“Udah tengah malam gini, kok baru pulang? Dia kerja dimana hingga pulang larut malam? Apa yang dia lakukan di luar sampai pulang jam segini?” Mungkin ini adalah beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh masyarakat ketika menyaksikan perempuan pulang larut  malam.

Di zaman dulu begitu tabu dan tak biasa menyaksikan perempuan pulang larut malam. Jika ada perempuan pulang malam, pandangan masyarakat lebih dominan menilai pada hal yang berkonotasi negatif atau perempuan nakal.

Perempuan yang pulang malam bisa menjadi bahan gunjingan dan penyedap dalam pertemuan ibu-ibu yang suka ngerumpi, “Eh, tahu nggak anak si Anu, saya lihat sering pulang malam. Nggak banget deh, ngapain perempuan pulang malam-malam gitu.” Dan banyak lagi kata-kata yang lebih tersirat pada hal-hal yang lebih memojokkan si perempuan yang pulang malam.

Pandangan masyarakat dulu atau mungkin sampai sekarang masih berpikiran terhadap perempuan pulang larut malam yaitu takutnya nanti diganggu laki-laki, kriminalitas atau kejahatan (fitnah keamanan). Kegiatan di luar hanya sebagai hura-hura saja atau sebutlah pacaran, pergi main dengan pacar (fitnah khalwat dengan lawan jenis). Benar, mungkin alasan seperti itu bisa diterima. Tapi apa benar semua perempuan yang pulang larut malam seperti itu?

Di saat sekarang ini atau sebutlah di zaman millenial ini banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada malam hari (keluar malam) atau pulang larut malam. Tak terkecuali laki-laki maupun perempuan. Tuntunan tugas, kuliah, organisasi, kerja dan kegiatan lainnya yang benar-benar tak bisa ditinggalkan seringkali membuat perempuan pulang malam. Semua dilakukan bukan hanya untuk main-main atau hura-hura yang tak jelas. 

Dibalik itu ada sebagian perempuan yang was-was ketika pulang malam, namun ketika yang dilakukan bersifat positif dan rasa aman untuk pulang bisa dikendalikan, apa salahnya? Toh sekarang ada jasa antar atau jemput seperti grabb atau gojek yang bisa membuatmu aman dan terkendali sampai di rumah, semoga.

Ketika saya bekerja di Jakarta dan sering membuat saya pulang hingga pukul 01.00 WIB malam, membuat orangtua saya khwawatir. Bahkan ada teman yang bilang, “Kamu nggak takut sering pulang malam-malam gitu? Apalagi sekarang musim begal, mending cari kerja lain yang bisa pulang sore deh.” Duh, duuuh. Kata begalnya itu loh, yang membuat saya nggak kuat. 

Halusinasi saya mulai meraba-raba, kekhawatiran sedikit menghampiri. Ditambah kosan saya letaknya lebih kurang 200 meter berjalan kaki dari jalan raya dan itupun tak bisa dimasuki motor. Sempit sangat sempit. Jarak antara rumah satu dan lainnya hannya dibatasi untuk jalan lebih kurang 1 meter. 

Kalau misalkan ada orang yang mengganggu dan mengejar, waduh susah untuk berlari bebas. Ketika itu saya hanya menguatkan tekat saja dan berharap kepada Tuhan agar Dia tetap menjaga dimana dan kapanpun saya berada. Dan alhamdulillah, ternyata Tuhan menjaga dan melindungi saya.

Selama itu saya bekerja di Jakarta tak pernah terjadi apa-apa dan dan tak pernah terjadi hal-hal yang menakutkan bagi saya. Paling, pernah saya disapa bapak-bapak atau mas-mas yang duduk di warung yang tak jauh dekat kosan, begini, “Kok baru pulang neng?” Dengan tetap sopan saya menjawab, “Tadi masuk siang pak, jadi pulangnnya malam.” Atau kadang saya menjawab, “Hari ini lembur pak.”

