Bosan sekali rasanya, sudah hampir 1 tahun berdiam diri di rumah. Keluar rumah harus mengenakan masker, membawa handsanitizer, tubuh rasanya mager. Sejak pandemi Covid-19 melanda, hidup rasanya begini-begini saja. Huft.

“Hai, kawan-kawan, minggu besok pada sibuk nggak nih? Kita kumpul-kumpul lagi yuk!”

Ajakan dari salah satu teman SMA yang membuat saya harus berpikir beberapa kali untuk ikut menghadiri pertemuan tersebut, hingga akhirnya tidak jadi berangkat. Ya tentu kalian pasti tau kenapa saya tidak mengikuti pertemuan itu, apa lagi kalau bukan Covid-19. Walaupun saat ini sudah memasuki era new normal, tetap rasa waswas masih terus membayangi diri ini. 

Kasus Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia ini berlangsung sejak akhir tahun 2019 sampai saat ini. Awal kemunculan virus ini diduga berasal dari Wuhan, China hingga akhirnya menyebar hingga hampir ke seluruh dunia. Persebaran kasus ini masih terus berlanjut dan belum dapat dipastikan sampai kapan kasus ini akan berakhir. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh WHO, beberapa negara di dunia sudah terbebas dari penyebaran kasus ini, tetapi juga masih ada negara yang masih berusaha untuk melawan dan bangkit dari bahaya ancaman virus corona. Semua negara berlomba-lomba untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19, seperti menerapkan sistem lockdown atau pembatasan sosial demi menyelamatkan kelangsungan hidup bangsanya.

Saat ini Indonesia sudah menerapkan era new normal atau normal baru. Era normal baru merupakan kondisi di mana beberapa aktivitas sudah mulai dilaksanakan kembali dengan kewajiban menerapkan protokol kesehatan dan menjaga kebersihan tubuh. 

Masyarakat yang mempunyai kepentingan untuk keluar rumah diimbau untuk tetap mengenakan masker, membawa handsanitizer, serta keperluan pribadi agar bisa meminimalisasi penggunaan fasilitas umum yang sudah banyak terkontaminasi oleh orang lain. Dengan diterapkan aturan-aturan ini, masyarakat sudah membantu pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan dengan cara menekan penyebaran virus Covid-19.

Namun, seiring berjalannya waktu, pada era new normal ini masyarakat sudah mulai jenuh dan tidak menerapkan protokol kesehatan lagi. Apalagi masyarakat yang berada di daerah pedesaan di mana upaya penertiban pelaksanaan protokol kesehatan kurang diawasi. 

Misalnya di daerah pedesaan rumah saya, saat ini protokol kesehatan sudah tidak dipedulikan lagi oleh masyarakat. Masker tidak digunakan dan bebas keluar rumah kapan pun mereka mau. Sungguh sangat memprihatinkan, kalau mereka sakit siapa juga yang repot? Tenaga kesehatanlah. 

Masyarakat tersebut menganggap bahwa virus corona sudah hilang dari peradaban, penyebaran virus sudah berhenti sehingga mereka bebas melakukan aktivitas mereka seperti sedia kala. Di sini, virus Covid-19 mulai dipertanyakan keberadaannya.

“Apakah virus Covid-19 benar-benar ada? Bagaimana bentuknya? Bagaimana ciri-cirinya? Mengapa masih banyak orang yang tidak mempercayai keberadaan virus ini?”

Pertanyaan yang sering muncul di benak saya setiap melihat mereka yang tidak menerapkan protokol kesehatan terlihat tenang dan biasa saja. Ingin rasanya berteriak pada mereka, “Hei, Corona di depanmu!” agar mereka semua tahu dan paham bahwa pandemi ini belum berakhir, virus Covid-19 memanglah ada. Apakah mereka akan mengakui keberadaannya jika mereka sudah merasakannya sendiri? 

Salah satu alasan mereka tidak mempedulikan lagi ancaman virus Covid-19 adalah faktor ekonomi yang terus menurun akibat pandemi yang telah berlangsung sejak lama. Banyak pegawai yang di-PHK dari tempat kerjanya, pedagang kecil dilarang berjualan sehingga banyak masyarakat yang akhirnya menjadi pengangguran. 

Kondisi ini makin diperparah dengan adanya kebutuhan yang harus dipenuhi, misalnya kebutuhan pangan. Setiap hari mereka membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Pengeluaran terjadi terus-menerus tetapi tidak ada pemasukan.

Jelas mereka bingung untuk mencari nafkah dari mana lagi. Kondisi pandemi yang terus berlangsung tidak memungkinkan mereka untuk kembali bekerja pada pekerjaan yang sebelumnya, sehingga mereka harus memutar otak untuk mencari pekerjaan yang baru agar bisa memenuhi kebutuhan mereka. 

Pada situasi seperti ini, banyak masyarakat yang beralih menjadi pedagang kecil yang berjualan di tempat umum. Saat proses transaksi ini, masih ada pembeli yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Mereka mengira bahwa virus Covid-19 sudah tidak ada di antara mereka.

Padahal pada kenyataannya, penyebaran virus Covid-19 masih terjadi. Masih ada pertambahan kasus positif setiap harinya walaupun saat ini tren perkembangan kasus ini sudah mulai menurun. 

Indonesia perlahan sudah mulai bangkit dari ancaman virus Covid-19. Pertambahan kasus ini sudah terkendali sehingga perawatan yang diberikan untuk pasien positif juga menjadi lebih baik. 

Akan tetapi, hal ini bukan berarti Indonesia sudah bebas dari bahaya ancaman virus corona. Nyatanya masih ada pasien yang menunjukkan hasil positif saat melakukan swab test ataupun rapid test walaupun mereka tidak mengalami gejala terinfeksi virus ini. Kasus semacam ini dinamakan kasus OTG atau Orang Tanpa Gejala.

Jadi kita semua tetap harus berhati-hati saat hendak melakukan suatu kegiatan yang memaksa kita untuk keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang. Karena kita tidak tahu siapa di antara mereka yang mungkin membawa virus dari luar tubuh mereka. 

Selalu menerapkan protokol kesehatan kapan pun dan di mana pun kita berada, serta pertimbangkan lagi jika ingin bepergian keluar rumah, bila dirasa kurang mendesak lebih baik tetap tinggal di rumah. Apabila kita tidak waspada dan berhati-hati, tidak hanya diri sendiri yang dirugikan, tetapi juga orang lain di sekitar kita termasuk orang yang kita sayangi. Ingat, virus Covid-19 itu nyata adanya. 

Stay safe stay healthy, All :)