Kurang lebih seminggu kemarin, 14-15 Januari 2021, kampungku, Sulawesi Barat mengalami gempa bumi tektonik. Awalnya, gempa terjadi pada hari kamis, 14 Januari pada jam 14:35 WITA dengan magnitudo 5,9 di laut Majene terasa sebanyak dua kali.

Saat itu, aku baru saja selesai makan siang. Lalu pergi menggosok gigi di kamar mandi. Aku yang sedang berdiri, berpikir, apakah aku lagi kurang darah? Mengapa badanku bergoyang? Ah, aku mungkin kecapean meladeni orang yang bertamu di rumah kakek sehingga badan terasa terhuyung-huyung. 

Seorang sanak keluarga, Fatima, berkata padaku bahwa terjadi gempa. Aku segera keluar dari kamar mandi dan merasakan goyangan di atas rumah panggung yang terbuat dari kayu. Aku berteriak menyebut nama Tuhan, Allahu akbar. 

Aku menuju ke ruang tamu, di mana banyak tamu-tamu kakek yang panik ingin turun dari rumah. Namun, seorang bapak-bapak tua berkata pada mereka bahwa ini rumahnya orang selamat, insyaAllah kita semua selamat di sini.

Aku pun menyuruh adikku, Ammoz untuk mencari informasi dengan membuka aplikasi Badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG). Kami mengunduh aplikasi ini sejak terkena imbas, goncangan dari gempa Palu, September, 2018 dan Mamasa, November 2018 di Mamuju.

Kemudian, Jumat, 15 Januari, pada pukul 01:28:17 WIB gempa terjadi lagi. Kali ini dengan magnitudo 6,2 di lokasi 6 KM dari timur laut Majene dengan kedalaman 10 KM. 

Gempa yang terjadi pada sekitar jam setengah tiga pagi itu membuat aku terbangun. Semula, gempa itu kukira hanya goyangan dari truk yang berseliweran di depan rumah kakek yang terletak di jalan poros Majene - Makassar. 

Aku segera membuka hp android yang semalam kunonaktifkan. Tuhan... teriakku dalam hati. Mengapa gempa susulan ini lebih besar? Tanyaku pada diri sendiri dan pada Ammoz. Apa kabar Malunda, Majene? Apa kabar, Mamuju?

Sulawesi Barat Gempa!

Akhirnya, "kabar" jika Sulawesi Barat itu akan gempa terjadi juga. Ramalan itu santer diberitakan ketika gempa Palu terjadi. Namun, jika melihat riwayat gempa di Sulawesi Barat sebelumnya memang sesuatu yang berulang. 

Sulawesi Barat pernah mengalami beberapa kali gempa. Diantaranya di kabupaten Polewali Mandar di sekitar tahun 1967. Saat itu menurut ibuku, salah satu dari dua menara masjid yang dibangun oleh masyarakat dipercaya sebagai wali di kampungku, Lapeo, roboh dan yang satunya lagi dipercaya setelah miring bisa tegak kembali, wallahu alam bishowab.

Sehingga, ibuku punya kebiasaan mengikat lemari sejak mengalami gempa di masa mudanya. Ia juga selalu mewanti-wanti pada kami semua, anak-anaknya untuk mengikat lemari di rumah kami masing-masing. 

Paginya, ketika mobile handphone aku buka. Banyak sekali pesan, chat, messenger yang masuk ke hpku. Semua menanyakan kabarku, keadaanku, "apa kabar, kak? piye kabare, mbak? Gimana kabarnya, dek? Apa karewa, bu? Dan lain sebagainya."

Mereka yang tahu aku bertugas di  kota Mamuju, mereka yang tahu aku dari Sulawesi Barat antusias bertanya. Aku sibuk membalas pesan satu persatu. Aku mengabari mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku mengatakan bahwa gempa terjadi di perbatasan Majene -Mamuju sehingga kerusakan banyak terjadi di sana. Aku juga bilang jika aku sedang berada di kabupaten Polewali Mandar sekitar kurang lebih 60 Km dari pusat gempa.

Alhamdulillah, kata mereka ikut bersyukur aku selamat dari bencana alam ini. Sampai salah seorang teman bertanya, apa sensasinya seperti gempa Jogjakarta, 2006 lalu. Kata-katanya ini mengingatkan pada peristiwa gempa yang berkekuatan 5,9 SR ketika aku masih kuliah di sana. 

Dan beberapa grup mulai ramai dengan berita gempa, dan gempa. Mulai dari bantuan dalam berbagai bentuk, open donasi, penggalangan dana, dan lain sebagainya. Semuanya bahu membahu untuk saling tolong menolong korban gempa di Malunda, Majene, dan Mamuju. 

Kampungku Kosong

Ketika selesai salat Jumat, kepala desa di kampungku, mengajak warganya untuk waspada bagi kami yang hidup di pesisir pantai kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar. Namun, hal itu ditanggapi oleh masyarakat sebagai bentuk suruhan untuk pergi mengungsi karena akan tsunami.

Tiba-tiba, kampung di belakang rumah kakek sepi seperti kuburan. Orang-orang hilang pergi menggunakan motor, bentor, mobil, sampai truk ke daerah gunung. Beberapa orang ingin menginap di rumah kakek yang lumayan besar. 

Isu tsunami membuat masyarakat panik dan bingung. Aku pernah di kondisi seperti ini. Ketika mengalami gempa di Jogja, Mei, 2006 lalu, mungkin karena trauma melihat di berita-berita gempa dan tsunami di Aceh, Desember, 2004 lalu.

Kemudian, ketika gempa dan tsunami Palu, September 2018 lalu. Aku yang saat itu berada di kota Mamuju menjadi panik karena ikut merasakan goncangan kemudian ikut panik karena lampu sempat padam dan isu tsunami membuat kami kocar-kacir karena kami tinggal di perumahan dekat laut Manakarra.

Lalu, kami disadarkan oleh seorang tokoh masyarakat yang mengatakan bahwa tsunami tidak akan terjadi jika bukan di daerah pusat titik gempa.

Akhirnya, kata seorang teman di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia yang ikut merasakan getaran gempa mengatakan, jika kita sebagai warga negara Indonesia yang hidup di daerah rawan gempa perlu mempertahankan kearifan lokal leluhur terutama yang tinggal di Sulawesi yang sebaiknya membangun rumah kayu, rumah panggung.

Dan dari diskusi dengan adik yang kuliah di Jogja, ia mengatakan bahwa mata pelajaran atau mata kuliah tanggap bencana, pengetahuan tentang gempa harusnya menjadi kurikulum di sekolah dan kampus sesuai dengan kebutuhan kita di negara kita sendiri, bagaimana "bersahabat" dengan alam dan bencana.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah, pelajaran dari bencana alam ini. Pray for Sulbar, dan pray for Indonesia, ya.