"Orang bilang tanah kita tanah surga", penggalan lagu "Kolam Susu" ini mungkin sudah sedikit diragukan. Apakah negeri kita ini masih tanah surga? Atau sekarang hanya menjadi ungkapan saja? 

Ketika asap kebakaran hutan bertebaran di Kalimantan dan Sumatra, apakah negeri kita masih layak disebut tanah surga? Apakah alam sudah mulai bosan bersahabat dengan kita? Ataukah kita yang memutus hubungan dengan semesta secara sepihak? 

Sebagian dari fenomena alam yang terjadi sekarang ini disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Tetapi, masih banyak orang yang menutup mata, dan bahkan menutup telinganya pula.

Seolah menolak untuk peduli, memahami dan menyadari hal tersebut. Sebagian besar orang memilih untuk mementingkan dirinya sendiri daripada tanah yang mereka tinggali. 

Fenomena Alam

Beberapa fenomena alam yang terjadi karena ulah manusia adalah kebakaran hutan, penggunaan plastik sekali pakai yang dapat mencemari alam, serta polusi udara. Kebakaran hutan seringkali terjadi di Indonesia, bahkan hampir setiap tahun. 

Seperti tak kunjung bosan, lagi-lagi, daerah yang diserang tidak jauh dari Kalimantan atau Sumatra. Seperti fenomena yang baru saja terjadi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Riau yang kini sedang ramai dibicarakan. 

Kebakaran hutan tersebut diduga disengaja dengan tujuan untuk membuka lahan baru untuk kepentingan perusahaan. Dan oknum tak bertanggung jawab tersebut menggunakan alibi untuk menutupi tindakannya bahwa penyebab kejadian tersebut adalah musim kemarau. 

Hal tersebut tentunya memberikan dampak negatif bagi populasi makhluk hidup yang tinggal di sekitarnya. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan dapat menimbulkan penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut. Selain itu, kebakaran hutan ini juga merugikan masyarakat dari bidang sosial, ekologi, dan ekonomi. 

Berdasarkan data yang tercantum pada situs iku.menlhk.go.id, pada 16 September 2019, Indeks Standar Pencemar Udara di Kalimantan Tengah mencapai angka 500 yang berarti berbahaya bagi populasi makhluk hidup yang terpapar. Sedangkan di kualitas udara di Riau, pada waktu yang sama, menunjukkan angka 327 yang juga sudah menempati level berbahaya. 

Masyarakat sekitar mengaku bahwa mereka merasa sangat sesak dan kesulitan seperti terkurung dalam ruangan tertutup dengan tungku kayu bakar yang menyala. Penduduk pun merasa sangat terganggu karena kejadian ini. 

Tidak sedikit dari warga sekitar maupun yang tinggal di tempat yang lumayan jauh dari lokasi kejadian mengalami hidung tersumbat, pusing, mata perih, dan lain-lain. Mereka juga mengaku bahwa jarak pandang di pemukiman mereka sempat hanya beberapa meter saja, yang tentu saja dapat menginterupsi aktivitas dan pekerjaan mereka. 

Aktivitas di bandara pun ikut terganggu, seperti salah satu perusahaan penerbangan di Indonesia, yaitu Garuda Indonesia yang membatalkan 15 jadwal penerbangan sejak tanggal 16 September 2019 hingga 19 September 2019 karena dampak asap kebakaran hutan di Kalimantan. 

Tidak hanya masyarakat sekitar, hewan-hewan yang tinggal di hutan tersebut pun terggangu. Karena kejadian ini, tidak heran jika ada hewan yang masuk ke pemukiman warga demi menyelamatkan dirinya dan memperoleh makanan. Bahkan, tidak sedikit hewan-hewan yang kehilangan nyawanya karena kebakaran hutan tersebut.

Manusia seharusnya sadar dengan apa yang mereka perbuat. Berpikir matang-matang sebelum bertindak. Merenung kembali, dampak apa yang mungkin terjadi. Karena apa yang mereka perbuat, akan berdampak bagi diri mereka sendiri.

Selain kebakaran hutan, penggunaan plastik sekali pakai juga bisa menjadi penyebab fenomena alam yang lagi-lagi kurang disadari masyarakat. Plastik yang cenderung sulit terurai dapat berdampak buruk bagi alam. Namun, masih banyak orang yang kurang berempati dengan hal tersebut dan tidak mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. 

Salah satu contoh lainnya adalah polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor dan juga asap pabrik. Hal tersebut seringkali dikeluhkan masyarakat, tetapi sebagian dari mereka belum berkontribusi dalam mengurangi polusi. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum. 

Ada yang beralasan bahwa kendaraan umum kurang aman dan nyaman. Mereka enggan berdesak-desakan dengan penumpang lain. Sedangkan ketika mereka menggunakan kendaraan pribadi, mereka bisa duduk dengan nyaman. 

Alasan tersebut sebenarnya hanya alasan klasik yang tidak sebanding dengan dampak dari penggunaan kendaraan pribadi, yang tentunya berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Mereka yang berbuat, tetapi mereka pula yang mengeluh.

Padahal, kendaraan umum yang telah disediakan oleh pemerintah, sangat bermanfaat dan mempermudah saya dalam beraktivitas. Masyarakat bisa bepergian dengan biaya yang sangat murah. Fasilitas MRT yang sudah tersedia pun sangat nyaman dan memadai. 

Sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan alam, sebaiknya kita lebih sadar dan peduli dengan apa yang terjadi dengan alam yang kita huni. Manusia harus peka terhadap apa yang dibutuhkan oleh tanah yang kita cintai. Kita harus meningkatkan rasa empati dengan berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam. 

Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil, seperti menghindari penggunaan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan wadah yang bisa dipakai ulang. Menjaga kebersihan sekitar dengan membuang sampah pada tempatnya pun sangat penting. 

Hal tersebut sudah seringkali dihimbau kepada masyarakat, namun prakteknya tidak nyata dan mungkin hanya dianggap sebagai angin lalu saja. Selain itu, masyarakat seharusnya sudah mulai membiasakan diri untuk berjalan kaki jika bepergian ke tempat yang terjangkau, menggunakan kendaraan tidak bermotor atau kendaraan umum.

Masa depan alam berada di tangan kita, dan konsekuensi dari perbuatan manusia terhadap alam pun harus ditanggung. Jangan lempar batu dan sembunyi tangan. Manusia yang merusak, manusia pula yang harus bertanggung jawab. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?