“Banyak ditemukan qoul dho’if dalam التقريب, tapi banyak madrasah salafiyyah yang tak meninggalkannya, karena barokahnya sangat besar. Banyak ulama’ yang mempelajarinya.”

Tulisan yang dikutip dari ucapan Pak Muhammad Arifin Fanani tersebut tanpa sengaja saya baca ketika sedang membuka Chasyiyah al-Bajuri bersama Nur Tsalits Fahman Mughni, 31 Agustus 2019 lalu. 

Saat itu kami berdua sedang membincangkan ribut soal doa qunut dalam salat Subuh, sambil khataman BLΛƆKPIИK cahaya Aslia. Chasyiyah al-Bajuri sendiri saya buka untuk menunjukkan kepada Tsalits teks yang menjelaskan perbedaan kewajiban (syarat sah dan rukun) serta kesunnahan (ba’dh dan hai’ah) salat. 

Melalui kutipan penjelasan tersebut, saya berharap agar Tsalits dapat menyimpulkan bahwa meributkan soal doa qunut adalah perilaku gumunan yang tidak sesuai dengan ajaran leluhur Madrasah TBS. Beruntung simpulan Tsalits searah dengan harapan saya.

Tsalits merupakan santri Pondok Pesantren Ath-Thullab sejak musim 2017/2018. Sejak dirinya kelas VIII lalu, hubungan kami cukup akrab secara personal. 

Keakraban tersebut saling dimanfaatkan masing-masing: Tsalits memanfaatkan saya sebagai pendamping membaca kitab kuning sementara saya menggunakannya untuk mengujicoba beberapa gagasan terkait pembelajaran kitab kuning. Mutualisme—atau saya maunya dibilang gitu.

Pembelajaran kitab kuning tampak tak wajar untuk saya jelajahi. Dari sisi keilmuan formal jelas, kuliah strata satu saya nyaris tidak bersinggungan dengan pembelajaran kitab kuning, alih-alih masuk sebagai bagian himpunan. 

Kebetulan sepanjang linikala penulisan kitab kuning yang paling bertahan, fisika sedang memasuki zaman jahiliyyah, mirip saat ini. Meskipun saya punya background sebagai santri pondok pesantren dan murid madrasah yang telah berkenalan dengan kitab kuning sejak lama, boleh dibilang tidak punya license/الإجازة untuk memandu pembelajaran kitab kuning. 

Dari sisi kepribadian personal lebih kentara, perilaku saya jauh dari 12 indikator ulama’ akhiroh yang dibuat oleh Abu Hamid Muhammad al-Ghozali. Dari kedua belas indikator tersebut, tidak ada satu pun yang menyebut ulama’ akhiroh itu penggila berat girl group K-Pop—ya memang belum ada sih waktu itu.

Walau begitu, dampak negatif ketidakwajaran memandu pembelajaran kitab kuning karena beberapa alasan itu lebih kecil dibanding dengan kalau saya enggan menerima jobdes tersebut. Apalagi pembelajaran yang saya pandu ialah model sorogan—yang alurnya mirip auditory, intellectually, repetition—dan musyawaroh yang dalam pelaksanaannya merupakan kombinasi group work dan problem solving.

Artinya, saya tidak memandu pembelajaran model bandongan (expository)—kebetulan saya paling malas cincong kalau mengajar. Kebetulan juga model pembelajaran sorogan sesuai dengan prinsip saya bahwa pembelajaran terbaik bersifat individual. 

Sementara model musyawaroh sesuai dengan arah yang saya upayakan berupa kemampuan menggunakan pengalaman terlibat pembelajaran untuk mengambil keputusan (termasuk keputusan dalam menyelesaikan masalah pribadi).

Kedua model yang biasa diterapkan oleh pondok pesantren tersebut saya maksudkan sebagai sarana memupuk keterampilan. Namun bukan berarti saya antipati terhadap model bandongan (expository). Walau banyak orang yang mencibir model ceramah, model ini tetap diperlukan karena melalui model inilah pembelajaran dapat dijadikan wahana menumpuk pengetahuan. 

Pengetahuan memang dapat diperoleh melalui bacaan—daring dan/atau luring, tapi pembelajaran tetap punya nilai tersendiri dalam menumpuk pengetahuan, dari sisi keabsahan (validity), keandalan (reliability), dan keobjektifan (objectifity).

Lalu apa saja keterampilan yang dapat dipupuk dalam pembelajaran sorogan dan musyawaroh Taqrīb? Berdasarkan pengalaman saya sebagai pemain literasi saintifik yang h-index-nya masih jauh di bawah Lisa Randall, berikut beberapa keterampilan yang dapat dilatihkan—diksinya BukUt banget ya -__-:

Mengingat dan menerapkan pengetahuan ilmiah yang sesuai

Tidak dapat dimungkiri bahwa syarat agar dapat membaca kitab kuning ialah kita harus mengerti beberapa hal terkait Bahasa Arab: kosakata (mufrodat), bentuk kata (tashrif), serta tata bahasa (i’rob). Karena itulah semua santri tahun pertama di Pondok Pesantren Ath-Thullab diwajibkan untuk mengikuti pembelajaran rumpun ilmu Bahasa Arab tersebut.

Karena arah pembelajaran ketiganya dimaksudkan agar santri dapat mengingat dan menerapkan pengetahuan terkait mufrodat, tashrif, dan i’rob untuk membaca kitab kuning, buku acuan yang dipakai pun terhitung kelas ringan, seringan berat badan Lee Sunmi cahaya Galaksi Milky Way. Maksudnya, ringan tapi berisi.

