1 tahun lalu · 556 view · 5 menit baca · Pendidikan 41204.jpg
Masjid al-Azhar

Apa Susahnya Sekolah di al-Azhar?

Pada tulisan sebelumnya saya pernah bercerita sekelumit tentang sisi manis dari potret kehidupan dan pembelajaran di al-Azhar. Jika Anda belum sempat membaca, tulisannya bisa Anda baca terlebih dahulu di sini.

Tulisan kedua ini hanyalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Jika pada tulisan sebelumnya saya berbicara tentang keistimewaan, maka kali ini saya akan sedikit bercerita mengenai sisi pahit dan kesusahan yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang.

Mulanya saya tak berniat. Tapi, demi memberikan informasi yang berimbang, saya rasa tidak ada salahnya untuk dimuat. Dalam tulisan ini, saya akan sebutkan dua hal penting yang mungkin bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum melangkahkan kaki ke al-Azhar.

Menunggu Satu Tahun

Saya termasuk angkatan paling beruntung di banding angkatan-angkatan sekarang. Di samping dulu biaya pemberangkatannya tidak terlalu mahal (waktu itu total biaya sekitar 11 juta, sekarang bisa sampai 14 juta bahkan lebih), angkatan saya juga tidak diwajibkan untuk masuk lembaga pusat kursus Bahasa Arab (Markaz Daur al-Lughah) seperti halnya yang dialami angkatan tahun 2014 dan angkatan-angkatan mendatang.

Saya datang akhir tahun 2012. Dan semua yang datang pada tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya, bisa langsung masuk kuliah. Asalkan lulus tes. Tesnya dilangsungkan dua kali. Pertama tes dari Depag, kedua dari pihak al-Azhar yang ketika itu mengirimkan beberapa tenaga pengajarnya ke Indonesia.

Namun, setelah tahun 2013, tepatnya setelah Presiden lama dilengserkan, setiap mahasiswa baru yang datang kesini rata-rata diwajibkan untuk masuk lembaga tersebut selama kurang lebih satu tahun.

Untuk apa? Untuk mendalami bahasa Arab. Tapi, setahu saya, yang diajarkan di sana tidak jauh berbeda dengan dasar-dasar bahasa Arab yang kita pelajari di Pesantren. Hanya mengulang-ngulang saja sebetulnya. Dan itulah yang kadang menjenuhkan.    

Kecuali mahasiswa yang ketika tes mendapatkan nilai terbaik. Setidaknya mendapatkan peringkat mutaqaddim awaal, atau mutaqaddim tsani. Mereka bisa langsung masuk kuliah. Tapi biasanya jumlahnya tidak terlalu banyak. Rata-rata ratusan mahasiswa yang masuk ke sini harus terdampar terlebih dahulu di lembaga tersebut.

Dan yang perlu Anda ketahui, belajar di sana tidak gratis alias bayar. Soal nominal pembayaran saya tidak tahu persis. Terakhir saya dengar nominalnya sekitar 450 atau 500 LE (dengan kurs sekarang mungkin tidak sampai 500.000 Rp) per tingkat (mustawa). Satu tingkat itu dilalui selama sekitar satu setengah bulan.

Yang terkadang menyusahkan mungkin bukan bayarannya, tapi masa belajarnya itu. Bisa Anda bayangkan, kalau Anda pernah belajar bahasa Arab di Pesantren sampai mlotok, kemudian di sini Anda disuruh untuk mengulang lagi selama satu tahun, cukup membosankan, bukan?  

Tapi jangan kuatir. Kalau Anda lulus dengan nilai yang baik, Anda bisa langsung masuk kuliah, seperti saya dan teman-teman seangkatan. Kalaupun selama setahun Anda belum bisa masuk kuliah, tenang saja, Anda bisa masih bisa mengikuti pengajian para ulama al-Azhar di luar, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya.

Pengajian yang diadakan di luar kampus adalah pengajian terbuka yang bisa diikuti oleh siapa saja, baik mereka yang terdaftar di kuliah ataupun yang belum terdaftar. Dan yang mengampu pengajian di luar ini biasanya ulama-ulama besar.    

Informasi ini penting untuk Anda pertimbangkan. Sebab, sedikit atau banyak, dalam setahun pertama di Mesir, Anda masih membutuhkan bantuan dari luar. Entah itu dari orang tua, saudara, atau siapa saja.

