. Hadirinnya 90% orang Eropa, 10% orang Indonesia. Yang ketiga, acara serupa di kota Gent. Penontonnya orang Eropa semua. Jadi, saya harus mengatakan bahwa tiga acara terlaksana dengan baik.

Di festival buku Antwerpen, memang saya menonton pertunjukan wayang Bali, oleh I Made Sidia, yang fasilitasnya mengecewakan. Panitia tidak menyediakan ruang tertutup atau layar yang tepat. Akibatnya, penonton tidak bisa melihat bayangan pada layar, sehingga mereka pergi ke belakang panggung. Ini satu-satunya yang mengecewakan yang saya lihat langsung.

Lantas, kita harus menyalahkan siapa? Penyelenggaraan Europalia tentu saja tidak sempurna. Kekurangan yang pertama menurut saya adalah minimnya promosi. Kekurangan yang kedua adalah terlalu banyak panitia yang mungkin tidak saling berkoordinasi dengan baik.

Saya tidak menyelidiki bagaimana persisnya keorganisasian acara ini. Tapi, yang terlihat dari perspektif saya, ada setidaknya tiga panitia. Panitia Indonesia, panitia Europalia di Brussel, dan panitia di tempat acara.

Menurut pengalaman saya, panitia Indonesia bekerja baik. Panitia Europalia di Brussel juga baik. Tampaknya, panitia di tempat acaralah yang sering kali tidak terlalu peduli. Misalnya, dalam kasus pentas wayang yang saya tonton, tampaknya panitia di festival buku Antwerpen asal-asalan memenuhi permintaan teknis seniman.

Tulisan ini sekaligus memperbaiki pengutipan saya yang diseleksi sepotong-sepotong dan menimbulkan hanya kesan negatif oleh reportasenews.com.