Matthijs De Ligt akhirnya resmi pindah ke Juventus dengan transfer 85.5 juta euro. Ia kini menjadi bek termahal dalam sejarah sepak bola Italia. Peraih Golden Boy 2018 itu berhasil direkrut Juve setelah melewati proses negosiasi panjang.

De Ligt bukan hanya punya bakat teknis. Kematangan mentalnya pun sudah diakui. Pemain yang baru genap berusia 20 tahun pada 12 Agustus nanti itu telah menjabat kapten Ajax Amsterdam sejak Maret 2018. Sampai saat ini, ia adalah kapten termuda Ajax sepanjang sejarah.  

Berbekal talenta teknis dan kepemimpinan, wajar bila banyak klub besar Eropa berminat merekrut De Ligt. PSG, Manchester United, Barcelona, dan Bayern Munich berada di deretan klub yang pernah berminat padanya.

Menolak Barcelona, Memilih Juventus

Khusus Barcelona, De Ligt pernah santer dikabarkan hampir pasti pindah ke Nou Camp. Keahliannya sebagai bek pengalir bola sangat cocok dengan identitas permainan Barcelona, tiki-taka. Gaya bermain De Ligt sering disebut mirip dengan Gerard Pique, bek Barca.

Pada awal Mei 2019 lalu, Vivian, ibunda De Ligt, sempat memuji Barcelona sebagai klub yang bagus. Sebuah pernyataan yang dinilai sebagai kode kepindahan anaknya ke Blaugrana. Kepindahan Frenkie De Jong ke Barca makin menguatkan rumor tersebut. De Jong adalah rekan setim De Ligt di Ajax.

Namun akhirnya De Ligt malah pindah ke Juventus. Barcelona gagal mendapatkan tanda tangannya meski Josep Bartomeu sempat langsung terbang ke Amsterdam. Diduga pemain terbaik Belanda musim 2018/2019 tersebut enggan pindah ke Barca karena tidak dijamin menjadi pemain inti.

Dengan menolak “klub ideal” untuknya, Barcelona, apa yang akan didapatkan De Ligt di Juventus? Si Nyonya Tua jelas bukan klub yang lebih buruk dibanding Barca. Bianconerri adalah penguasa Italia. Merekalah juara Serie A dan Copa Italia terbanyak.

Di Eropa, Juve dua kali menjuarai Liga Champions, sekali Piala Winners, dan tiga kali Piala UEFA. Dalam lima musim terakhir, Le Zebre dua kali mencapai final Liga Champions. Jadi De Ligt pindah dari klub juara Liga Belanda ke klub juara Serie A.

Sebagai pemain muda, setidaknya ada dua hal yang bisa dipelajari De Ligt di Juventus. Pertama, ia dapat menajamkan keahlian sebagai bek pengalir bola. Kedua, jiwa kepemimpinannya akan makin matang di Turin. 

Keahlian sebagai Bek Pengalir Bola

Di Italia, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini sudah dikenal sebagai bek pengatur bola yang andal. Dua bek tengah senior Juve tersebut bukan hanya jago menghentikan serangan lawan, tapi juga memulai serangan balik tim dari belakang.

Leonardo Bonucci terkenal memiliki teknik, rentang operan, membaca permainan, menggiring bola yang baik, dan kemampuan memulai serangan dari belakang lewat umpan akurat. Musim lalu, ia mencatat rerata 0.1 kali menggiring bola dan 0.3 operan kunci per pertandingan.

Dalam mengoper bola, Bonucci mencatat rata-rata 58.3 kali per laga. Pria bertinggi 190cm yang jago menyundul bola tersebut juga membukukan rerata 0.1 umpan silang per pertandingan pada musim lalu. Dengan kesuksesan mengoper bola 86.8%, Bonucci memang layak disebut bek pengalir bola.

Dari aspek kemampuan bertahan, kecerdasan Bonucci membaca pertandingan membuatnya memiliki antisipasi yang baik dalam menghalau serangan lawan. Ia hanya perlu mengambil posisi di saat yang tepat untuk merebut bola.

