47336_44622.jpg
aceh.tribunnews.com
Kesehatan · 3 menit baca

Apa yang Salah dengan Susu Kental Manis?

Beberapa informasi yang beredar menyatakan kandungan susu dalam SKM kurang dari 10 persen. Sisanya merupakan kandungan gula yang sangat tinggi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran yang melarang iklan produk SKM atau susu kental manis menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun. BPOM juga melarang penggunaan visualisasi gambar susu cair atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh dan dijadikan minuman pada iklan.

Keluarnya surat edaran tersebut sangat beralasan karena kandungan gula dalam SKM lebih dominan daripada kandungan susu itu sendiri.

Sebenarnya sebagian masyarakat sudah lama tahu tentang kandungan susu dalam produk SKM. Bertahun-tahun lalu saya pribadi sudah mencari informasi tentang kejanggalan produk kalengan ini. Berawal dari sebuah pemikiran harga SKM yang murah dan dapat dikonsumsi berkali-kali walaupun di seduh setiap hari.

Coba bandingkan dengan susu UHT kemasan 250ml yang harganya hampir sama seperti SKM, tapi hanya bisa dikonsumsi sekali minum saja. Secara hitungan ekonomi jelas tidak fair.

Saya selalu percaya dengan adagium harga itu tidak akan pernah berbohong. Memang tidak semua yang mahal itu bagus, tapi itu bisa jadi pertimbangan konsumen jikalau membandingkan kualitas satu produk dengan produk lainnya.

Baca Juga: Susu, Oh Susu...

Dalam kasus SKM ini, permasalahan yang muncul adalah seberapa besar kandungan susu dalam satu kemasan kaleng. Dalam beberapa informasi yang beredar, menyatakan kandungan susu dalam SKM kurang dari 10 persen, sisanya merupakan kandungan gula yang sangat tinggi. Itu artinya apa yang dikonsumsi oleh masyarakat sebenarnya bukan susu, tapi gula yang menyerupai susu.

Sayangnya produsen SKM kebanyakan tidak mau menghilangkan kata ‘susu’ sebelum akhirnya pihak BPOM melarangnya beberapa waktu lalu. Sebagian produsen menyelimuti produk SKM dengan kemasan iklan yang cantik seolah-olah mengatakan bahwa ‘susu’ kental manis punya manfaat yang sama seperti meminum susu cair murni. Padahal komposisinya didominasi oleh gula.

Ini sama seperti halnya bubur ayam. Namanya saja bubur ayam, tapi ayam suir yang terdapat dalam bubur justru hanya sedikit. Lebih banyak kerupuk, bawang, timun, dan toping lainnya. Sedangkan ayam suirnya hanya pemanis saja. Tapi tetap orang-orang menyebutnya bubur ayam, bukan bubur kerupuk atau bubur timun.

Permasalahan utama dalam kasus SKM bukan pada produk yang di-branding untuk ‘membohongi’ konsumen, seperti halnya bubur ayam, tetapi dampak kesehatan dari hasil branding tersebut yang membuat konsumen dirugikan. Terlebih kandungan gula yang tinggi punya dampak negatif bagi kesehatan masyarakat.

Konsumsi berlebihan, apalagi diminum sebagai layaknya susu cair biasa, tidak akan memberikan efek apa-apa bagi konsumen. Sebab mengonsumsi satu gelas susu SKM sama seperti meminum air gula saja dan kandungan susunya tidak lebih seperti meminum susu murni 1-2 sendok makan. Konsumen yang niatnya mau sehat malah berpotensi terkena diabetes. Parah, kan?

Parahnya lagi, susu kental manis bukan produk 'anak kemarin sore'. Produk ini sudah berlalu lalang di seluruh Indonesia selama puluhan tahun lamanya.

Meski sudah banyak informasi tentang ‘penipuan’ susu kalengan ini, tetapi tidak sedikit masyarakat yang tidak melek informasi atau mereka yang cenderung malas membaca komposisi dan nutrition fact. Ditambah lagi iklan yang ditampilkan sebagian besar memperlihatkan seorang anak yang sedang meminum susu cair dalam gelas. Makin kentaralah kebohongannya.

Bila dicermati lebih jauh lagi, bukan hanya ‘susu’ kental manis yang punya dampak serius pada kesehatan konsumen. Fenomena pelabelan kata ‘susu’ dalam produk kental manis sesungguhnya satu dari sekian banyak branding yang dilakukan produsen untuk memikat konsumen awam. Cara itu dilakukan dengan mengorbankan kelemahan konsumen yang kurang jeli dalam melihat keterangan produk dalam kemasan.

Saya baru sadar bahwa rendahnya minat baca bukan cuma berdampak pada pengetahuan, tapi konsumen bisa dirugikan dalam berbagai aspek seperti kasus ketidaktahuan masyarakat tentang kandungan susu dalam produk kalengan tersebut.

Selain itu, fakta di lapangan menunjukan kalau ‘pembohongan’ dalam produk makanan dan minuman bukan hanya pada kasus SKM saja. Produk-produk seperti coklat, sirup, kopi, dan teh kemasan juga punya jenis ‘kebohongan’ yang sama.

Tidak percaya? Coba Anda periksa sendiri pada komposisi atau nutrition fact di balik kemasannya. Di sana Anda akan menemukan banyak kejanggalan yang tampaknya tidak sesuai dengan klaim yang terdapat pada iklan produk tersebut.

Lantas, apa kita perlu protes pada produsen, BPOM, atau Kemenkes? Bisa iya, bisa tidak. Tapi, yang jauh lebih penting adalah konsumen harus sadar dan jeli pada segala sesuatu yang kita konsumsi. Karena kalau salah-salah, kesehatan yang akan selalu jadi taruhannya.

Masyarakat sebagai konsumen perlu sadar mengenai betapa pentingnya membaca keterangan produk makanan atau minuman sebelum dikonsumsi. Selain itu, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perlindungan konsumen, baik BPOM dan pihak terkait lainnya, bisa melakukan sosialisasi dan memberikan pengetahuan tentang kecermatan dalam memilih produk sebelum benar-benar dikonsumsi masyarakat. Sehingga diharapkan konsumen tidak lagi menjadi korban.