Berjalannya waktu mungkin sudah mengenali wajah saya, juga pernah menegur, “Lembur lagi ya neng? Hati-hati ya.” Semua sapaan atau teguran yang dilontarkan kepada saya hanya saya anggap itu adalah sebagai sapaan positif dan bukan berniat untuk mengganggu.

Saya berharap semoga perempuan di luar sana yang biasa pulang malam katakanlah mengerjakan tugas kuliah, bekerja dan lainnya, tetap berada dalam kondisi aman dan tidak menjadi sebuah ketakutan ketika pulang malam.

Bagi masyarakat juga jangan terlalu memandang rendah atau menilai negatif terhadap perempuan yang pulang larut malam. Tentunya dengan catatan bagi perempuan yang keluar atau pulang malam, pergi keluar tidak hanya untuk main-main yang tak jelas dan ada manfaatnya.

Baru-baru ini, ada isu yang sangat hangat tak lain dinyatakan bahwa perempuan yang pulang malam dianggap sebagai gelandangan. Aduh, rendah sekali. 

Pasalnya wanita yang pulang malam bisa kena denda berdasarkan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang diusulkan oleh Joko Widodo. Walaupun RKUHP ini sifatnya masih penundaan tetap saja perihal ini menjadi kontroversi di kalangan masyarakat khususnya wanita karir. 

Larangan terhadap perempuan yang pulang malam karena bekerja dan terlunta-lunta di jalan bisa dikenakan biaya Rp 1.000.000,-. Berarti perempuan yang pulang malam dengan alasan apapun melebihi jam yang ditentukan akan dikenakan sanksi. (Lihat Suara.com).

Pasal yang diusulkan atau direncanakan oleh Presiden yang tercinta ini mendapatkan beberapa tanggapan di masyarakat, khususnya di kalangan perempuan. Ada yang setuju, menyetujui syarat dan sangat tidak setuju karena memiliki pekerjaan dan terkadang  benar-benar dituntut untuk pulang malam. 

Tentu semua ini perlu ada kejelasan, atas dasar apa perempuan tidak boleh pulang malam bahkan dikenakan sanksi yang tak begitu sedikit uangnya.

Walupun belum ditetapkan dan disahkan secara pasti. Perihal ini semua membuat saya bertanya-tanya. Atas dasar apa perempuan tidak boleh pulang malam? Perempuan yang berusia minimal dan maksimal berapa yang tak boleh keluar dan pulang malam? 

Bagaimana kalau pulang malam sudah dijadwalkan dari PT tempat bekerja, apakah sanksi ditanggung si perempuan atau perusahaan? Bagaimana keluar atau pulang malam untuk kuliah? 

Bagaimana dengan ibu-ibu yang memiliki warung atau usaha yang warungnya tutup malam dan mungkin ia tak punya suami, tidak bolehkan dia punya usaha? Kalau misalkan tidak, mungkinkah diberi uang bulanan untuk si ibu. Ibu-ibu perempuan juga toh. 

Perempuan statusnya seperti apa yang tak boleh keluar atau pulang malam? Pertanyaan terakhir, boleh tahu nanti uang sanksi atau denda atas pulang malamnya dialokasikan untuk apa dan mungkinkah untuk...? Ah jangan-jangan bapak nanti inginkan perempuan banyak yang keluar dan pulang malam, biar Indonesiaku makin kaya. Amboi, terlalu seksikah dugaan dan pertanyaan saya?

Jika isu tentang perempuan pulang malam didenda ternyata hoax dan tak benar adanya,  ya memang mesti begitu. Karena jika pasal tersebut benar adanya jelas sekali membatasi hak hidup perempuan yang juga mempunyai kegiatan di luar pada malam hari.

Btw, nanti saya keluar malam nih. 

Kamu ikut? Jangan takut,  nanti kita tidur tempat si anu saja.