Menulis, mengapa kita harus menulis? Sejak di Sekolah Dasar (SD) kita telah diajarkan untuk dapat menulis. Guru-guru akan membimbing dan mengajari kita untuk menulis. Pelajaran pertama yang diajarkan dalam tulis menulis yakni menuliskan huruf abjad yang sama sampai 1 lembar penuh. Contoh; menulis huruf (A) sampai penuh 1 lembar, begitu seterusnya hingga huruf Z.

Fase tulis menulis huruf dan angka pun terlewati dengan sempurna. Setelah mahir dalam tulis menulis soal pengenalan huruf tersebut, para guru-guru pun mulai menyusupi pelajaran yang sedikit lebih sulit. Kita diajarkan tidak lagi hanya menulis ulang huruf Abjad yang sama. Tapi kita dididik untuk mulai meringkas isi buku mata pelajaran, kita diperintahkan untuk merangkum isi buku menjadi kalimat yang berisi makna-makna penting.

Lepas itu, kita beranjak ke kelas yang lebih tinggi. Menulis di sini bukan lagi sekedar menulis. Dalam tahap ini, menulis bukan persoalan menyalin isi buku ke dalam catatan buku sekolah kita. Tidak saja meringkas isi buku menjadi kalimat-kalimat penting. Akan tetapi kita mulai diajarkan menulis apa yang tidak ada dalam buku, dalam arti menulis menggunakan pikiran. Bayangkan, agak sulit bukan ?

Guru-guru akan memberikan tugas menulis. Tugas kali ini, sama sulitnya dengan mata pelajaran matimatika yang cukup mematikan, mh. Menulis tersebut  akan menguras pikiran dan membiarkan kita terhanyut dalam imajinasi. Menulis dimaksud, tentu sedikit dengan teknik seni. Kita akan disuru menuliskan puisi, pantun, dan juga cerpen.

Ketiga topik itu, Tentu semuanya tidak bersumber dari buku, melainkan ditulis dari hasil perenungan pikiran akan pengalaman hidup kita. Dituliskan lewat pemikiran yang menyeberangi ruang imajinasi serta harus mampu memahami aturan-aturan dalam menulis. Tidak hanya sekedar dituliskan begitu saja, tapi harus dalam perenungan yang dalam.

Demikian pun dalam menuliskan puisi. Tidak saja hanya berdasarkan perenungan akan tetapi tetap membutuhkan inspirasi dan motivasi. Dalam tulisan juga harus memuat sesuatu yang baru, ide ataupun gagasan yang benar-benar orizinal dari hasil pemikiran kita sendiri. Begitulah kira-kira keruwetan dalam tulis menulis, baik itu soal puisi, cerpen, dan bahasa-bahasa puitis lainnya.

Terlebih lagi dalam dunia kampus semasa kuliah yakni menuliskan tugas akhir berupa skripsi. Skripsi adalah karya tulis pertama bagi kaum pelajar di tingkat jenjang Pendidikan Tinggi. Karya tulis tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap kemampuan pengetahuan mahasiswa sesuai jurusannya.

Begitulah puncak dalam meraih pendidikan tinggi, Menulis menjadi titik akhir dalam meraih gelar ke-sarjanaan. Jadi sangat beralasan jika saya berpendapat; “Setiap orang yang bergelut dalam dunia pendidikan, terlepas apapun itu jurusannya, jika tidak paham soal tulis menulis maka ia tak layak disebut sebagai seorang sarjana”.

Bagaimana tidak, persis dengan maksud di atas. Kesarjanaan itu diuji lewat sebuah tulisan. Setiap kaum mahasiswa semester akhir wajib dibebankan membuat karya tulis yanki berupa Skripsi. Tugas akhir inilah yang menjadi penentu kelayakan seseorang itu disebut sebagai seorang Sarjana.

Menulis skripsi, tidak saja hanya persoalan ide ataupun gagasan pemikiran. Dalam tugas akhir tersebut, kita dituntut untuk menganalisa persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kemudian kita merumuskan persoalan yang ada.

Dalam rumusan masalah yang kita buat, itulah pedoman kita untuk menuliskan skripsi tersebut hingga bab akhir  sampai pada kesimpulan dan saran.

Sementara buku tidak mengambil peran terlalu jauh. Buku adalah pentunjuk sekaligus sumber untuk menuliskannya, tapi tetap harus dengan pemikiran kita sendiri untuk meramu dan mengolah kalimatnya.

Lalu apa sebenarnya definisi dari menulis dan apa tujuan serta manfaat menulis? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menulis dapat diartikan membuat huruf  atau angka dengan menggunakan pikiran atau perasaan hingga menjadi kalimat yang bermakna. Sementara dalam pengertian WikipediA, menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada media dengan menggunakan aksara.

Dari kedua pengertian itu dapat kita simpulkan bahwa menulis itu adalah kegiatan di mana kita berbicara menggunakan perpaduan pikiran dan tangan dalam merangkai kata menjadi kalimat yang berisi pesan untuk di sampaikan ke pada pembaca. Tulisan juga harus mampu menyampaikan bahasa pikiran karna itu kita menulis harus menggunakan perasaan.

Disisi lain terlepas dari ruang pendidikan dan akademisi, menulis juga ibaratkan memberikan otak kita makan. Semakin sering menulis akan semakin memperkaya pengetahuan kita. Pikiran akan semakin terbuka dan juga memiliki cara pandang yang luas.

Menulis dapat juga disebut sebagai cara dalam memproyeksikan diri dalam setiap fase yang telah di lalui. Dari sana kita akan mampu melihat kepribadian kita dalam perubahan-perubahan gaya hidup, pola pikir, sifat dan karakter dalam dasawarsa.

Setiap tulisan-tulisan nantinya akan memiliki ciri khas sendiri. Terlihat mulai dari mempermalukan diri sendiri/memperolok-olok diri, kekanguman, kebanggaan dan menimbulkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Ditambah, menulis dalam dunia digital akan membuat kita mampu mengakses kapan dan di mana saja, bahkan setiap akhir tahun kita akan di ingatkan (khusus dalam cerita Facebook) yang senantiasa akan mampu mengundang tawa dan senyum dalam bibir serta menghibur. Pun dengan catatan-catatan dalam buku kita semasa sekolah, dari SD sampai kejenjang Pendidikan Tinggi. Kita akan melihat perkembangan dan kemajuan diri kita sendiri lewat tulisan-tulisan kita.

Dari sisi pengetahuan juga, dalam menulis akan memperkaya bahasa komunikasi kita. Secara tidak langsung juga tulisan-tulisan tersebut akan mendidik kita menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan memiliki empati yang tinggi serta pemikiran yang makin luas.

Demikianlah nikmatnya membuang unek-unek pikiran dalam sebuah karya tulisan.

Tapi perlu dipahami, menulis tanpa banyak membaca akan sia-sia. Sebab menulis membutuhkan membaca. Tanpa membaca, mustahil rasanya dapat menulis dengan baik. Karena itu menulis dan membaca adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan.