Sebutan broken home itu biasanya di gambarkan dengan keluarga yang berantakan karena orang tua yang tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan di rumah atau bisa juga keadaan di mana pada suatu hubungan pernikahan terdapat percekcokan. Percekcokan yang sering kali terjadi hingga menyebabkan menyakiti satu sama lain.

Ada beberapa penyebab terjadinya broken home bisa dari perceraian kedua orang tua. Perceraian sering kali menjadi faktor yang utama penyebab keadaan rumah tangga dapat dikatakan broken home. Perceraian antara seorang suami dan istri itu dapat menyisakan luka yang dalam bagi anak-anak.

Mereka sebagai anak itu bingung harus memilih untuk tinggal bersama Ayah atau Ibu mereka. Belum lagi pikiran negatif dari masyarakat dengan keluarga yang mengalami masalah perceraian.

Ketidakdewasaan orang tua, di mana pada setiap orang tua itu memiliki sifat egoisme dan egosentrisme. Egoisme merupakan sifat buruk yang dimiliki manusia yang selalu mementingkan dirinya sendiri dari pada orang lain.

 Egosentrisme merupakan sikap yang menjadikan dirinya menjadi pusat perhatian orang lain. Dari sifat tersebut mungkin dapat terjadi dikarenakan adanya luka batin yang dialami oleh orang tua pada masa kecilnya dan mungkin saja belum terselesaikan sampai dewasa.

Sosok anak kecil (inner child) yang ada di dalam diri mereka itu sering meronta ingin selalu diperhatikan. Mungkin juga ada perasaan terpendam yang belum terselesaikan yang akhirnya berakibat pada hubungan rumah tangga.

Kemudian tidak mampu untuk berdamai dengan diri sendiri itu merupakan sebuah ekspektasi yang tinggi untuk pasangan yang akhirnya hanya dapat membuat keretakan dalam hubungan pernikahan. Pasti setiap orang tua memiliki kekurangan baik dari fisik yang belum kuat, emosi-psikologis, dan pengetahuan yang belum banyak.

Orang tua yang tidak memiliki tanggung jawab. Hal yang dapat mengikis rasa tanggung jawab orang tua bisa karena kesibukan orangtua dengan kariernya, hubungan sosial, dan mungkin hobi.

Faktor ekonomi juga bisa menjadi penyebab terjadinya perceraian dalam rumah tangga. Dengan contoh seperti suami yang tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga, ataupun ketidakpuasan materi yang dituntut oleh seorang istri.

Hilangnya kehangatan dalam keluarga. Hubungan dalam keluarga harus memerlukan sebuah komunikasi yang baik antara satu sama lain. Seperti quality time setiap hari antara Ayah, Ibu, Anak dan saling memberikan perhatian penuh.

Contohnya seperti Ayah ingin dibuatkan kopi hangat oleh Ibu. Hal tersebut merupakan bentuk perhatian dari Ibu untuk Ayah. Ibu yang menginginkan pujian pada saat makan bersama di meja makan.

Hal tersebut juga merupakan bentuk rasa perhatian dan sayang dari Ayah dan anak kepada Ibu karena sudah menghidangkan masakan sederhana namun begitu nikmat jika bersama-sama menikmatinya.

Anak pun juga ingin diberi perhatian oleh orang tuanya. Hanya seperti ingin ditanya bagaimana perasaan hari ini? Bagaimana pelajaran di sekolah? Atau jika mendapatkan nilai bagus, hadiah apa yang kamu inginkan?.

Begitu hangat ketika dalam keluarga saling memberikan perhatian satu sama lain. Sebaliknya, ketika dalam sebuah keluarga memiliki kesibukan masing-masing, tidak ada sebuah perhatian yang menjadikan rumah menjadi sepi, dan tidak merasakan kehangatan dalam keluarga.

Lalu adanya orang ketiga dalam rumah tangga. Orang ketiga dalam rumah tangga merupakan salah satu penyebab terjadinya perceraian orang tua. Orang ketiga kerap kali menjadi pengganggu dalam hubungan rumah tangga. Orang ketiga atau perselingkuhan itu dapat menjadi alasan dalam perceraian.

Kemudian kurangnya edukasi dalam rumah tangga. Edukasi atau pendidikan itu sangat penting dalam rumah tangga. Dengan adanya pendidikan dalam keluarga, kehidupan menjadi stabil kemudian kebutuhan dalam rasa kasih sayang dapat terpenuhi dan bertumbuh dengan baik.

Keluarga merupakan lingkungan yang paling utama untuk anak. Bagaimana jika orang tua tidak memiliki cara untuk mengedukasi atau memilik pendidikan tentang pernikahan dan pengasuhan anak?

Pastinya orang tua masih belum bisa mengatur emosinya dengan stabil kemudian dalam pengasuhan anak menjadi tidak ideal.

Broken home itu  tidak hanya berdampak pada perasaan suami atau istri yang terluka tetapi juga bisa berdampak bagi anak. Setiap orang pastinya sangat menginginkan kehidupan yang harmonis, kenyamanan, ketenangan, bahkan mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang tua.

Anak yang mengalami kondisi broken home itu kehilangan rasa percaya dirinya karena dapat tekanan mental yang dialaminya. Kemudian dapat menyebabkan anak merasa bahwa kehilangan peran yang sangat penting bagi keluarganya.

Seperti kurangnya perhatian dari Ayah atau Ibu. Merasa stress, gangguan mental, benci pada orang tua, tertekan, kesepian, insecurity, hingga merasa dirinya lah yang menyebabkan sebuah perceraian tersebut.

Tidak ada lagi perasaan hangat untuk anak, melainkan yang tersisa hanyalah ketakutan dan kebencian terhadap salah satu orang tuanya atau bahkan bisa jadi pada keduanya.

Ada cara untuk mengatasi broken home yaitu bisa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menanamkan nilai-nilai agama pada keluarga dan meyakinkan kepada mereka jika takdir itu sudah ditentukan oleh Tuhan dan berserah diri kepada Tuhan.

Tidak berbohong kepada keluarga, melakukan komunikasi, memberikan perhatian yang lebih pada sesama anggota keluarga seperti Ayah, Ibu, dan Anak.

Memberikan pendidikan atau mengedukasi juga penting, melakukan co-parenting untuk membesarkan anak bersama-sama, menyayangi satu sama lain, dan harus berdamai dengan keadaan agar hati kita menjadi tenang.