Sekalipun punya tekel kuat, Bonucci tak terlalu sering terlibat perebutan bola secara kasar dengan pemain lawan. Musim lalu, bek timnas Italia kelahiran 1 Mei 1987 tersebut, mencatat rerata 0.6 tekel, 1.4 intersep, 2.8 sapuan, dan 0.8 blok per pertandingan. Total Bonucci membukukan nilai performa 6.81 per laga musim lalu.

Sedangkan Giorgio Chiellini, terkenal sebagai pemain belakang yang agresif, berani berduel fisik dengan tekel keras. Pria bertinggi 187 cm tersebut sangat kuat mengawal pemain secara individu. Musim lalu, ia mencatat rerata 0.9 tekel, 1.3 intersep, 3.6 sapuan, dan 0.6 blok.

Selain dikenal karena kengototan dalam bertahan, Chiellini punya visi permainan yang baik dan bisa diandalkan mengalirkan bola. Sekalipun teknik dan keahlian individualnya tidak sebaik Bonucci. Musim lalu, ia membuat satu umpan yang menjadi gol, rerata 0.3 umpan kunci,

Masih berdasarkan catatan musim lalu, Chiellini rata-rata mengoper bola 58 kali per pertandingan. Kapten timnas Italia itu mengirim rerata 0.1 operan silang kepada rekannya. Dari lini belakang, pria kelahiran 14 Agustus 1984 itu juga mengirim rata-rata 4.6 operan panjang per pertandingan. Total, Chiellini mencatat  85.6% operan sukses.

Di Eredivisie Belanda musim lalu, Matthijs De Ligt dikenal mampu mengalirkan bola. Musim lalu, ia membuat satu umpan. Per pertandingan, ia rata-rata mencetak 0.4 operan kunci, 67.4 operan sukses, 0.1 operan silang.

De Ligt tercatat berhasil mengirimkan rata-rata tiga kali operan panjang kepada rekan setim. Tidak hanya itu, De Ligt berhasil memberi rata-rata 0.1 umpan terobosan kepada rekan setim per laga. Menggiring bola 0.5.

Dari aspek kemampuan bertahan, musim lalu, De Ligt rata-rata melakukan tekel 1.1 dan 1.2 intersep per laga.  De Ligt rata-rata menyapu bola dari garis pertahanan sebanyak 3.9 kali per laga. Ia juga melakukan blok terhadap bola yang mengancam pertahanannya rata-rata 0.9 per pertandingan. Total De Ligt mendapat rating 7.28

Melihat gaya permainannya, De Ligt lebih dekat kepada Bonucci daripada Chiellini. Walaupun begitu, berada di antara dua bek senior Italia dapat meningkatkan ketenangan, kemampuan De Ligt membaca sekaligus mengatur ritme permainan dari lini belakang.

Selain berlatih dan bermain di samping Bonucci dan Chiellini, De Ligt akan berada di bawah komando pelatih Maurizio Sarri. Tangan Sarri dikenal dingin memoles bakat bek-bek bertipe pengalir bola. Daniele Rugani selama di Empoli dan Kalidou Koulibally kala di Napoli adalah dua contoh bek yang bakatnya sukses diasah Sarri sebagai pengalir bola.

Kultur sepak bola Italia juga sudah terkenal menghasilkan bek-bek kelas dunia. Bila tidak ada rintangan serius, misalnya cedera panjang atau masalah indisipliner, kiranya tinggal tunggu waktu saja, kepiawaian De Ligt sebagai bek pengalir bola kelas satu dunia makin matang. Ia sudah mendapat mentor dan pelatih yang bisa meledakkan potensinya. 

Kepemimpinan

Sudah memimpin tim sejak usia 19 tahun, tentu menunjukkan keisitimewaan jiwa kepemimpinan De Ligt. Jaime Carragher, mantan  bek Liverpool, pernah memuji kematangan mental De Ligt seperti pemain berusia 24-25 tahun.

Di Juventus, De Ligt dipastikan akan terpapar dengan karakter-karakter pemimpin tim kelas satu  Rekan barunya seperti Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, Miralem Pjanic, dan tentunya Cristiano Ronaldo adalah deretan pemain dengan kualitas kepemimpinan tak terbantahkan.

