“Sangat baik, interaktif dan actual, karena banyak diskusi tentang aplikasi dan realitas topik yang dibahas di tempat kerja yang sering tidak sesuai dengan ekspektasi’”

“Cara menyampaikan materi dengan menarik, sangat menginspirasi penyajian bahan tayangnya”

“Sudah bagus, ibu nya sangat interaktif. Semoga dapat dipertahankan. Terimakasih””

“Sudah baik. Terima kasih Bu untuk ilmunya. Ditambahin lagi waktunya :)” 

“Dalam menyampaikan materi dengan semangat dan senyum sehingga suasana belajar menjadi menyenangkan.” 

“Sudah bagus. Fasilitator menguasai materi dan menjawab pertanyaan peserta dengan rinci dan jelas.’

“Mungkin bisa ditambahkan beberapa studi kasus, dan kondisi yang biasanya dialami di lapangan.”

Pembaca pasti bisa menebak, diatas kalimat-kalimat apa yang maksud oleh penulis.

Tepat sekali, diatas adalah evaluasi atau feedback dari peserta/audience untuk fasilitator/pengajar. Sebagai seorang fasilitator, feedback dari peserta merupakan hal yang sangat penting. Karena feedback dapat sebagai dasar atau acuan untuk mengembangkan kompetensi dan performa dari fasilitator

Dengan membaca feedback seperti diatas, fasilitator bagaikan disiram air es yang menyejukkan. Seakan lelahpun sirna, dan berbuah rasa kebahagiaan. Jangan seperti pemeo “anda puas kami lemas”. Pasti ngga mau downk seperti itu. Inginnya “anda puas kami  pun bahagia".

Apakah betul komentar-komentar positif itu semata karena kemampuan konigtif yang dimiliki fasilitator melebihi peserta? Apakah peserta puas karena merasa disuapin ilmu yang banyak oleh fasilitator dalam pertemuan daring?  Nah pastinya bukan semata karena hal tersebut.

Ada hal diluar kompetensi teknis yang juga harus dimiliki oleh fasilitator dalam proses pembelajaran yang membuat peserta nyaman. Hanya satu jawabannya yaitu trust,  rasa percaya peserta kepada fasilitator dalam pengemban tugas dalam menyampaikan sebuah materi. Kondisi ini merupakan tantangan tersediri pada pembelajaran daring.

Bagaimana membangun kepercayaan dari  peserta?

Kita kenal dengan membangun rapport. Membangun sebuah rasa percaya dari peserta pelatihan kepada fasilitator, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Membangun rapport ini menjadi pondasi jembatan komunikasi antara fasilitator dan peserta. Terutama di situasi pandemi, pembelajaran  secara daring.

Seberapa pentingkah fasilitator harus membangun rapport sebelum pembelajaran daring dimulai?

Seorang fasilitator dianalogikan sebagai seorang Pilot yang hendak menerbangkan pesawat. Pastinya sang Pilot harus mampu mengantarkan penumpang ke kota tujuan dengan moda pesawat, mulai dari take off sampai landing dengan smooth.  

Harapannya,  penumpang merasa nyaman selama perjalanan dan selamat sampai tujuan. Rasa nyaman ini harus terbangun saat penumpang menaiki kabin pesawat bukan? Bahkan lebih bombastisnya, rasa nyaman tumbuh pada saat pemilihan maskapainya.

Pada saat penumpang menaikin tangga pesawat disambut dengan senyum manis sang pramugari. Setelah penumpang duduk manis, segera Pramugari dengan anggun dan ramah memberikan announcement diawali memperkenal seluruh awak pesawat dilanjutkan menyampaikan SOP keselamatan selama penerbangan.  

Kenapa semua ini dilakukan? Karena hal ini memberikan rasa percaya dan kenyamanan bagi penumpang. Proses membangun rapport ini persis dengan seorang fasilitator harus mampu menumbuhkan rasa percaya peserta kepadanya.

Para peserta pelatihan, yang pada umumnya bukan sebuah “botol kosong” yaitu analagi orang dewasa. Peserta sangat dimungkinkan mempunyai kompetensi teknis yang lebih dan bahkan tidak dikuasai oleh fasilitator. Jika rapport ini tidak terbangun, maka dapat dipastikan terjadi penolakan (denial). Peserta merasa lebih pinter, lebih unggul, lebih hebat, lebih ini, lebih itu dan seterusnya

Sebaliknya, jika rapport telah terbangun, maka peserta tetap respek dengan apa yang disampaikan oleh fasilitator tersebut. Peserta menganggap fasilitator bukan sosok seorang yang “menggurui”, akan tetapi lebih menjadi teman diskusi, dan juga berbagi pengalaman. Kondisi ini sangat nyaman, karena komunikasi dua arah akan terjalin secara efektif.

Jika rapport telah terbangun, maka fasilitator mampu memposisikan diri sejajar dengan peserta. Kondisi ini dapat mendobrak barrier antara fasilitator dengan peserta. Dengan merasa sejajar dan sama, tanpa disadari fasilitator telah mampu menyuntikkan suatu informasi yang dapat diterima peserta tanpa penolakan. Dalam istilah NLP (Neuro-linguistic Programming) faslitator telah mampu menerapkan pacing dan leading.

Feedback  dari peserta merupakan suatu tools atau alat kontrol yang sangat efektif. Fasilitator dapat mengukur apakah yang disampaikan sudah “landing” dengan baik? Apakah tujuan sudah tercapai? Apakah semua peserta “happy’ dalam mengikuti pembelajaran? Apakah rapport sudah terbangun dengan baik?

Kondisi ini pasti menjadi konsen oleh para fasilitator, baik pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka di kelas maupun secara daring menggunakan virtual meeting.  

 Ingat analogi Pilot, fasilitator mempunyai kewajiban me”landing”kan materi dengan smooth, dan sesuai tujuan pembelajaran yang diharapkan peserta. Analogi tersebut dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sebelum “take off” (baca: memulai pembelajaran). Dan fasilitator akan mendapatkan bonus berupa feedback yang membuat kita tersenyum bahagia.