Ekowisata dan Masyarakat Lokal

Pariwisata muncul dalam berbagai jenis, salah satunya adalah Ekowisata. Berdasarkan Global Ecotourism Network, Ekowisata adalah wisata ke kawasan alami dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, menjaga kesejahteraan masyarakat lokal, dan menghasilkan pengetahuan melalui sudut pandang dan edukasi semua yang terlibat (wisatawan, staf pariwisata, dan masyarakat lokal).

Fokus pada masyarakat lokal adalah suatu upaya dalam rangka mengurangi sisi ketidakpedulian dari wisata konvensional yang berpeluang untuk terlalu sibuk memanjakan para wisatawan, namun kurang memperhatikan masyarakat lokal, seperti kesejahteraan ekonomi dan privasi mereka.

Pada ekowisata, justru masyarakat lokal memegang peranan yang penting sebagai pihak ikut menentukan apa yang akan dijadikan ‘’objek wisata’’. Hal ini cukup bagus karena memberdayakan masyarakat lokal dengan memberi mereka hak untuk berpartisipasi dalam menentukan suatu kebijakan ekonomi yang berpeluang untuk memperbaiki hidup mereka.

Namun di sisi lain, gangguan terhadap arus wisatawan juga bisa menyerang lebih langsung terhadap kehidupan masyarakat lokal, karena peran masyarakat lokal sebagai pemangku kepentingan yang berpengaruh dan kedekatan mereka dengan kegiatan ekonomi tersebut.

Pandemi sebagai Gangguan terhadap Kegiatan Pariwisata

Salah satu gangguan ini adalah Pandemi COVID-19. Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada tahun 2020 saat pandemi pertama kali muncul, jumlah wisatawan asing dan domestik turun drastis akibat pembatasan sosial berskala besar dan penutupan akses dari luar negeri/wilayah lokal terhadap tempat wisata. Sehingga, industri pariwisata Indonesia mengalami kelumpuhan.

Tempat ekowisata bukanlah pengecualian dalam kasus ini. Pada tulisan Yuliana yang berjudul [Pengelolaan Ekowisata di Tengah Pandemi COVID-19] : Review, apabila masyarakat lokal yang pada masa normal bekerja secara langsung atau tidak langsung pada sektor ekowisata. Maka saat pandemi, mereka terpaksa untuk kembali ke pekerjaan mereka sebelum adanya situs ekowisata lokal. Misalnya petani dan buruh.

Desa Kemiren Sebelum Pandemi

Desa Kemiren pada Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur adalah salah satu tempat ekowisata yang berfokus pada wisata adat. Pada masa normal, wisatawan yang berkunjung ke Desa Kemiren umumnya melalui dua jenis. Pertama adalah wisatawan independen yang tidak mengikuti tur.

Kedua adalah wisatawan rombongan yang mengikuti tur dari penyedia jasa wisata dan perwakilan masyarakat lokal. Tur utama bagi wisatawan ke Desa Kemiren umumnya dimulai dengan berkumpul di Balai Desa.

Kedua, menuju sanggar budaya bernama Rumah Budaya Osing sambil menaiki barong. Saat sampai di sanggar, mereka akan disambut dengan alunan musik dari lesung yang ditumbuk. Kemudian dilanjutkan makan siang dan menyaksikan gandrungan (tarian khas Banyuwangi).

Sebelum adanya Desa Kemiren sebagai tempat ekowisata, mayoritas masyarakat Kemiren adalah petani pemilik lahan. Sehingga, saat pandemi dimana jumlah wisatawan berkurang drastis, mayoritas masyarakat langsung menyesuaikan situasi dengan kembali menjadi petani. Selain mengandalkan hasil pertanian, terdapat pula bantuan dari pemerintah yang menyokong kesejahteraan masyarakat Desa Kemiren.

Desa Kemiren Saat Pandemi

Keberadaan Desa Kemiren sebagai tempat wisata sekaligus pemukiman masyarakat, pada umumnya, berpeluang untuk meningkatkan penyebaran virus COVID-19. Karena pada lokasi seperti itu,  terdapat orang dalam jumlah banyak berkumpul dan bergerak pada wilayah yang tidak luas. Namun untungnya, pada kasus Desa Kemiren, korban akibat COVID-19 tidak terlalu banyak akibat dua hal.

Pertama, masyarakat cukup patuh kepada regulasi pemerintah terkait pembatasan kegiatan sosial, penggunaan alat kesehatan seperti masker, dan vaksinasi. Bahkan sebelum banyak tempat wisata di Banyuwangi melakukan lockdown, Desa Kemiren telah melakukannya terlebih dahulu.

Kedua, mengingat mayoritas masyarakat Kemiren kembali menjadi petani yang kegiatannya dilakukan pada sawah. Kegiatan bertani di sawah umumnya dilakukan pada wilayah yang cukup luas dan dengan pekerja yang tidak berjejalan.

Sehingga peluang penyebaran COVID-19 juga tidak sebesar masyarakat umum yang bekerja di perkotaan. Oleh karena itu, pada Desa Kemiren, peluang pekerja perkotaan untuk terkena COVID-19 lebih tinggi dibandingkan petani.

Selain itu, ada satu hal krusial yang tidak mengalami perubahan signifikan pada Desa Kemiren, yakni pada pelaksanaan beberapa upacara adat. Beberapa upacara tersebut adalah Tumpeng Sewu dan Idhek Bumi.

Dua upacara adat ini dilakukan dalam rangka tolak bala dan dilakukan hanya beberapa jam saja, sehingga kurang menarik wisatawan. Namun, masyarakat Desa Kemiren tetap melaksanakannya karena terdapat nilai budaya dan warisan leluhur pada upacara tersebut.

Dengan demikian, keberadaan desa ini sebagai desa adat masih tetap ada selama pandemi dan keberadaannya terlepas dari kepentingan ekonomi yang umumnya sangat erat hubungannya dengan ekowisata secara khusus dan pariwisata secara umum.

Penutup

Pada Desa Kemiren, karena berbagai faktor seperti latar belakang mata pencaharian pra keberadaan objek ekowisata serta pemahaman tentang penyebaran pandemi dan regulasi pemerintah terkait, masyarakat tempat wisata bisa beradaptasi secara sosial dan ekonomi untuk menghadapi kondisi darurat, seperti pandemi yang menghambat industri pariwisata lokal.

Selain itu, tetap dilaksanakannya upacara adat yang dianggap ‘’kurang menguntungkan secara ekonomi’’ karena tidak mendatangkan wisatawan, membuktikan bahwa keberadaan Desa Kemiren sebagai desa adat adalah dari upaya masyarakat desa itu sendiri demi menghormati dan merayakan nilai budaya dan warisan leluhur mereka, bukan karena kepentingan ekonomi dari ekowisata.