“Kita menggunakan kata-kata untuk memperbarui diri kita. Inilah senjata kita, saudara-saudaraku,” ujar Subcomandante Marcos lewat bukunya Kata Adalah Senjata

Kata bisa menjadi senjata mematikan. Begitu juga ujar Pram, kata lebih menyakitkan dari peluru.

Sebagai seseorang yang mencintai dunia baca dan tulis-menulis, setidaknya erat kaitan saya dengan kata. Kata bagi saya adalah sebuah suara, sebuah jembatan hati yang menggambarkan apa isi hati saya. 

Dari kata itulah lahir sebuah kejujuran yang berasal dari hati. Menulis di media-media daring tentunya melatih pemahaman saya terkait arti kata itu sendiri. 

Dari kata, banyak lahir orang-orang hebat. Aristoteles dengan kata-katanya yang ruwet, Plato dengan berbagai kata-katanya yang pada zamannya dikira mengada-ngada tapi abadi hingga sekarang. Hingga tokoh-tokoh sastra Indonesia yang lahir dari sebuah kata. 

Eyang Sapardi dengan kata-katanya membentuk kalimat legendaris semacam “Hujan Bulan Juni”, “kita abadi yang fana itu waktu” hingga kata-kata lainnya. Jokpin dengan untaian kata nyeleneh tapi puitisnya. Hingga Chairil Anwar dengan kata yang melahirkan kalimat legendaris, “aku ini binatang jalang.” Mereka semua adalah sepotong irisan kecil dari manusia yang menjadi legenda lewat kata.

Baca Juga: Bahaya Kata-Kata

Namun di era modern saat ini, kata sepertinya menjadi simbol yang kadang sering dianggap orang sebagai sesuatu yang remeh, aneh, dan terkesan nyeleneh. Orang yang suka berkata-kata sering dianggap orang yang sok puitis, sok pintar, dan sok-sok lainnya. 

Berkata-kata apalagi lewat sebuah tulisan nyatanya tidak sebegitu menarik bagi sebagian orang. Ada mereka yang menyebut bahwa itu hanya bacotan omong kosong, tulisan gak guna, hingga kalimat yang paling sering terlontar: “kamu galau, ya?”

Ketika kata saja kadang sulit dipercaya, mereka-mereka yang tidak senang sejak dalam pikiran menyoal kata ini baiknya diapain, sih? Saya suka jengkel sendiri.

Ini yang saya alami sendiri saat saya memposting sebuah gambar berisi kata-kata. Kalimat-kalimatnya sebenarnya untuk saya sendiri, tidak untuk siapa-siapa. Tapi tetap saja ada komentar negatif tentang apa yang saya lakukan tersebut. 

“Sudah jadi pujangga, ya? Bacot betul”, “galau pasti”, “halah, omong kosong!” Itu yang kadang bikin saya dongkol. Saya tidak membuat kata menjadi kalimat untuk orang lain. Itu semua sering kali untuk diri sendiri. 

Kalian saya yakin juga pasti pernah. Nulis status di Twitter, nulis caption di Instagram, hingga nulis hal-hal bijak sampai galau di Snapgram. Semua itu adalah kata yang dirangkai oleh mereka-mereka yang merdeka, yang mereka keluarkan dari rahim pikiran mereka. 

Terus kenapa dicaci bacot-lah, galau-lah, sok puitis-lah, atau sok bijak-lah? Heiii… dengar kalian semua, kami semua merangkai kata tidak untuk memuaskan nafsu julid kalian semua.

Saya sendiri membuat kata-kata hanya untuk menyalurkan apa yang mengendap di hati dan otak saya. Jadi jangan tiba-tiba ngehina yang aneh-aneh soal kata-kata.

Ingat seperti apa yang saya tulis di awal tulisan? Kata itu seperti senjata.

Kata bisa sangat indah jika kita menghargai dan mengapresiasinya. Menjadi jembatan untuk berpetualang ke mana pun kita mau, Tapi ingat, jangan coba memperolok sebuah kata.

Mereka yang fasih soal mengolah kata adalah mereka yang sadar bahwa membunuh tidak perlu lewat sentuhan fisik. Hanya dengan rangkaian kata membentuk kalimat, diri bisa binasa tercabik-cabik.

Kata memang bisa begitu halus, lembut, dan penuh cinta. Tapi jika kata sudah lahir dari sebuah amarah, nyawa hanya soal realitas, jiwanya sudah pasti mati jika kata dihujamkan kepada manusia yang suka julid kepada mereka yang suka merangkai kata. 

Dan Jangan heran jika para penulis, penyair, dan seniman-seniman kata yang ada di dunia ini adalah mereka yang awalnya sering kalian anggap lebai, banyak bacot, galau terus, atau apalah itu. Adalah mereka yang nyatanya riak ombak yang dahsyat di tengah tampilannya yang kadang kalem dan santai. 

Kata itu misteri, sebuah hal yang sangat bodoh untuk sekadar dicemooh bukannya diapresiasi.

Bagi saya sendiri, cemoohan yang hadir berkali-kali tersebut nyatanya memang lumayan menyakitkan. Lumayan bikin hati dan pikiran berpikir dua kali untuk membuat untaian kata. Karena itu saya sering berpikir, “mereka ini benci aku atau kata-kata yang kubuat, sih?” Ada rasa bingung yang membalut diri ini.

Tapi akhirnya saya tidak harus selalu memikirkan hal tersebut. Mungkin saja mereka yang suka mencemooh itu masih kurang paham apa esensi dari kata itu sendiri, mungkin. 

Atau mungkin juga hidup mereka tidak mengenal kata? Mungkin juga. Atauuu mereka ini orang-orang konyol yang tidak suka melihat orang lain berkarya lewat kata-kata?

Orang-orang yang pikirannya cuma mau julid atas sebuah karya inilah yang baiknya dikasih kalimat seperti ini:

"Cemooh saja diri ini menyoal kemerdekaanku mengolah kata. Tapi ingat, kau yang mencemooh diri ini akan selalu abadi terselip dalam sebuah kematian yang kuolah menjadi sebuah kata lalu kalimat hingga menjadi sebuah cerita yang abadi."

Ingat itu.