23789_37448.jpg
Rebanas.com
Budaya · 4 menit baca

Apa Kuasa Kambing Hitam?

Beberapa tahun silam, di Kota Makassar, sebuah rumah digempur warga. Penghuninya dianiaya, diancam dibunuh dan dipolisikan. Masalahnya terbilang sepele, massa yang mengamuk menuding istri penghuni rumah itu adalah parakang (siluman jadi-jadian dalam Bugis-Makassar). Kabarnya, beberapa bulan sebelumnya, banyak warga sakit-sakitan dan dicurigai akibat ulah parakang.

Kejadian seperti ini lazim di banyak tempat. Terjadi di kota, apatah lagi di desa. 

Semasa kecil, di pedalaman Selatan Sulawesi-Selatan (kampung saya), bila kami demam tiba-tiba, sungai di belakang rumah tempat kami bermain jadi sasaran. Mahluk penghuni sungai itu dipercaya telah menegur (amparangeng) sehingga kami sakit. Beberapa hari setelahnya, nampaklah sesajen (beras merah dan telur) yang dialtar di atas daun pisang lalu dijejal di pesisir sungai itu.

Dalam kasus berbeda, seorang ibu yang melihat anak kecilnya menangis karena terjatuh saat belajar jalan dengan spontan berucap “awas kamu tembok!” demi mendiamkan sang anak. Lalu, saat beranjak kanak-kanak dan bermain dengan tetangga, orang tua kita pasti bertanya “siapa yang mengganggumu? Gara-gara apa dan siapa sehingga kamu begini?” saat melihat anaknya menangis atau terluka. 

Begitulah, sikap mencari sasaran kesalahan telah laten dan generatif dalam diri manusia.

Baca Juga: Kambing Hitam

***

Manusia terbiasa meng-kambing hitamkan sesuatu, orang (sekelompok orang), atau tempat tertentu. Sikap ini bisa memicu dua perihal; pertama, membangkitkan solidaritas massa frontal dan irasional yang memicu konflik bahkan kekerasan; kedua, menjangkitnya budaya menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah baru bahkan yang lebih besar.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “kambing hitam” berarti orang yang dalam suatu persitiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan. Lebih jelasnya, dalam Wikipedia, “kambing hitam” secara metaforik adalah orang yang dipilih atau dituduh sebagai penyebab atas suatu bencana.

Dalam Kitab Ibrani, istilah “kambing hitam” disebut scapegoat. Istilah ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kambing hitam sebagai binatang. Scapegoat merujuk pada kata azazel yang bermakna ejekan seperti dalam kalimat lekh la azazel yang berarti pergi ke neraka.

Istilah ini terus berkembang seiring dengan karakter dasar manusia yang sering mengekspresikan kemarahan, penghinaan atau saat merendahkan orang lain (kelompok lain) dengan nama-nama hewan. 

Ada kawan saya pernah bercerita kalau ia mengenal seseorang yang mulutnya seperti kebun binatang. Sebabnya, orang tersebut terbiasa mengeluarkan kata-kata kasar berbau penghinaan saat marah dengan nama binatang seperti anjing, babi, onta dan lainnya. Belakangan, kita pun akrab dengan kata cebong, kata yang diucapkan untuk merendahkan kelompok politik tertentu.

Seorang antropolog kontroversial, Rene Girard bahkan berpendapat bahwa agama berasal dari ritual korbani. Dalam bukunya Deceit, Desire, and The Novel (1961), Girard menerangkan scapegoat theory (teori kambing hitam) yang intinya menyebut manusia memiliki hasrat peniru (mimetic). Apa yang ditirukan lama-lama menjadi saingannya. 

Hal ini memicu konflik dan kekerasan. Kata Girard, manusia telanjur memiliki hasrat kekerasan yang harus tersalurkan. Penyaluran hasrat biasanya ditujukan pada manusia lainnya dalam hal ini bisa jadi “kambing hitam” atau orang yang belum tentu bersalah.

