Tiga sosok utama dengan jalan hidup berbeda, dituturkan dalam dua jalur kisah yang berbeda.

Once Upon a Time in… Hollywood, berkisah tentang Rick Dalton bintang serial televisi akhir tahun 60-an yang ketenarannya mulai meredup.

Beruntung Rick Dalton punya sahabat setia yang sekaligus berprofesi sebagai pemeran penggantinya untuk adegan-adegan berbahaya, bernama Cliff Booth. Keduanya kompak saling dukung demi bertahan dalam kehidupan semu di tengah persaingan ketat, dalam belantara Hollywood.

Di sisi lain, sejalan dengan kisah kedua sahabat itu, adalah Sharon Tate aktris muda bintang serial televisi pada era yang sama, tengah naik daun menuju popularitas, dalam gemerlap Hollywood.

Tiga sosok utama dengan jalan hidup berbeda, dituturkan dalam dua jalur kisah yang berbeda.

Rick Dalton bersusah payah mencoba mencapai ketenarannya sebagai bintang serial televisi hingga ke Italia, membintangi serial koboi rasa spageti yang sangat tidak disukainya, demi batu loncatan kariernya. Cliff Booth, yang veteran perang pun tetap berusaha menjadi sosok sahabat setia bagi Rick Dalton.

Sementara dalam jalur kisah yang sama, namun bertolak belakang dengan kisah kedua pria bersahabat itu, adalah Sharon Tate yang menikmati karunia sebagai aktris yang kariernya bagai sedang melewati jalan lebar nan lengang.

Dalam perjalanannya, kedua jalur kisah yang berdampingan itu menemukan satu titik persimpangan yang sama, berupa peristiwa memilukan.



...imajinasi, yang menawarkan alternatif terhadap jalannya sejarah tertulis...

Once Upon a Time in… Hollywood, karya sinema ke-9 besutan Quentin Tarantino ini jelas dinanti penggemarnya, termasuk oleh Penulis.

Quentin Tarantino menggenggam piala Oscar pada tahun 2013. Sebuah penghargaan untuk film besutannya Django Unchained yang berhasil meraih kategori Naskah Asli Terbaik. Quentin Tarantino dikenal sebagai sosok pendobrak tuturan linier menjadi carut-marut tak karuan, namun berujung dalam satu untaian kisah. Foto sumber: cuplikan imdb.com

Selayaknya karya-karya sinema Tarantino yang lain, seperti Reservoir Dogs (1992), Pulp Fiction (1994), Jackie Brown (1997), Kill Bill Volume 1 (2003), Kill Bill Volume 2 (2004), Inglourious Basterds (2009), Django Unchained (2012), The Hateful Eight (2015), maka Quentin Tarantino gemar menyuguhkan khayalan yang diumbar bertele-tele, tak linier lagi tak mudah ditebak, kepada setiap pemirsa yang sekaligus penggemar setia karya-karya layar perak garapannya.

Resevoir Dogs (1992) menjadi karya sinema yang merevolusi tatanan kisah yang linier menjadi berantakan tak tertebak dengan tetap mempertahankan pemirsa tetap menikmatinya hingga tamat. Foto sumber: cuplikan video koleksi Pribadi.

Pemirsa yang bisa menikmati film-film karya Quentin Tarantino, yang gemar mengeksploitasi tulisan-tulisan besar berwarna kuning di layar lebar, memang sekaligus penggemar setianya.

Aktor John Travolta dan Samuel L. Jackson berdialog tak penting, membahas setangkup roti burger pada satu adegan dalam Pulp Fiction (1994). Foto sumber: cuplikan video koleksi Pribadi.

Betapa tidak, buat apa selama dua jam lebih terbuang dalam bioskop yang gelap gulita, dengan suguhan alur cerita bergambar yang ngegrambyang, tak tertebak kemana rimbanya, bersama pesan moral yang bukan dibagian akhir cerita, namun menyelip tipis dalam setiap dialog-dialog remeh, yang sebenarnya tak perlu disajikan sebagai bagian alur cerita.

Seringkali Quentin Tarantino menyisipkan selera humor tipis bagi pemirsa karya-karyanya, yang kritis menangkap lelucon. Seperti dalam adegan Django Unchained (2012) diperankan oleh aktor Jamie Foxx yang tengah menjelaskan cara melafalkan Django dengan huruf D yang terdengar tipis. Foto sumber: cuplikan video koleksi Pribadi.  

Termasuk ungkapan imajinasi liarnya yang tak umum, seperti sekawanan serdadu Amerika Serikat yang meluluhlantakkan seorang Hitler menggunakan pistol mitraliur andalan pasukan Jerman selama berkobar perang dunia kedua, yakni Maschinenpistole 40 atau lebih dikenal MP 40. Lalu membakar hidup-hidup semua petinggi Nazi dalam sebuah gedung bioskop. 