Buffon adalah mantan kapten timnas Italia dan Juventus. Chiellini adalah kapten Juventus dan timnas Italia. Leonardo Bonucci pernah menjadi kapten AC Milan musim 2017/2018. Miralem Pjanic pemegang ban kapten ketiga timnas Bosnia Herzegovina. Cristiano Ronaldo adalah kapten legendaris Portugal.

Dominasi Juventus di Italia sekitar sembilan musim terakhir ini sudah pasti juga berasal dari kematangan mental dan kualitas kepemimpinan Gianluigi Buffon, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, dan Miralem Pjanic.

Kualitas kepemimpinan Ronaldo di tim nasional Portugal sudah menjadi legenda. Aksinya yang memberi semangat dan kengototan bermain pada rekan-rekannya pada final Piala Eropa 2016 setelah ia cedera akan selalu diingat orang. Berkat kemampuan Ronaldo memimpin tim, Portugal akhirnya mengalahkan Prancis 1-0 untuk kemudian membawa pulang Piala Eropa 2016.

Leonardo Spinazzola mengakui ia menjalani musim 2018/2019 yang mengesankan di Juventus. Spinazzola adalah mantan bek kiri Juve yang kini memperkuat AS Roma. 

Menurutnya, atmosfer tekanan untuk juara dan mental pemenang sangat terasa di Juventus. Hal tersebut membuat pemain kelahiran 1993 itu merasa berkembang dan berterima kasih pada Si Nyonya Tua.

Dalam lingkungan para juaralah De Ligt akan berlatih dan bermain musim depan. Rasa lapar gelar, kegigihan dan ketenangan saat menghadapi tekanan yang dimiliki para kapten senior Juventus akan menular ke dalam diri Matthijs De Ligt.

Menjadi Bek Legendaris

Terlalu prematur bila memastikan Mathijjs De Ligt pasti akan menjadi pemain belakang legendaris. Masih ada rentang masa karier 15-20 tahun lagi untuk membuktikannya. Namun, cukup aman jika menilai kepindahan De Ligt ke Juventus sebagai langkah yang tepat.

Di Juventus, De Ligt berpeluang besar mengasah keahliannya menjadi bek pengalir bola andal. Ia akan dibimbing oleh Maurizio Sarri, pelatih yang terkenal gemilang mengorbitkan bek pengalir bola. Sarrismo, taktik khas Sarri, pun memerlukan bek pengalir bola andal karena skema tersebut mengandalkan serangan yang dibangun dari belakang.

De Ligt pun tertarik dengan filosofi permainan, ide sepak bola menyerang dan bagaimana Sarri mempersiapkan lini pertahanan. Tampaknya Sarrismo sangat menarik bagi De Ligt.

Selain faktor pelatih, De Ligt juga akan diapit pemain belakang dengan kemampuan mengalirkan bola dan menjaga pertahanan yang mumpuni, Bonucci serta Chiellini. Tentu dengan catatan, Bonucci tidak dijual Juve.

Sebagai tambahan dari kemampuan teknis, kemampuan De Ligt memimpin tim juga akan makin matang. Ia akan berinteraksi dengan kapten-kapten tim yang sudah terbiasa juara. Atmosfer juara di sekitar De Ligt musim depan akan menambah semangatnya meraih gelar demi gelar.

Untuk posisi bek pengalir bola, setidaknya ada dua nama legenda yang sering dijadikan patokan dasar, Franz Beckenbauer dan Franco Baresi. Gaya main De Ligt sering dikatakan setipe dengan Gerrard Pique. Sedangkan Pique sering dijuluki Piquenbauer (mengacu pada Beckenbauer).

Demikian pula Leonardo Bonucci. Ia juga dijuluki Bonuccibauer, mengacu pada kemampuan mengalirkan bola dan mengorkestrasi serangan seperti Beckenbauer. 

Kini, De Ligt akan bermain bersama Bonucci di Italia, negara di mana kultur sepak bolanya melahirkan bek hebat Franco Baressi. Jalan Mathijjs De Ligt menjadi legenda seperti Beckenbauer dan Baresi terbuka lebar.