Karena itu, sebelum memutuskan berangkat, lebih baik Anda pastikan dulu apakah orang tua Anda sanggup untuk membiayai uang saku selama sekolah di Daurul Lughah itu atau tidak. Karena, sekali lagi, belajar di sana membutuhkan biaya yang—bagi rakyat kecil—mungkin terasa besar.

Selama di Daurul lughah, Anda tidak akan bisa bekerja dan mencari uang. Karena hampir setiap hari diwajibkan untuk masuk sekolah. Lain halnya kalau Anda sudah terdaftar di kuliah. Datang kesini mungkin bisa langsung hidup mandiri.

Karena selain gratis, kalau sudah terdaftar di kuliah, Anda juga memiliki kebebasan, layaknya seekor burung yang bisa terbang kemana saja (ini burung beneran loh ya, bukan burung yang… assudahlah).

Masa Kuliah yang Lama

Kesulitan nomer dua ini hanya akan Anda rasakan kalau Anda sudah masuk sekolah pascasarjana. Di strata satu, saya rasa pembelajaran di sana tidak terlalu sulit. Asalkan kita belajar dengan baik tentunya.

Para mahasiswa yang terdaftar di jenjang ini umumnya adalah mereka-mereka yang siap dengan pengorbanan usia. Soal biaya kuliah, seperti yang pernah saya katakan pada tulisan sebelumnya, di sini mungkin paling murah sedunia. Tapi soal masa kuliah, kampus ini adalah kampus tertua sekaligus kampus yang akan mendorong Anda untuk belajar sampai tua.

Senior-senior saya ada yang baru lulus S2 setelah 5 tahun, 4 tahun bahkan 6 sampai 10 tahun! Kalau ingin melanjutkan program doktoral, mungkin membutuhkan waktu 3 sampai 4 tahun lagi.  

Jadi, kalau mau sekolah sampai doktor, setidaknya Anda harus rela mengorbankan usia selama 11, 12, atau 13 tahun. Persis seperti yang dulu dialami pak Quraish Shihab. Setahu saya beliau hampir 13 tahun belajar di Kairo.

Nah, biasanya, yang membuat mereka tidak lancar dan terhambat itu ketika mengikuti ujian pengantar (tamhidi). Ujian pengantar ini diberlakukan selama dua tahun.

Jika Anda lulus tanpa hambatan, pada tahap selanjutnya Anda bisa langsung mengajukan judul tesis dan mulai menulis. Tapi jika Anda tidak lulus, ketika itulah Anda akan bertelur dan “membuang-buang” umur.

Penulisan tesis umumnya memakan waktu 2 sampai 3 tahun, atau lebih. Jadi, paling cepat, sekolah S2 di sini baru bisa Anda selesaikan dalam kurun waktu 4 atau 5 tahun! 

Karena itu, kalau Anda berniat belajar untuk mencari ijazah, saya tak menganjurkan Anda untuk sekolah di sini. Tapi, jika Anda ingin merasakan pahitnya menuntut ilmu, mungkin di sini adalah tempat yang tepat bagi Anda.

Sebetulnya selain dua hal di atas ada satu hal lagi yang belum saya sebutkan. Saya hanya kuatir, kalau yang terakhir ini saya sebutkan, mungkin Anda akan berpikir dua kali untuk melangkahkah kaki ke al-Azhar. Karena itu, yang terakhir ini mungkin sebaiknya saya simpan.   

Terakhir, saya berpesan kepada Anda untuk mempertimbangkan hal ini: Jika Anda termasuk orang yang tidak bisa belajar kecuali setelah dipaksa, ditekan, dan disuruh-suruh orang, saya sarankan Anda untuk mencari tempat lain.

Karena, seperti yang pernah saya katakan, hidup di sini bebas. Tidak akan ada yang menyuruh Anda mengaji, membaca, menulis, menghafal, berdiskusi, membuat makalah, dan lain-lain, kecuali pada saat menjelang ujian.

Tapi, jika Anda termasuk orang yang bisa—atau setidaknya mau belajar—mendorong dan menyemangati diri sendiri, tanpa harus membutuhkan suruhan dan aturan dalam soal belajar, tempat ini akan menjadi surga bagi Anda.

Samudera intelektual Islam terhampar luas di negeri ini. Semua jenis pemikiran Islam, dari mulai yang paling hitam-pekat sampai yang paling putih-mengkilat, bisa Anda telaah. Kecuali mungkin nyari cewek cantik yang agak sedikit susah.   

Semoga bermanfaat. Dan semoga apa yang saya tuliskan tidak mengurungkan niat Anda untuk belajar di al-Azhar. Sekian.

Kairo, Saqar Quraish, 18 Juli 2017