Indonesia memang unik bagi saya. Unik karena memiliki berbagai karakter baik itu suku, agama dan budaya. Ekspetasi dari keunikan tersebut adalah untuk menyatukan perbedaan dan mengesampingkan ego masing-masing Sayangnya ekspetasi hanyalah menjadi ekspetasi semata. Realita yang dihadapkan kita adalah ada sekelompok dari golongan tertentu berusaha mendesak dengan menggunakan agama sebagai senjata.

Sudah bukan rahasia umum lagi, jika agama menjadi senjata paling mainstream digunakan kelompok tertentu. Mulai dari aksi penggeberekan, pembubaran acara keagamaan lain sampai dengan urusan politik. Pandji Pragiwaksono dalam acara standup comedynya yang berjudul Mesakke Bangsaku bertutur "Indonesia tidak bisa bersatu karena yang mayoritas belagu dihadapan minoritas, dan minoritas meresa kerdil dihadapan mayoritas" Walau dia bukan seorang politisi atau orang yang ngerti soal agama, namun ada benarnya yang diucapkan dia.

Suka atau tidak suka sekelompok mayoritas selalu mereka dirinya paling tinggi dan bisa melakukan apapun seenak jidat. Jangankan soal agama, hal-hal diluar agama saja masih terdapat kasus seperti itu. Dosen saya, Romo Gregorius Heliarko. SJ pernah ngomong blak-blakan dihadapan mahasiswanya sendiri.

"Dosen Indonesia pada umumnya gak mau terlihat jatuh dihadapan mahasiswanya. Jadi kalo ada mahasiswa menanyakan pertanyaan yang gak bisa dijawab dosen tersebut. Dosen tersebut akan marah dan ngeles kaya politisi"

Dalam kasus tersebut, dosen sebagai mayoritas karena dia punya ilmu pengetahuan dan penghuni kampus bertahun-tahun. Sedangkan sang mahasiswa saya kelompokan minoritas karena mereka membayar dosen yang menjual ilmunya kepada mereka. Walau dosen jumlahnya sedikit, tetap saya bilang mayoritas karena dia punya segalanya yang dibutuhkan mahasiswa untuk lulus kuliah. 

Mayoritas dan minoritas bukan lagi soal jumlah banyaknya orang penganut. Mayoritas dan minoritas bisa dilihat dari seberapa banyak orang melakukan tekanan dan desakan pada sekelompok tertentu. Seperti pada jaman dimana orang berkulit hitam diperlakukan seperti budak dan diperjualbelikan pada orang berkulit putih. Kejadian itu ada di Afrika Selatan. Taulah Afrika mayoritas orangnya bentuknya bagaimana. 

Kembali ke masalah di Indonesia, secara mayoritas jumlah penduduk terbanyak beragama islam. Secara kebijakan politik dan tetek bengeknya mayoritas memakai pendekatan syariat islam. Sampai-sampai ada yang pengen ngubah Pancasila menjadi lebih syariah. Mengubah demokrasi menjadi syariat islam karena paham demokrasi yang bikin orang kafir.

Kamu juga bisa contohnya kemarin di Gedung Sabuga, ITB, pada saat orang mau beribadah yang dipimpin oleh Pendeta Stephen Tong. Tiba-tiba kelompok Ormas Islam Pembela Ahlu Sunnah (PAS) dan Dewan Dakwah Indonesia (DDI) datang dan mengusir orang yang sedang asik beribadah. Bukan pihak pengelola gedung tapi ngusir.

Belum lagi yang baru saja jadi topik di Yogyakarta, baliho pendaftaran mahasiswa UKDW terpaksa dicabut karena ada gambar mahasiswi berhijab. FUI Yogyakarta langsung baper dan ngomong ke UKWD buat nyabut baliho tersebut. Sebagai mahasiswa, saya tahu alasan mengapa pihak kampus memilih orang-orang tertentu menjadi wajah jualan untuk mencari mahasiswa baru.

Alasan yang paling utama adalah karena mahasiswa dan mahasiswi tersebut berprestasi. Kebetulan saja mahasiswi berhijab tersebut mendapat prestasi sehingga pihak UKDW minta dia jadi model pajangan buat jualan menggaet mahasiswa baru.

Dari kejadian tersebut, cobalah bertanya pada diri sendiri. Ngapain aja kamu sewaktu ada pelajaran agama? Apakah kamu tidur, bolos dan cabut ke kantin. main dota atau menanggap agama pelajaran paling tempe karena gampang mendapat nilai bagus. Jika kamu melakukan salah satu dari keempat opsi yang saya sebutkan atau bahkan semuanya. Saya sarankan belajar kembali tentang agama agar otakmu isinya nggak cuma rasis, boikot, kafir dan haram-mengharamkan.