19251_74080.jpg
www.tribunnews.com
Pendidikan · 4 menit baca

Apa yang Kamu Cari di IMM

Sudah menjadi hukum alam setiap tahun selalu banyak anggota kader baru yang masuk di IMM, namun di pertengahan jalan mereka mulai acuh dalam dunia organisasi, apatis, hedonis, dan instan pragmatis menjadi sikap yang ditekuni. Tak jelas tujuan dalam menjadi agen perubahan, sungguh merupakan sebuah contoh yang tidak etis untuk pemuda yang mengklaim dirinya aktivis.

Ngaku-ngaku kader militan, intelektual organik dengan kemampuan yang komprehensif, namun mundur dari perjuangan dan pulang di tengah jalan dengan berbagai alasan yang tidak jelas. Katanya IMM biasa saja, tidak ada perkembangan dan kemajuan, kajiannya masih sederhana, asas gerak dan perjuangannya tidak seberapa serta kesehariannya itu-itu saja.

Lalu apa yang kamu cari di IMM? Apakah hanya sebagai jembatan agar kamu masuk lembaga intra, dikenal sebagai pejabat kampus yang terlihat mempesona dengan segala aktivitasnya yang menarik perhatian MABA? Atau kau ingin dapatkan cinta dari MABA yang lucu dan imut menggemaskan atau bahkan mungkin menjadikan mereka sebagai komuditi asmara?

Coba kau lihat dirimu, kau jadikan organisasi sebagi tangga loncatan. Kau dapat apa yang kau mau lalu kau lupa dengan kebutuhan kader-kader baru. Amanat yang diserahkan padamu kau buang dan kau anggap hanya angin berlalu. Sungguh pemikiran yang sangat dungu dan lalai akan tanggung jawab terhadap ilmu.

Organisasi adalah wadah yang menampung orang-orang tertentu dengan tujuan tertentu, lalu kau kemanakan tujuan itu. Sudahkan kau mencoba mewujudkannya agar tidak ternoda  apalagi hanya menjadi selogan semata. Kau merangkat, menghamba pada penguasa, segala perintahnya siap dilaksana asalkan engkau punya nama dan terkenal sebagai anggota yang setia.

Padahal kalau kau melihat jauh di luar sana masih banyak rakyat yang harus engkau bela. Setiap hari mereka terluka, tersiksa, dan lapar tak terkira karena jatah mereka sudah dirampas dengan paksa oleh pejabat yang berkuasa dan kau masih diam saja sembari menikmati tahta yang tak seharusnya engkau rasa.

IMM punya asas dan Tri Kompetensi Dasar yang harus kamu implementasikan kepada kehidupan sosial. Tujuan dari asas-nya sudah jelas untuk mendukung dan merealisasikan tujuan Muhammadiyah, sebagaimana yang bersumber dari surat Al-Ma’un dan di contohkan KH. Ahmad Dahlan pelopor dan pencetus Persarikatan Ormas Muhammadiyah. Beliau sangat ta’at dalam beragama, luas berpengetauan, menyantuni yatim piatu dan fakir miskin serta berupaya mencerahkan kehidupan kebangsaan.

Mungkin engkau sudah hebat, pintar dan sudah seharusnya kau bersama dengan golongan atas, beraktivitas seperti layaknya penguasa atau mungkin pejabat negara, lantas apakah kamu lupa untuk apa seharusnya ilmu yang kamu punya, bagaimana agar pengetahuan itu bisa berguna, sehingga kau tidak peduli kepada mereka kaum dan rakyat yang melarat yang kesehariannya hanya menjerit, menangis, meminta-minta, dan menghamba demi mendapatkan makan.

Pepatah bijak menyatakan: Agama tanpa Ilmu seperti lentera ditangan bayi, dan Ilmu tanpa Agama seperti lentera di tangan pencuri, atau: akan celaka orang yang beragama tanpa ilmu, dan akan celaka pula orang yang berilmu tanpa beramal.

Dengan itu kuharap kau sadar dan kembali untuk bersama berjuang demi merealisasikan kehidupan sosial yang sehat. Organisasimu (IMM) masih setia dan terbuka, masih menantimu pulang sebagai anggota, dan siap menampung agar dan demi kebersamaan, kekeluargaan tetap terjaga. Organisasimu (IMM) masih setia menerima setiap keluh kesah yang kau rasa, dan selalu ada dikala engkau membutuhkannya.

Aku ingin kau sadar, perkaderan, jabatan dan kedudukan lembaga intra hanya sementara. Selesai masa menjabat kamu tak akan lagi di ingat dan kau akan terlupa. Sementara IMM perkaderan hingga akhir hayat karena besarnya misi yang kau bawa. Di belakan pundakmu menyandang dan tertulis nama Muhammadiyyah yang berusaha mencerahkan kehidupan bangsa.

Apa yang kamu cari di IMM. Bukankah kau ingin menjadi orang yang mulia dengan berbagai ilmu pengetahuan kepada mereka yang membutuhkan. Lalu kenapa kau malah menghindar seakan kau tak punya hubungan yang mengikat setelah melewati proses perkaderan. Aku tidak mengutukmu karena merangkak jadi pejabat. Tapi aku ingin kau kembali pulang tanpa harus kehilangan semnagat dan rasa tanggung jawab terhadap pengetahuan.

Silakan kamu menjabat, IMM akan semakin senang kalau kamu jadi sukses, tapi jangan lupa untuk sesekali pulang karena mereka juga punya rindu sebagai keluarga. Silahkan jadi orang hebat, penguasa, bahkan pemimpin negara tapi kembalilah pada IMM karena mereka adalah ikatanmu yang sudah terjalin dengan erat. Demikianlah transformasi ruh Muhammadiyah kepada kader-kadernya yang seperti ayah dan anak. Yang selaras bergerak, pondasi perjuangannya sama. Serta tujuan mereka sama.

Terkait kenapa saya menyatakan hal tersebut tidaklah lain beranjak dari petuah-nya sang tokoh ternama yang dikenal sebagai perintis persyarikatan Muhammadiyah, yaitu KH. Ahmad Dahlan menyatakan:

“Muhammadiyah yang sekarang ini, lain dengan Muhammadiyah yang akan datang, maka teruslah kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja, jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah, jadilah Master, Insinyur dan lain-lainya dan kembalilah kepada Muhammadiyah”. serta: “Hidup-hidupilah Muhammmadiyah dan jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah

Dua rangkaian kalimat sebagai bentuk pengabdian ini merupakan ciri khas kader IMM dalam mengabdikan diri di organisasi. Karena mereka tau bahwa IMM adalah tempat untuk berproses  menjadi bukan tempat untuk memiliki dan menguasai.

(Al-Islam Agamaku, Muhammadiyah Perjuanganku, IMM gerakanku, dan Tamaddun Jati Diriku).