Untuk mufrodat, hanya berupa hafalan 416 kosakata kerja masa lampu (fi’il madhi). Bentuk fi’il madhi lebih dipilih ketimbang mashdar atau bentuk lain, karena pembahasan di Shorof semuanya diawali dari bentuk madhi

Hafalan 416 kosakata tersebut dipakai dalam pembelajaran Shorof, yang mengupas proses pembentukan kosakata untuk setiap keadaan. Kupasan tersebut dipelajari secara urut berdasarkan alur tutur buku Nadzom Maqshud

Ketika beberapa kosakata berpadu, Nahwu hadir untuk bertanggung jawab terhadap tata tertib membaca dan memberi makna. Pembahasan Nahwu sendiri disampaikan menggunakan buku paling populer sedunia dan akhirat: al-Ajrumiyyah

Seluruh konten yang dipelajari tersebut perlu untuk diingat dan diterapkan ketika membaca kitab kuning. Pengetahuan ilmiah lain yang diperlukan ialah Matematika sederhana berupa operasi bilangan, fungsi, penyajian dan pengolahan data, serta bangun ruang 3 dimensi, pula tata tertib menyusun kalimat dalam Bahasa Indonesia yang jelas—bukan baik dan benar.

Mengidentifikasi, menggunakan, dan menghasilkan model dan representasi yang jelas

Ketika mulai menunjukkan bentuk soal Matematika terkait kasus qullatain, banyak orang yang memfitnah bahwa saya inovatif. Padahal perilaku itu jelas-jelas konservatif. Mengapa demikian? 

Pasalnya, gagasan penyusunan soal itu saya ambil dari Chasyiyah al-Bajuri yang mengurai ukuran volume qullatain dalam 4 bentuk bangun ruang beripa kubus, balok, tabung, dan prisma. Pekerjaan saya paling cuma 2: mengalihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia yang jelas dan mengonversi satuan dziro’ ke dalam meter. Itu doang inovatifnya di mana wahai residu ekosistem?

Dalam pembelajaran Taqrīb, yang dipadu dengan Matematika sederhana itu, santri dapat dilatih untuk menghasilkan model maupun representasi uraian yang disampaikan. Misalnya model qullatain, yang selain dibuat dalam bentuk gambar bangun ruang 3 dimensi, juga bisa dipakai sebagai tugas proyek membuat bangun ruang 3 dimensi berukuran qullatain

Manfaat tugas proyek ini ialah untuk mengurangi sampah kardus yang berserakan di pondok pesantren. Bisa juga menghasilkan representasi nishob zakat dalam bentuk grafik untuk melatih keterampilan menggunakan konsep fungsi. Apalagi kasus zakat secara menyeluruh, akan ada grafik konstan pada ukuran tertentu, yang kalau diekstrapolasi garisnya bakal linear kayak bentuk badan Lim Yoona. 

Atau boleh juga membuat peta wilayah miqot makan haji dan ‘umroh serta qoshor dan jama’ salat dari koordinat tertentu. Dengan peta ini, pelan-pelan malar kita bisa buru-buru mengenalkan konsep-konsep terkait geometri lengkung—saya nggak bisa sih, pelique.

Membuat dan menjustifikasi prediksi yang sesuai

Ketika santri dapat menghasilkan model atau representasi, hasilnya dapat dipakai sebagai bahan membuat prediksi. Misalnya dengan membuat kubus berukuran 1 m, santri diminta memprediksi di mana posisi air dalam kubus tersebut ketika volume sudah memenuhi ukuran qullatain

Kalau dirasa belum puas hanya bermain dengan operasi perkalian sederhana bilangan real, juga bisa diajak bermain pembagian. Misalnya dengan memprediksi waktu yang diperlukan untuk mencapai posisi tersebut berdasarkan debit air. Hasil perhitungan itulah yang dipakai sebagai bahan menjustifikasi prediksi. Gunanya supaya kalau ro’an pondok pesantren diminta menguras bak mandi, bisa ngeles dengan cara terukur. 

Prediksi lain seperti kebutuhan makanan dan minuman berdasarkan ukuran rerata asupan energi 2000 kkal untuk jama’ah haji yang miqot-nya dari wilayah tertentu (misalnya Seoul) atau waktu memilih rest area ketika sedang plesiran atas nama field trip.

Tiga keterampilan tersebut adalah contoh beberapa hal yang dapat dilakukan melalui pembelajaran sorogan Taqrīb. Buku Taqrīb sendiri dipilih karena ruang lingkup pembahasan sudah lengkap, mulai masalah personal, lokal, nasional, sampai global. Dengan ruang lingkup luas yang disampaikan serta banyak qoul dho’if yang dikandung dalam Taqrīb, keterampilan lain seperti “Mengevaluasi argumen dan bukti ilmiah dari beragam tipe sumber” juga bisa dilatih.

Uraian yang disampaikan adalah gambaran singkat yang disusun mendadak daripada ngowoh dengerin BLΛƆKPIИK cahaya Aslia. Kalau mau ditindaklanjuti secara rapi dan rinci, bisa dibuat artikel atau tesis terkait pengembangan program pembelajaran berorientasi literasi saintifik, tempat saya bermain selama 4 tahun terakhir. 

Namun, yang lebih penting ialah melaksanakan pembelajaran aktual dengan modal seadanya. Itu aja sih.

K.Ah.Wh.010141.010919.13:10