Betapa Inglourious Basterds sebuah karya Quentin Tarantino yang mengumbar khayalan, seolah menawarkan adanya versi lain perihal kisah yang secara resmi dipublikasi sebagai bagian sejarah dunia.

Inglourious Basterds (2009) menawarkan imajinasi alternatif yang liar tentang catatan sejarah dalam perang dunia kedua. Foto sumber: cuplikan rottentomatoes.com  

Pun halnya dengan Once Upon a Time In… Hollywood ini yang sejatinya bertutur tentang Sharon Tate adalah kisah nyata, dimana hidupnya berakhir tragis ditangan kelompok kriminal pada akhir tahun 1969.

Aktris Margot Robbie (Kanan) Memerankan Sosok Nyata Sharon Tate (Kiri) dalam Once Upon a Time in… Hollywood. Foto sumber: Article ‘Margot Robbie paid homage to the late Sharon Tate at Cannes Film Festival’, foxnews.com, 2019.

Uniknya, film ini tak mengeksploitasi kisah nyata Sharon Tate.

“Buat apa?! ... Apa yang menarik? Dimana letak simpul yang rumit, jika hanya bertutur tentang kisah nyata belaka?” Mungkin demikian sang Quentin Tarantino berkilah.

Maka dari itu, kisah yang sebenarnya hendak mengulas rinci jelang kematian Sharon Tate pada tahun 1969 pun diperkaya dengan sosok dan kisah hidup fiktif, namun menggugah. Yakni, betapa berlikunya jalan hidup Rick Dalton dan Cliff Booth.

Aktor Leornado D’Caprio dan Brad Pitt Memerankan Sosok Rick Danton dan Cliff Booth dalam Once Upon a Time in… Hollywood. Foto sumber: cuplikan rottentomatoes.com

Semakin liar lagi, ketika diselipkan beberapa cuplikan kisah yang bersifat paradoks, yang sekali lagi tak penting, tentang keberadaan beberapa sosok papan atas Hollywood tahun pada jamannya, yang keluar dari pakem sejarah tertulis yang diakui oleh dunia.

Seperti betapa seorang Bruce Lee yang melegenda dengan Jet Kundo-nya itu, tak berdaya dibanting telak oleh Cliff Booth.

Atau, Steve McQueen yang berkeluh kesah tentang rumitnya hubungan percintaan selebriti Hollywood demi mengejar kesuksesannya, sebaliknya Rick Dalton berkeluh kesah tentang kekalahan kastingnya dengan Steve McQueen dalam film legendaris The Great Escape.

Juga, perjuangan Rick Dalton bersusah payah mengingat dialog skenario di tengah kegundahan hatinya sebagai pesohor yang bernasib di ujung tanduk.

Semua kisah nyata tentang pesohor Hollywood dalam film ini memang nyata. Namun dengan kehadiran Rick Dalton dan Cliff Booth, kisah Once Upon a Time in… Hollywood menjadi tersuguhkan dengan bahasa ‘seandainya’.

Adegan kontroversial aksi laga Cliff Booth membuat Bruce Lee tak berdaya dalam Once Upon a Time in… Hollywood. Adegan yang mengubah mindset tentang sosok legenda Kungfu tak terkalahkan ini, bahkan membuat film ini ditunda penayangannya di wilayah Cina pada tahun 2019. Foto sumber: Article ‘China delays release of Quentin Tarantino’s Once Upon a Time in… Hollywood. Was it over Bruce Lee row?, scmp.com, 2019.

Liar memang. Tak faktual dan hanya menjadi imajinasi, yang menawarkan alternatif terhadap jalannya sejarah tertulis, yang lebih dianggap sah oleh dunia nyata.

Hingga pada akhirnya, menjelang detik-detik yang seharusnya Sharon Tate meregang nyawa ditangan kelompok anak muda kriminal, sekali lagi, justru imajinasi liar Quentin Tarantino yang menawarkan sejarah bagaimana akhir kisah yang menjadi imajinasinya.

Poster Once Upon a Time in… Hollywood yang Tayang Mendunia Pada tahun 2019. Foto sumber: cuplikan imdb.com

Once Upon a Time in… Hollywood, telah meninggalkan kesan yang sedemikian rupa, hingga membuat pemirsa bermenung lama, untuk mencoba merangkai puzzle-puzzle yang berserakan, lalu menyatukannya satu persatu agar menjadi gambaran kisah yang tersirat.

Sebuah karya sinema yang semakin menasbihkan karya-karya Quentin Tarantino yang selalu menyiratkan pesan bahwa apa-apa saja yang dilihat oleh pemirsa, tak sepenuhnya seperti apa yang terlihat.

Setelah menikmati kisah dalam jalinan tuturan yang tercerai-berai namun sebenarnya menyatu, maka dalam hati si pemirsa pun lantas berujar;

Well, mister Tarantino, saya nanti karya Anda yang kesepuluh.”