Beberapa saat yang lalu ada sebuah unggahan di WhatsApp yang membuatku terperangah sejenak. Unggahan itu berupa gambar yang berisi rangkaian kata. Isinya gini:

Jangan pernah meremehkan tiga hal:

1. Marahnya orang sabar

2. Murkanya orang yang suka bercanda

3. Kecewanya orang setia

Waduh, kaget bukan main aku saat membaca tulisan itu. Mak tratap. Aku berasumsi dan bertanya-tanya, si pengunggah tersebut (mungkin) sedang marah/murka/kecewa. Bisa jadi seperti itu. Tapi, yang paling penting adalah "pengingat" untuk diriku sendiri.

Saat ini, aku sedang marah kepada seseorang. Atau lebih tepatnya kecewa. Eh, ralat. Maksudku, aku kecewa pada diriku sendiri karena terlampau tinggi menaruh harapan kepada orang itu.

Sebelum marah kepada orang lain, seharusnya aku memarahi diriku sendiri terlebih dulu. Pun demikian dengan kecewa, sebelum kecewa kepada orang lain, aku harus kecewa terhadap diriku sendiri dulu.

Terkadang heran kepada orang yang suka menumpahkan amarahnya kepada orang lain. Padahal ekspektasi diri terhadap sesuatu yang terlalu tinggi. Dan, pada saat jatuh sakitnya ampun-ampunan.

Banyak hal yang kuanggap mengecewakan, ternyata anganku ketinggian. Sering sekali kurasakan tak sampai menggapai anganku sendiri. Aku terjatuh dan sakit sekali. Makian dan sumpah serapah menjadi kambing hitam.

Tidak mengapa. Jika dengan memaki dan sumpah serapah itu bisa melegakan hati. Wait, tapi untuk diri sendiri saja. Aku tak menyarankan memaki dan menyumpah-serapahi orang lain. Bisa menimbulkan masalah baru nanti.

Bukan maksudku menyebarkan ajaran buruk. Hanya saja, aku peduli dengan penyaluran emosi yang memadai. Tiap orang memiliki cara berbeda. Ya, salah satunya seperti aku ini. Memaki dan sumpah serapah sampai hatiku plong (ditujukan hanya kepada diriku sendiri)

Jangan menunggu atau mengendapkan perasaan toxic/racun. Tidak akan terasa indah hari-hari kita jika ada perasaan mengganjal di hati. Rasanya seperti membawa beban berat, mau ngapa-ngapain tidak enak, dan mood berantakan.

Itu perasaan manusiawi. Sebagai makhluk bernyawa yang punya hati dan pikiran, merasa tidak "enak" wajar-wajar saja. Apalagi merasa kecewa. Terkadang kita tak bisa membendung harapan untuk sesuatu hal. Ingin hati menggapai itu, tapi tangan tak sampai.

Akhirnya seperti pungguk merindukan bulan. Berujunglah perasaan tak karuan. Ini yang akan meracuni keindahan hari-hari kita. Jangan sampai dibiarkan mengendap lama. Jika tidak, akan bermuara kepada depresi yang parah.

Nah, kok jadi seram, ya? Masalah-masalah sepele jangan pernah dianggap remeh. Justru hal-hal kecil akan menumpuk jika dibiarkan saja. Racun-racun kecil tersebut bisa berubah "ganas" jika dipandang sebelah mata. Misalnya, tingkat depresi yang terparah adalah keinginan bunuh diri.

Apakah dengan "mati" semuanya selesai?

Siapa yang tahu. Kita tak bisa mewawancarai orang yang sudah tiada. Jadi, tidak ada kejelasan dan kemutlakan bahwa kematian adalah solusi. Amit-amit jabang bayi, ya.

Aku sering merasakan bagian tak enaknya hidup ini. Baik sepele, maupun luar biasa pahit. "Tiap orang juga punya masalah masing-masing." Aku selalu melipur diriku sesering mungkin. Jangan sampai ada bibit depresi menghinggapiku.

Kalau bukan diri sendiri yang menyayangi seperti ini, siapa lagi?

Mengingatkan kembali, jangan menaruh harapan orang lain akan menyayangi kita. Belum tentu seperti itu adanya. Lebih baik mengerahkan seluruh tenaga untuk melindungi diri sendiri.

Inilah pentingnya mencintai diri dan menjauhkan dari harapan-harapan semu. Tujuannya baik, yakni demi keselamatan dan kesehatan mental sendiri.

Jangan sampai demi mengharapkan orang lain dan berujung kecewa, malah membuat orang-orang sekitar kita mengkhawatirkan keadaan diri. Jangan-jangan dia akan ... Jangan-jangan ...

Sehingga yang terjadi adalah menciptakan kekacauan model terbaru: membuat orang lain khawatir. Seharusnya, pertambahan usia juga berbanding lurus dengan kematangan pola pikir.

Baiklah, ada tip-tip ampuh dariku untuk menyayangi diri sendiri. Pertama, memikirkan kebaikan diri sendiri adalah prioritas. Lupakanlah segala yang tidak enak dan menyakitkan hati. Kamu pantas mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan sebagai balasan dari kebaikanmu juga.

Kedua, manjakanlah diri sejenak. Misalnya, tidak melakukan apa pun seharian boleh-boleh saja. Ini sebagai bentuk menghormati diri yang sudah berjuang menjalankan aktivitas dan rutinitas seperti biasanya.

Memberi ruang kepada tubuh untuk "tidak ngapa-ngapain" akan terasa nikmat. Setelah itu, ya kerjakan apa-apa yang perlu dilakukan. Jangan keterusan ya, hehe.

Ketiga, mencurahkan isi hati. Baik kepada orang tua, sahabat, atau buku harian. Jangan curhat di media sosial. Untuk masalah pribadi, seharusnya menjadi konsumsi pribadi saja. Dan, jangan asal cerita kepada orang. Belum tentu dia adalah orang yang dapat dipercaya.

Nah, tip di atas adalah kebiasaan yang kulakukan sendiri di kala duka menghampiri hidupku. Semoga, kita bisa meminimalisir "racun" dalam kehidupan kita ini.

Kehidupan yang rumit jangan ditambah rumit dengan "masa bodoh" terhadap diri. Justru membutuhkan penyederhanaan yang tidak remeh. Aku menyayangi diriku sebagaimana aku menyayangi dan peduli kepada orang lain. Termasuk kamu yang membaca ini, iya kamu!