"Apa yang membuatmu bahagia?" tanya Anna padaku. Ketika kami bertiga; aku, Anna, dan Ammoz sedang menikmati makan bakso di sebuah warung.

"Hah? Apa yang membuatku bahagia?" Pertanyaannya sederhana namun menohok. Aku sampai menghentikan suapan bakso ke mulutku. Aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang selama ini membuatku bahagia? 

Ammoz nyeletuk, dia bahagia jika bisa hidup dengan santuy, seperti bisa makan bakso saat ini. Dikala Ammoz menjawab pertanyaan Anna, aku berfikir,

Apakah aku bahagia karena melakukan banyak perjalanan? I love travelling. Apakah aku bahagia ketika nge-chat seseorang yang kusukai di WhatsApp? Apakah aku bahagia ketika bisa merawat ibuku yang lansia? Apakah aku bahagia membeli majalah atau buku di Gramedia? Apakah aku bahagia makan burger atau jus pukat kocok? Atau apakah aku bahagia memiliki "uang merah" di dompet?

Aku sendiri bingung, apa yang membuatku bahagia. Lalu, aku bertanya balik pada Anna, apa yang membuatmu bahagia? Katanya, me time.

Me time baginya adalah menikmati liburnya. Anna yang berprofesi sebagai dosen ini lebih memilih beristrahat setelah menyelesaikan urusan kampusnya di akhir pekan. 

Namun, Anna kemudian melanjutkan, jika ada faktor orang lain juga bisa membuat bahagia, yaitu si dia, dia yang membuatmu bahagia. Namun, dia yang bagaimana? Katanya lagi. Apakah dia yang selalu di sampingmu. Dia selalu ada duit untukmu walau tak di sampingmu. Dia yang selalu menyelipkan kata romantis meski tak di sampingmu. 

"Ini yang membuat bahagia, dia yang selalu ada duit untukku walau tak disampingku." Aku tertawa.

"Kalau itu namanya lagi bokek. Tapi, banyak istri-istri orang kaya yang tidak bahagia." Kata Anna lagi.

Aku berargumen, ini artinya, mereka, istri-istri kaya tadi mungkin tidak puas. 

"Disini maksudnya tidak puas karena apa ini? Karena sikapnya, komunikasinya. Atau tidak puas yang diukur dari materi atau hal lain?" Tanyanya lagi.

Aku bilang lagi, faktor kesepian. 

Jawab Anna, hari ini, kita bisa nonton bareng, makan bareng, tertawa bareng, dan sebagainya yang bisa dilakukan bersama sehingga tidak kesepian. Namun, kesibukan atau aktifitas yang padat membuat kita kadang tak bisa melakukan hal tersebut. Termasuk dirinya, yang saking sibuknya terkadang lupa menelpon mamanya.

Kesibukan, Kebebasan, dan Pilihan.

Jika Anna merasa harus menelpon ibunya disela-sela kesibukannya. Aku terkadang menyesal, dulu terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak dekat dengan ibuku.

Tidak dekat dalam arti, ketika aku sekolah, aku tidak serumah dengannya. Kemudian, ketika kuliah, aku berpisah pulau darinya. Kini, setelah lulus kuliah dan bekerja harus berpisah lagi darinya. Lalu, ketika masa liburan, kami memilih tinggal di rumah yang berbeda walau jaraknya dekat cuma kurang lebih seratus meter. 

Aku lebih suka tinggal di rumah nenek yang sepi karena nenek sudah meninggal. Dan ibuku lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri. Aku di usia dewasa ini lebih suka menyendiri, tapi terkadang juga ditemani seorang adik, seorang keluarga jauh. 

Alasannya, di rumah nenek yang luas itu aku merasa punya "kamar sendiri", ruang kerja yang dimana aku bebas menghamburkan buku atau tetek bengek lainnya ketika  mengerjakan sesuatu, menulis makalah, misalnya. walau rumah itu menjadi rumah bersama yang ramai oleh keluargaku pada momen tertentu. 

Penyesalanku, ketika ibu sakit karena sudah tua dan lansia, aku merasa telah jahat padanya. Mengapa selama ini tidak menemaninya? Walau kutahu dulu dia  adalah ibu yang sangat mandiri dan tangguh. Namun sekarang, dia berubah menjadi manja. 

Aku yang terbiasa sendiri, dan pergi kemanapun sesuka hati, tanpa ada yang menanyakan atau mencari, akhirnya, menjadi kehilangan "kebebasan". 

Kebebasanku hilang ketika aku harus selalu di rumah, menjaga ibuku yang sudah tidak mau kemana-mana. Kebebasanku hilang ketika aku harus berpikir dua kali ketika akan pergi ke suatu tempat, karena di rumah ibuku punya segudang cerita masa lalunya yang tidak ada habisnya. 

Kebebasanku hilang ketika aku harus meninggalkan pekerjaanku di suatu kota dan mencari pengganti diriku karena sewaktu-waktu aku pasti kembali. Kebebasanku hilang ketika aku harus memilih ibuku (masalah pribadiku) dibanding karirku, aku harus mengesampingkan kegiatan-kegiatan diluar kota atau pulau ketika tidak ada yang bisa menemani ibuku.

Aku memang tidak punya pilihan lain, mau tidak mau, aku harus menemani ibuku. Walau aku punya saudara-saudari yang lainnya. Namun, ibu lebih memilih hidup denganku. Mungkin karena aku belum berumah tangga sendiri, dan bukan abdi negara seperti lainnya sehingga ibu mau hidup denganku. Walau, sebenarnya, keinginannya, ibu ingin hidup dengan anak-anaknya dan cucu-cucunya. 

Aku memilih bersama ibu, ibu menjadi prioritas nomor satuku sekarang dan mencoba menomorduakan yang lain. Aku berharap, semoga nanti ibu bisa bahagia diakhir masa tuanya walau dengan cara sederhana, bisa tidur dengan nyenyak. Terlalu muluk, berharapi Ibu bisa kembali pada dirinya, kembali bersemangat menjalani hidup, dimana dia sudah mempunyai spirit itu lagi.

Semangat itu dulu, dia yang  suka berpetualang, pergi ke tempat-tempat yang unik. Dia yang suka berbelanja baju, tas, dan kerudung. Dia yang suka berziarah ke makam-makam suci leluhur. Dia yang suka masak makanan tradisional dengan besar-besaran dan makan banyak. Dia yang suka menuliskan sesuatu pada buku agendanya. 

Aku mengambil banyak pelajaran dan pengalaman darinya. Aku menjadi pengikut sejatinya. Aku bersama dirinya. Semoga, pilihan ini yang bisa membuatku bahagia walau harus menghilangkan (sedikit) karakterku dan melepaskan sebagian kebebasanku.