"Apa yang tidak ingin kau biarkan cepat berlalu dalam hidupmu?" tanya seorang kawan di kost pada anak kost yang lain. Mereka sama-sama masih berstatus mahasiswi. 

"Aku tidak mau membiarkan gelar mahasiswaku cepat berlalu," jawab kawan yang lagi menyusun skripsi itu.

Maksudnya, dia tidak ingin cepat-cepat lulus kuliah dan mencari kerja. Dia ingin berlama-lama menikmati status mahasiswanya. Karena masih ingin bersenang-senang jadi anak kuliahan. 

Waduh, dik! Orientasimu kuliah mencari kerja, sih. Bukan karena ingin belajar mendapat ilmu dan pengetahuan dari kampus.

Apa Enaknya Jadi Mahasiswa(i)?

Banyak sekali! Mulai dari yang sangat positif sampai pada yang kurang positif.

Yang sangat positif itu tentu saja; dapat ilmu dan pengetahuan dari bapak dan ibu dosen yang mempunyai "kepintaran" lebih di atas mahasiswa. Dapat banyak ide, dan gagasan dari tugas-tugas yang diberikan. Mempunyai banyak teman di kampus, mendapatkan banyak pengalaman dari organisasi. Punya laptop atau notebook. Dan lain sebagainya.

Yang kurang positif? Ya, mulai dari bangun pagi bisa diatas jam tujuh (7) pagi karena tinggal di kost bukan di rumah orang tua. Ke kampus bisa sambil fashion show, menitip tanda tangan untuk absen ketika tidak masuk kelas. Mengerjakan tugas yang bersama itu gampang, tinggal cari bahannya di "toko buku" khusus lalu diketik sendiri atau dibawa ke tukang fotokopi.

Apalagi hari ini, tinggal copas dari internet. Punya pacar yang siap antar-jemput ke kost-kampus. Dan apalagi, ya? Masih banyak. Yang paling penting, dapat kiriman dari orang tua tiap awal bulan, seperti gaji bulanan saja (padahal, orang tua banting tulang untuk mengirimkan uang dahulu). 

Mungkin itu garis besarnya. Namun, anak kost di tempatku ngekost masih punya beragam keasyikan, keenakan, kenyamanan, dan entah apa lagi jadi anak kost yang bergelar mahasiswi. Ini karena senangnya jadi anak kost, atau mahasiswi yang ngekost, mereka tidak punya "aturan-aturan" dalam hidup. 

Mahasiswa(i) mah bebas di kost; sepatu ditaruh di atas meja makan di mana mereka di sana biasanya belajar, makan, dan nongkrong. Main kartu di kost beramai-ramai dengan teman kelas ketika kuliah kosong, ketika dosen tidak membalas chat Keti yang menanyakan kehadirannya. 

Malam-malam karokean sampai pulang tengah malam sambil mendengarkan rekaman ulang atau melihat video tayangan menyanyinya dengan suara ala-ala penyanyi idol yang membangunkan orang tidur.

Menonton drama korea beramai-ramai sambil makan mi instan. Masak di dapur umum, namun sampahnya berserakan ke mana-mana. Piring dan gelas yang habis dipakai tidak langsung dicuci di wastafel. Hmmm, apalagi, ya? mungkin sepele, tapi kok semuanya seperti seenak e dewek!

Apa yang Kalian Pelajari dari Kampus?

Yang anak ekonomi mungkin hanya belajar masalah "ekonomi" tok! Yang jurusan psikologi, hanya belajar "psikologi" saja! Yang jurusan sastra, hanya belajar "sastra" mungkin? Jurusan pendidikan, hanya belajar "pendidikan" begitu? Tidak ada pelajaran adab, etika, etiket, kepribadian, dan moral? Atau apalah namanya, mungkin tata krama.

Tata krama yang mungkin tidak perlu dipelajari dari kampus. Namun, menjadi pengetahuan otodidak yang didapat sejalan dengan tumbuh besarnya mahasiswa dalam hidup. 

Mahasiswa toh? Untuk apa kalian belajar tinggi-tinggi? Jika tidak punya hidup yang lebih tertata, dan punya "krama" (bahasa) di level tinggi? 

Tata-krama mereka yah; teriak-teriak di kost serasa dalam hutan saja, "Ngomong pelan, napa?" Ditegur melawan, sambil membawa-bawa temannya yang berbuat hal yang sama (biar gak salah sendiri). Diajak ngomong kok diam? (Hadeh!). Harusnya, di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung; karena setiap kost pasti punya aturan.

Antara Hard Skill dengan Soft Skill

Ini baru belajar soal tata krama. Bagaimana dengan pendidikan di era revolusi industri 4.0?

Menurut Menristekdikti, Mohammad Nasir, di salah satu kuliah umumnya pada sebuah kampus, bahwa yang harus dimiliki seorang mahasiswa di era revolusi industri 4.0 adalah membangun rasa percaya diri dan jiwa kompetitif untuk bersaing. 

Ketika mahasiswa(i) memang sudah "pintar"; bisa cas-cis-cus pake bahasa Inggris. Di akademik jago karena Ipk-nya tinggi. Bisa mengendarai motor dengan hebat (pembalap ceritanya) sehingga ketika tidak ada motor yang bisa dipakai ke kampus, tidak akan berangkat ke kampus. Artinya, mereka hanya punya hard skill tapi belum punya soft skill.

Di mana soft skill itu sendiri adalah; pertama, bisa berkomunikasi yang baik dan benar. Kedua, mampu bekerja sama. Ketiga, kemampuan beradaptasi. Keempat, problem solving. 

Kelima, punya manajemen yang baik. Keenam, networking. Ketujuh, leadership. Kedelapan, positif thinking dan percaya diri. Kesembilan, mampu bekerja di bawah tekanan. Dan kesepuluh, punya etika (Versi Quipper).

Hari gini, di mana "data" adalah segalanya, kita masih harus belajar etika, dan mempunyai etika. Yang tentu saja akan diaplikasikan dalam kehidupan sosial yang lebih baik.

Anyway, jika kalau tidak suka sama pendapat di atas, silakan tetap menjadi diri sendiri, Do what U want to do! Bebas nilai! 

Dan aku juga akan bersikap, Bodo amat! Gak mau pusing, EGP! Apalagi melihat status teman yang juga me-repost status orang lain; "Yang penting sebelum menilai seseorang, evakuasi diri lebih dahulu; eh, evaluasi diri dahulu."