Gender merupakan pembedaan terhadap peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. 

Di dalam peran gender ini sendiri terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan.

Istilah gender ini pertama kali dikemukakan oleh para ilmuwan sosial. 

Dalam hal ini mereka bermaksud untuk menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang mempunyai sifat bawaan, yang di mana sifat itu alamiah dari sang pencipta dengan bentukan oleh budaya atau konstruksi sosial. 

Isu kesetaraan gender ini merupakan sebuah isu lama yang selalu di gaungkan oleh masyarakat. 

Hal ini muncul karena ada diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Bahkan dari era pra kemerdekaan Indonesia seorang sosok perempuan yang berani menentang keras aturan budaya yang berlaku.

Karena pada zaman itu perempuan tidak bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Kemudian tidak bisa menjalani peran di dalam pemerintahan.

Namun pada masa era modern ini masih adanya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.

Terbukti menurut data dari Komnas Perlindungan Anak Dan Perempuan Indonesia, sepanjang tahun 2020 terdapat 299.911 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia.

Jumlah kasus yang terbilang tinggi untuk negara yang dikatakan Pancasila ini. 

Karena di dalam Pancasila sendiri ada sila yang mengatakan, "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia". 

Dalam poin sila tersebut jelas mengatakan Keadilan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Namun mengapa masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan.

Diskriminasi yang berdasarkan gender masih terjadi pada seluruh aspek kehidupan, di seluruh dunia.

Ini adalah fakta yang tak terbantahkan, meskipun ada kemajuan yang cukup pesat dalam kesetaraan gender dewasa ini. 

Sifat dan tingkat diskriminasi cukup bervariasi di berbagai negara atau wilayah di belahan dunia ini. 

Dan tidak ada satu wilayah pun di negara dunia ketiga di mana perempuan telah menikmati kesetaraan dalam hak-hak hukum, sosial dan ekonomi dan bahkan di negara ibu pertiwi ini.

Menurut saya kasus ini masih marak terjadi karena adanya pemikiran dari masyarakat Indonesia yang masih menganggap bahwa perempuan itu lemah.

Dan oleh adanya stigma ini yang menjadikan perempuan sebagai sasaran empuk dalam dunia kriminal.

Lalu munculnya isu-isu tentang kesetaraan gender inilah yang menjadi tonggak emansipasi perempuan pada era modern saat ini.

Meskipun pada zaman pra kemerdekaan yang sudah dijelaskan sebelumnya, akan tetapi menurut saya hal itu hanya memiliki dampak yang tidak signifikan.

Jika membahas tentang kesetaraan gender atau "Gender Equality" ini memang terdapat banyak pro dan kontra.

Terlebih pada masyarakat Indonesia yang terbiasa mengenal sistem patriarki sejak zaman dahulu 

Patriarki merupakan sebuah sistem sosial yang di mana menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama.

Selain memegang kekuasaan utama tetapi lelaki juga mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti.

Sistem yang sudah melekat turun-temurun di masyarakat Indonesia sejak zaman pra kemerdekaan.

Hal ini yang menjadi salah satu yang dijalankan alasan oleh saya mengapa kasus kekerasan terhadap perempuan masih rentan di Indonesia.

Dan dengan adanya gerakan kesetaraan gender ini diharapkan akan menghilangkan stigma yang sudah melekat pada masyarakat.

Mengapa banyak orang kontra terhadap isu kesetaraan gender ini.

Karena masih banyak orang yang salah dalam mengartikan atau mencampuri ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati yang memang tidak berubah, dengan non-kodrati atau gender yang bisa berubah dan diubah sepanjang zaman. 

Perbedaan gender ini pun menjelaskan orang berfikir kembali tentang peran mereka yang sudah melekat, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Banyak yang salah kaprah bahwa mengurus rumah, mencuci piring, memasak dan lain sebagainya itu merupakan kodrat perempuan.

Dan kodrat lelaki ialah bekerja keras untuk mendapatkan uang yang akan mencari nafkah untuk keluarga.

Itulah pola pikir yang harus dibenahi karena yang dimaksud kodrat ialah memang sifat yang sudah bawaan dari Tuhan dan tidak akan berubah sepanjang hidup manusia.

Seperti contoh menyusui dan melahirkan itu baru merupakan yang disebut dengan kodrat perempuan.

 Karena tidak ada lelaki yang bisa melahirkan atau mengeluarkan susu dari payudaranya.

Sedangkan mencuci piring, memasak dan bersih-bersih rumah ialah kegiatan yang dapat dilakukan oleh semua gender.

Inilah yang disebut dengan sifat non-kodrati sifat atau perilaku yang muncul karena adanya peran gender.

Dan banyak juga masyarakat yang masih salah kaprah dalam mengartikan kesetaraan gender ini. 

Masih banyak yang mengartikan bahwa kesetaraan gender ini benar-benar setara antara laki-laki dan perempuan.

Namun yang dimaksud dengan kesetaraan gender di sini ialah kesetaraan hak-hak. Tetap dengan kapabilitas yang sesuai.

Seperti contoh laki-laki memiliki lebih banyak otot dibandingkan wanita. 

Jadi, salah jika menyuruh perempuan untuk kerja mengangkat beban berat dengan dalih kesetaraan gender.

Hal itu jelas salah karena itu menyangkut hal biologis gender yang tidak akan bisa berubah.

Dan contoh lain ialah ketika laki-laki mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan pulang malam, maka perempuan harus menjalankan pekerjaan yang sama.

Hal tersebut salah, karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan masih menjadi sasaran empuk dalam dunia kejahatan. Berbeda dengan laki-laki.

Jadi yang dimaksud dengan kesetaraan di sini bukan benar-benar setara. 

Karena setara belum tentu pas, tetap melihat dari kapabilitas yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.

Maka dari itulah peran gerakan kesetaraan gender hadir untuk menghapus stigma yang mengesampingkan perempuan dalam kehidupan sosial.

Tentunya pemerintah Indonesia aktif dalam mendorong kesetaraan gender ini, dapat dilihat dari beberapa fasilitas umum yang diharuskan untuk keselamatan perempuan. 

Seperti gerbong khusus wanita, kemudian ruangan khusus ibu menyusui dan lainnya.

Untuk golongan orang-orang yang kontra terhadap kesetaraan gender hal tersebut untuk apa dilakukan, bukankah semua gender setara?.

Menurutnya saya langkah yang dilakukan pemerintah ini merupakan langkah yang baik dalam mendukung kesetaraan gender di Indonesia.

Dan untuk menjawab pertanyaan mengapa pemerintah membuatkan gerbong kereta khusus perempuan atau bus dan tempat duduk khusus perempuan. 

Hal tersebut dilakukan karena sebelumnya tidak adanya hak istimewa terhadap perempuan, karena untuk menyetarakan gender antara perempuan dan laki-laki ini harus ada perlakuan istimewa terhadap perempuan.

Dan inilah saatnya Indonesia untuk menyokong kegiatan pemerintahan dalam mengangkat isu kesetaraan gender. Karena kesetaraan gender ialah hak asasi manusia yang dimana hak asasi merupakan hak yang harus dipenuhi. 

Selain itu untuk mewujudkan demokrasi Pancasila yang merupakan falsafah hidup berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia.