Sebentar lagi, Rabu, 18 Desember 2019, aku akan menikahi gadis Sunda; cantik, asalnya Desa Cimenteng, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat. Namanya Ina Nurlaela, seorang perempuan bergigi gingsul, putih, menawan. Aku amat mencintainya.

Apa kabar teman ngopi di Ampera? Aku terkadang tidak terlalu mengerti atas diriku sendiri. Aku sering kali rindu bercengkerama dengan kalian, ceng-cengan, menghabisi Andre. Tapi saat sudah kumpul, entah mengapa, aku lebih ingin menyendiri, melamun di pojokan, atau pergi menjauh. Aku merasa hidupku harus tak lagi sama dengan kemarin-kemarin. Aku mulai dilanda hari-hari sunyi.

Rizal, yang angkatan kuliahnya 2012, belum juga lulus. Zafi lagi menuntaskan S2 Hukum di UAI. Jumat siang, 1 November 2019, Latifah bertanya padaku soal biaya, katanya ingin lanjut S2 Hukum di Al Azhar, sama seperti Zafi, Ucu, Deni dan Hola. ‘’Ya lanjut lah. Mumpung masih muda. Nanti kalau ditunda-tunda, keburu males. Ngejar magister dulu saja, nikah nanti,’ aku menyarankan. ‘’Iya bang. Lagian juga jodohnya belum ketemu,’’ bales dia.

Nur Rangkuti juga katanya akan menikah pada 17 November 2019 di Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta. Aku tahu dari dapet dari forward-an yang dikirim Latifah, lalu ku tanya: ‘Kok terkesan mendadak ya. Apa ada yang tak beres?.’ ‘Gak tau bang. Temen-temen juga belum dapat undangan.’ Dia menjawab. Kocak. Masa teman bertahun-tahun, biasa ngopi bareng, tak bakalan diundang?

Entah orang sudah tahu apa belum. Aku sebenarnya tipe orang yang cukup egois, tegaan, dan sedikit bodo amat. Maksudku, kalau teman mau menikah, undang aku saja, tak masalah, aku akan sempatkan hadir. Tapi kalau memang tak mengundang tamu, atau sengaja tak mengundangku, ya tidak apa-apa. Aku kan juga punya urusan lain. Kalau aku mesti tak hadir, berarti waktuku untuk menulis tesis tidak terpotong. Tapi intinya, aku menghargai persahabatan.

Ada kalanya aku selalu hadir di pernikahan teman, walau tak diundang. Tapi sering pula aku tak hadir, walau diundang. Maksudku aku lebih tahu keadaanku. Misalnya aku sedang tak punya uang, teman dekat nikahpun aku tidak hadir. Ini kan kakiku, tanganku, tubuhku, hadir atau tidak itu seratus persen terserah aku. Hanya saja, beberapa orang yang aku merasa ingin hadir, sejauh apapun aku akan menjadi saksi pernikahannya. Aku hadir bila mampu dan sempat.

Kalau Sabrina, sejak dilantik jadi Direktur LDMI HMI Jakarta Selatan, sudah setengah tahun lalu, aku tak lagi bertemu dengannya. Mungkin dia lagi sibuk, tapi beberapa kali ku lihat di sebaran sosial media, dia mengadakan acara diskusi dan bakti sosial bersama anak yatim. Kalau fitri, aku masih sering berjumpa dalam beberapa acara, aku sering utang kuota internet darinya. Aku sering jumpa Rajiv dengannya, Fitri, sekaligus.

Kemarin, 3 hari lalu, adikku Irwansyah, ku paksa untuk main ke LK2 dan LKK HMI Cabang Tangerang. ‘’Wan, kamu kan kenal Tiba, kan? Itu kawan dekatku. Main lah kesana. Di sana juga nanti ada Holik, Wenda, Rajiv, Ana, Friska, mereka semua temanku. Minta diberi bekal sama mereka. Supaya nanti kalau kamu lolos LK-2 Tasikmalaya, isi kepalamu cukup untuk melewati screening.’’ Aku mendorongnya. Adikku ini memang tipe bandel. Kalau dinasihati jarang bilang ‘iya,’ tapi juga tak secara tegas mengelak. Dia tipe yang susah ambil sikap. Undat-undut.

Akhirnya Irwan beneran ke Tangerang, ke lokasi training LK2 dan LKK, naik motor. Di sana, aku sudah menghubungi temen-temen Master untuk menatar wawasannya. Aku tak mau dia berangkat dalam keadaan kosong. ‘’Li, kenapa gak kamu sendiri yang ajari adikmu?,’ Wenda nanya. Aku jawab: ‘’Tak ada pesilat yang mengajar kanuragan pada saudaranya sendiri.’

Di pesantren, perguruan silat, seorang guru tak mengajari anggota keluarganya sendiri. Kenapa? Selain faktor subjektivitas, tak tegaan, juga menyangkut pluralitas ilmu. Supaya ilmunya tidak sama dengan saudara atau abangnya. Ya pokoknya, aku percayakan hal semacam itu pada teman-teman lah. Aku berharap, Holik bisa membantunya membikin makalah. Sekali Irwan main kesana, semua yang perlu disiapkan biar kelar.

Dari kemarin, aku gembar-gembor di sosial media kalau aku akan menerbitkan novel pada awal 2020. Beberapa banyak protes: ‘Master, bukunya belum ada kok sudah promosi terus. Cepetan dong dirilis, aku mau beli.’ Banyak yang komplain dengan nada yang sejenis seperti itu. ‘Tenang. Tunggu saja!.’ Jawabku.

Apa kabar Cahyono, si Ketum BPL PB HMI itu? Aku terakhir kali bertemu dia sewaktu ngelola SC BPL HMI Jaksel, di GIC, Depok. Waktu itu dia jadi pemateri, tapi terlambat. Aku, Holik, Susilo Ari, sedang menjalankan tes lisan, menginterview peserta. Jadi Cahyono ku suruh menunggu, andre ku minta bikin kopi untuknya, biar dia ngobrol-ngobrol dulu di ruang Master.

Sebenarnya Cahyono ngisi jam 10 malam, tapi terlambat lebih dari 1 jam. Aku jengkel, karena budaya ngaret masih tak hilang dari dulu walau ketua umum datang pergi, silih berganti. Waktu terus berjalan, aku terus menanyai peserta. ‘’Bang, 5 menit lagi ya,’ kata Andre memberi tahu di pintu yang terbuka sedikit. ‘’Nanti. Suruh tunggu saja dia!,’ jawabku.

Empat puluh menit berlalu, andre kembali nongol, memperingatkan cahyono waktunya ngisi. ‘’Ini belum selesai! Biarkan dia nunggu. Salah sendiri telat!,’ aku lagi-lagi menjawab dengan jawaban sama, namun agak membentak.

Sejam, dua jam, tiga jam, waktu terus berjalan. Malam telah lewat, hari berganti. ‘Bang, ini Bang Cahyo jadi ngisi gak? Orangnya sudah nunggu. Bete dia.’ Andre lagi-lagi nongol, menjengkelkan. ‘’Siapa Cahyono itu? Tidak usah ngisi! Ini belum selesai. Tak seorangpun ku biarkan masuk kalau ini semua belum selesai. Suruh dia tidur saja!.’’ Aku membentaknya. Lalu dia berlalu, menutup pintu dari luar, aku melanjutkan tes lisan.

Tes interview selesai jam 03:30 an, sudah menjelang subuh. Aku tengok kamar MOT, Cahyono telah tidur. Susilo Ari melanjutkan simulasi sidang, aku istirahat. Sewaktu aku bangun jam 9 pagi, Cahyono sudah tidak ada. Mungkin dia balik, dan dari malam sampai pagi tak pernah masuk forum. ‘Biarkan. Biar tahu rasa. Berani-beraninya telat!,’ kataku dalam hati. Cahyono itu teman LK2 ku. Kami berkenalan pada Januari 2014, di forum training yang diadakan HMI Cabang Pusat-Utara, di GIC.

Holik, sejak membuka praktik ‘Ahli Gigi,’ menetap di Tangerang. Kalau tak ada acara resmi, aku jarang bertemu dengannya. Dia masih muda, sebagai Master masih harus terus belajar. Hanya saja, gayanya terkadang sok seperti sudah senior. Dia bukan pembelajar yang baik, aku menyayangkan karakter yang seperti itu. Tapi kemarin, sewaktu makan bareng bersama Rizal, Friska, dia berniat nyalon Ketum BPL HMI Jaksel. Aku tak terlalu antusias, karena aku tahu dia biasanya kurang serius.

Kawan-kawan Ampera sejak menduduki beberapa jabatan, dan tentunya tuntutan hidup makin membuat realistis, makin sibuk sendiri-sendiri. Rizal jadi Sekum Cabang, tidak lagi mengkritik-kritik, taringnya tumpul. Andre jangan ditanya, dari dulu memang apatis, pendiam. Andre kalau  digigit anjing, paling-paling dengan muka cuek dan malas bilang: ‘Hei anjing, kenapa kamu gigit bokongku? Apa salahku?.’ Ya, dia teman yang tak asyik. Tapi tetap menjadi yang tersetia untukku.

Oh iya, beberapa bulan ini banyak yang mengirim pesan ‘dm instagram’ ke aku. Ada yang bilang kagum padaku, ada yang memintaku nyalon Ketum PB HMI, ada yang menanyakan kapan novelku terbit, ada juga yang minta tips and trik menulis, beberapa minta referensi buku bacaan. Lainnya, orang-orang komen story yang katanya selalu membangkitkan perlawanan. Aku biasa saja: ‘Tak terbang dipuji. Tak tumbang dimaki.’ Memangnya ada yang mencaciku? Banyak!

Banyak yang tak suka padaku. Beberapa ada yang sengaja dm aku untuk meminta izin ‘unfollow’ aku. ‘Ya silahkan. Aku tak peduli!,’ jawabku. Ada yang kecewa karena storyku dianggap terlalu liberal dan sinis pada segala hal. Mereka harus tahu prinsipku: ‘Tanpa mengkritik, hidup adalah kesalahan!.’ Aku percaya, negeri ini dibajak oleh banyak orang jahat. Maka, diam adalah pembiaran atas kemunafikan. Tak sepatutnya aku bungkam, sedangkan disana-sini banyak sekali manipulasi.

Oh iya, kemarin sewaktu HMI Cabang Cilegon mengadakan Senior Course, aku menggelandang Andre, ku ajak main kesana, naik bus. Sebenarnya diminta jadi pemateri, tapi ku tolak. Aku sudah janji, sebelum buku terbit, aku tak akan mau jadi pembicara. 

Aku malu banyak omong depan forum, tapi tak punya karya yang bisa dibanggakan. Tiba-tiba aku ditunjuk mewakili BPL PB HMI untuk sambutan di pembukaan. Aku kaget, tapi tetap stay cool, seolah siap pidato. Terlanjur ditembak di depan banyak orang, akhirnya aku maju juga memberi pengantar.

Aku ke Cilegon dalam rangka melihat-lihat produk terbitan dari Komunitas Sastra ‘Gaksa.’ Aku janjian dengan Wafa, yang sebelumnya sudah ku hubungi. Kala aku di Cilegon, aku selalu diajak berkeliling oleh Fauzul, dia ini lulusan SC BPL HMI Jaksel 2018, waktu itu aku Koordinator Master dan Ketum BPL nya. Jadi kami berdua cukup akrab. Terakhir kali ku tahu kabarnya, Fauzul nyalon Ketum Cabang di Konfercab, tapi forumnya dipending. Tak tahu apakah bakal menang, atau tidak.

Rizal, Holik, terus membujukku untuk datang ke lokasi LK2-LKK HMI Cabang Tangerang. ‘’Maaf kawan. Ada banyak hal yang ku ketik. Tesis ingin segera ku tuntaskan,’’ tukasku pada mereka. Lagi pula, kalau ke Tangerang, Ketum Cabangnya, Tibayuda selalu main game, aku males lihat orang autis, pegang layar melulu. Ku dengar, Master LK2 di sana juga banyak, sudah banyak orang, ramai. Banyak master, seperti gerombolan ojek.

Ya beginilah, anak Ampera masing-masing telah diculik waktu. Cepat atau lambat, tiap orang akan kebulet kesibukannya masing-masing. Sedari dulu aku merasa, ‘persahabatan itu mirip kereta berhenti di stasiun. Suka, tidak suka, akhirnya dia akan pergi lagi. Sedari awal hadirnya hanya sementara kok, yang berharap ia menetap, ialah yang salah.’