2 tahun lalu · 421 view · 3 menit baca · Perempuan pexels-photo-27141-large.jpg
www.pexels.com

Apa yang Dirindukan Perempuan?

Tak sedikit kaum pria yang berpendirian bahwa modal terpenting yang bisa dijadikan senjata utama dalam upaya meluluh-lantahkan hati perempuan ialah ketampanan dan kemapanan.

Orang tampan, bagi mereka, tak akan sulit untuk mencari pasangan. Apalagi jika ketampanan tersebut dipoles dengan kemapanan. Sebagaimana orang mapan juga tak akan sulit mencari wanita idaman. Apalagi jika kemapanan tersebut ditambal dengan ketampanan.

Fakta bahwa ketampanan dan kemapanan merupakan dua hal yang dirindukan oleh perempuan tentu tak bisa kita abaikan. Tapi, di balik dua hal tersebut, sejujurnya ada dua hal lain yang selama ini sering dilupakan.

Perempuan sih sebetulnya ingin mengutarakan, tapi mereka tak berani karena laki-laki—dalam pandangan mereka—mestinya harus lebih paham dan pengertian. Perempuan tak jarang merasa malu untuk berterus-terang, tapi laki-laki kadang merasa tak perlu sehingga pada akhirnya mereka mengabaikan kepedulian.

Pertanyaannya kemudian: apa sih sebetulnya hal terpenting yang harus dimiliki oleh laki-laki dan yang paling dirindukan oleh perempuan? Sabar gan. Menjawab pertanyaan ini kita perlu berjalan secara pelan-pelan.

Tapi saya dirundung kekhawatiran, kalau tulisan ini mengular dan diperpanjang bisa-bisa tulisan ini terasa asin dan membosankan. Alih-alih dibaca dengan penuh perhatian, yang ada bisa diabaikan. Okelah. Daripada tulisan ini dilewatkan, mending sekarang juga saya kemukakan jawaban.

Saya berkeyakinan, bahwa jumhur kaum pria pasti tahu terkait soal ini sehingga mereka tak perlu penjelasan. Tapi meskipun mereka tahu, dua hal ini seringkali dilupakan dan tak diperhatikan.

Akibatnya, hubungan yang sudah dipahat dengan setumpuk pengorbanan tak jarang berakhir dengan keretakkan. Dan kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas spirit keharmonisan pun ujungnya terasa suram-buram dan penuh dengan kegalauan.

Kalau hubungan sudah ditimpa gempa kegalauan, tempe mendoan pun terasa seperti triplek bangunan. Dan kenyataan semacam ini harus diatasi, tak boleh dibiarkan.

Kembali kepada persoalan: apa yang dirindukan perempuan? Inilah pertanyaan paling asasi yang harus segera diberikan jawaban. Penjelasan singkatnya akan segera saya paparkan.

Ya. Laki-laki itu sejujurnya perlu sadar bahwa hal yang paling esensial dan paling dirindukan oleh para perempuan dari mereka bukan hanya sekedar ketampanan dan kemapanan. Tapi juga kejantanan dan kesetiaan.

Ketampanan seorang pria menjadi tak bermakna manakala ketampanan tersebut tak mampu membuatnya menjadi sosok yang setia. Sebagaimana kemapanan seorang pria juga menjadi tak berarti apa-apa manakala dirinya tak mampu melayani perempuan dengan gagah perkasa persis seperti lesatan roket yang mengudara ke luar angkasa (Aduh, aku pun tak tahu dari alam mana kosa-kata ini bisa tiba dan mendarat di kepala. Haha).

Poin kesetiaan ini, saya kira, sudah dimafhumi dengan baik oleh semua. Tapi, menyangkut soal kejantanan ini rasanya penting untuk dielaborasi secara lebih mendalam sehingga bisa dipahami sebagaimana mestinya.

Sebab, harus diingat, bahwa kejantanan merupakan salah satu pilar terpenting dalam merajut kebahagiaan. Absennya kejantanan potensial meredupkan harmonisme dan cinta antara kedua pasangan. Sebagaimana hilangnya kesetiaan juga tak jarang memburam-hitamkan hubungan suci yang telah diikrarkan di hadapan Tuhan.

Kembali kepada soal kejantanan; poin terpenting yang sering dilupakan. Nah, secara teoritik, kejantanan itu ada dua macam: ada kejantanan internal (al-Rujûlah al-Dâkhiliyyah), dan ada kejantanan eksternal (al-Rujûlah al-Khârijiyyah).

Atau, dengan istilah lain, ada yang disebut dengan "kejantanan psikologis" (al-Rujûlah al-Fsikûlûjiyyah), dan ada yang diistilahkan dengan "kejantanan bilogis" (al-Rujûlah al-Biyûlûjiyyah).

Kejantanan model pertama itu bisa diverifikasi melalui keterbukaan, ketegasan dan kesetiaan (bagi 'ulama' bermazhab moderat yang memandang bahwa kesetiaan itu secara embeded masuk kedalam prinsip kejantanan). Sedangkan kejantanan model kedua hanya bisa diraba melalui hubungan yang halalan thayyiban.

Orang yang jantan pada level pertama belum tentu memiliki amunisi kejantanan pada tingkatan yang kedua. Sebagaimana orang yang sudah teruji kejantanannya pada tingkatan kedua juga belum tentu memiliki watak kejantanan pada level pertama.

Dengan demikian, yang pertama tak berkait-kelindan dengan yang kedua, sebagaimana yang kedua juga tak bisa diverifikasi melalui yang pertama. Artinya, keduanya tak memiliki "talâzum", dalam istilah Ilmu Logika.

Jika fungsi kejantanan pertama sangat dibutuhkan sebelum merajut rumah tangga, maka kejantanan kedua tak boleh diabaikan ketika kedua pasangan sudah hidup bersama. Rapuhnya keharmonisan rumah tangga tak jarang disebabkan oleh kejantanan nomer dua.

Sebab, manakala bangunan rumah tangga sudah tertata, kejantanan pertama hampir sudah kehilangan relevansinya. Meskipun tetap dibutuhkan walau dengan fungsi dan aktualisasi yang berbeda.

Yang menjadi pertanyaan kemudian ialah: bagaimana kita mengawinkan dua kejantanan tersebut dengan mesra agar perempuan bisa bahagia?

Aduh, aku tak kuasa menjelaskan ini semua. Ini semua sudah di luar kapasitas mahasiswa, karena ini sejujurnya adalah tugas utama dokter Boyke yang suka tampil di layar kaca.

Aku hanya khawatir kalau tulisan ini dilanjutkan bisa merangsang kemungkaran yang tak disangka. Sudahlah, yang penting jawaban inti sudah mengemuka, soal rincian biarlah itu menjadi renungan kaum pria.

Semoga tulisan singkat ini menjadi representasi dari rintihan kaum Hawa. Dan semoga tulisan sederhana ini menjadi alarm bagi kaum pria yang tak mampu memahami apa yang dirindukan oleh wanita. 

(Kairo, Zahra-Medinat Nasr 03 Oktober 2016)