Penikmat Buku
2 tahun lalu · 1347 view · 3 menit baca · Agama kronologi-aksi-bela-islam-ii-versi-gnpf-mui-0fg.jpg
https://cdn.sindonews.net

Apa Kabar Alumni 212 dan 411?

Saya memulai paragraf pertama ini dengan sebuah pertanyaan sederhana yang terus mendesak untuk dikeluarkan dalam sebuah tulisan. Pertanyaannya adalah ke mana jejak para alumni aksi bela Islam 411 dan 212 yang sangat mencuri perhatian dunia saat itu?

Ke mana mereka saat di awal tahun 2017 kezaliman yang nyata muncul dalam bentuk kasus korupsi “berjamaah” mega proyek e-ktp yang mencapai triliunan rupiah? Padahal, para pelaku korupsi tersebut juga tergolong sebagai “penista” (menodai) tidak hanya agama tapi juga negara.

Saya hanya membayangkan jika respons para alumni aksi 411dan& 212 seheboh dan seaktif kala Ahok mengeluarkan ucapan yang dianggap oleh sebagian Muslim menistakan agama yang mereka anut.

Saat itu, mendadak sosial media ramai bermunculan meme untuk memenjarakan bahkan yang paling ekstrim sampai menghalalkan darah Ahok. Bertebaran ajakan untuk memperjuangkan keadilan hukum, ajakan untuk menegakkan kebenaran, menumpas kemungkaran. Ini luar biasa.

Andai bayangan saya terhadap respons umat Islam di atas muncul kembali ke permukaan dalam kasus kedzoliman korupsi e-ktp yang dilakukan secara berjamaah. Bagaimana persatuan umat tertuju pada sadisnya perbuatan mereka kepada bangsa ini.

Mereka menzalimi rakyat Indonesia dengan ulah memangkas uang negara untuk kepentingan dunia mereka. Perbuatan mereka tak hanya melanggar aturan negara tapi juga ajaran agama.

Saya beranggapan bahwa dukungan untuk memenjarakan bahkan “memotong tangan” para pelaku korupsi ini akan sangat luar biasa jika respon serupa dilakukan oleh kalangan ormas dan “Muslim sejati” dan bahkan sodara-sodara kita diluar Islam pun pastinya akan sangat mendukung gerakan ini.

Bagaimana tidak, jutaan sodara kita menanggung akibat dari kedzoliman mereka. Mulai dari proses administrasi dipersulit sampai harus menunggu lebih dari 2-3 tahun untuk dapat e-ktp.  

Hal diatas adalah anggapan atau bayangan pertama saya. Bagaimana jika sebaliknya? Karena hidup persis dua sisi mata uang atau ada juga yang hidupnya persis benalu, menghisap keuntungan dari orang lain. Pertanyaan kedua adalah kenapa tidak ada respon yang masif terhadap kasus korupsi tersebut?

Padahal perbuatan mereka lebih merugikan, tidak hanya orang Islam, tapi seluruh rakyat Indonesia. Apakah karena negara bukan urusan agama? Atau tidak ada ucapan mereka yang menyakiti salah satu umat dan menistakan ajaran agama?

Menurut saya pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar muncul dalam benak saya (mungkin juga pembaca) sehingga perlu untuk dituliskan. Alasan kewajarannya adalah melihat aksi yang memancing perhatian dunia saat itu yang digadang-gadang menjadi titik balik umat. Menampilkan semangat “jihad” yang luar biasa hebat. Semangat membela “agama” dan “kebenaran” menjadi poros utama dalam melakukan aksi.

Jutaan manusia berkumpul atas nama Ilahi, dzikir dan shalat jum’at berjamaah di jalanan pun masuk dalam rangkaian aksi, guyuran hujan lebat turut menghiasi.

Ada yang beranggapan fenomena turunnya hujan adalah pertanda terkabulnya doa dan “restu” Tuhan atas hamba-Nya yang sedang dalam berjuang membela agama (baca: membela Tuhan). Masih adakah semangat semacam ini untuk dilampiaskan dalam kasus kedzoliman yang merugikan masyarakat Indonesia?

Apakah kasus korupsi ini bukan secara terang-terangan merendahkan agama dan menyakiti hati para penganutnya? Atau karena pelaku korupsi itu adalah “orang dalam” yang tahu tentang ajaran agama sehingga seolah-olah kita membiarkan atau setidaknya hal itu wajar terjadi?

Dan apakah karena Ahok adalah “orang luar” yang dianggap tak tahu ajaran agama (Islam) lalu kita anggap musuh karena telah merusak dan menodai ajaran suci agama sehingga kita wajib “memeranginya”?

Lalu jika demikian adanya, siapa yang layak kita sebut sebagai penista agama? Nama-nama yang muncul dalam kasus korupsi itu mayoritas beragama Islam tertulis di e-ktp.

Kenapa tidak ada tindakan, aksi bela Islam jilid selanjutnya untuk segera mengusut tuntas dan memenjarakan mereka? Atau tidak ada lagi pembelaan terhadap agama karena pelakunya adalah “orang dalam” agama. Ah sudahlah, mungkin karena kita selalu menggunakan konsep pembelaan untuk apa, oleh siapa dan dapat apa.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang sibuk membangun kita namun merobohkan istananya. Kita sibuk menilai “orang luar” sehingga lupa memperhatikan “orang dalam”. Saat orang dalam melakukan kesalahan, kita langsung diam tanpa ada gerakan turun ke jalan.

Jika benar orang munafik tidak perlu dishalatkan karena memilih pemimpin yang beda iman, bagaimana dengan koruptor yang mengkhianati sodara se-iman?

Salam penikmat buku.