Sekaitan dengan itu, Sigmond Freud menuturkan pandangan menarik dengan sebuah istilah “proyeksi”. Dalam bukunya Defence Neoropsychoses, Freud memaknai istilah “proyeksi”  sebagai suatu proses pelampiasan keluar, dorongan-dorongan, perasaan dan sentimen-sentimen seseorang kepada orang lain atau ke dunia luar. 

Teori ini dikembangkan Freud pada buku lanjutannya The Anxiety Neurotis (1984), manusia memiliki kecemasan neurotik yang apabila jiwanya merasa tak berdaya untuk mengatasi rangsangan-rangsangan seksual dari dalam dirinya, kecemasannya itu akan diproyeksikan ke dunia luarnya.

Kedua pandangan ini semakin menguatkan tesis bahwa manusia memang berpotensi mengekspresikan kemarahan atau ketidakpuasannya dengan mengorbankan atau mengkambing-hitamkan orang lain. 

Kita ingat kejadiaan nahas yang menimpa Andres Escobar (Pemain Timnas Kolombia) yang dikambing-hitamkan karena gol bunuh dirinya pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Escobar harus menanggung kematian tragis setelah ditembak mati saat kembali ke tanah airnya.

Apa kuasa kambing hitam? Mereka yang telah menjadi korban akibat drama “kambing hitam” telah terpuruk mati tak berdosa. Tidak terhitung jari banyaknya. 

Dalam sejarah umat manusia, lakon meniadakan, mengusir, menghina, bahkan membunuh orang yang dianggap dalang dari sebuah masalah memiliki cerita berbeda-beda. Tetapi, pada pokoknya sama, yakni manusia terlampau mudah percaya dan menghukum sesuatu, apalagi bila sudah ditunggangi oleh gelombang massa dan wacana.

***

Di kehidupan demokratis yang super-liberal di mana arus informasi amat terbuka, praktik “kambing hitam” terus merajalela. Begitu mudahnya kelompok tertentu mengkambing-hitamkan kelompok yang lain. Ada orang yang di-bully di media sosial lantaran dianggap pemicu masalah.

Mekanisme “kambing hitam” untuk menyudutkan yang lain dimodifikasi dan dikapitalisasi dalam politik sebagai sebuah materi kampanye politik. Produknya bisa kampanye negatif (negative campaign) atau kampanye hitam (black campaign). Daya jelajahnya bisa lebih masif berkat media sosial, baik yang disalurkan secara faktual maupun dengan gaya hoax.

Drama ini tumbuh subur sebab dalam diri manusia memang punya ego bertahan (ego defense mechanisms). Dalam tradisi Kejawen Jawa disebutkan bahwa nafsu manusia selalu menganggap dirinya benar (golek benere dhewe). Manusia selalu ingin merasa paling benar dan paling sempurna. Padahal, setiap manusia yang biasa disebut animal rationale dalam hitungan waktu dapat kehilangan rasionalitas, menjadi animal.

Bila praktik ini merajalela dan masif, bersiaplah memanen drama politik kebencian. Arus bawah (masyarakat) jadi korbannya. Konflik elite ditiru di wong cilik. Korupsi politikus dan pemimpin juga diadopsi dengan pratik suap di masyarakat bawah. Seperti sebuah pameo: sebagaimana yang di atas, begitu juga yang di bawah.

Bagaimana mengakhiri drama “kambing hitam”? Film The Reader menarik jadi bahan renungan. Dikisahkan, Hanna yang butah huruf selalu dibacakan buku-buku oleh kekasihnya Michael. Sayang, cintanya kandas saat Hanna dipenjara karena dijadikan kambing hitam Nazi. 

Di dalam penjara, ia pun merindukan buku-buku yang sering dibacakan kekasihnya. Hanna pun berjuang keras agar bisa membaca dan menulis. Dan dengan membaca, Hanna pun sadar bahwa kekuasaan selalu punya cara untuk mencari kambing hitam. Emmmm!