Kalau suatu ketika Anda menyebut saya sedang jatuh cinta, itu artinya Anda mengakui bahwa dalam diri saya ada satu sifat yang bernama cinta. Tapi, sifat cinta yang melekat dalam diri saya meniscayakan adanya keterkaitan (ta'alluq) dengan sesuatu lain yang berada di luar diri saya, yakni sesuatu yang dicintai.

Sebab, Anda tidak mungkin mengatakan saya sedang jatuh cinta, sementara rasa cinta saya itu sendiri tidak terkait dengan apa-apa. Artinya, keberadaan cinta itu meniscayakan adanya keterkaitan dengan sesuatu yang lain, yakni sesuatu yang dicinta, terlepas apakah itu wanita, laki-laki, banci, waria, atau makhluk-makhluk lainnya.

Contoh lain, kalau suatu ketika Anda mengatakan saya mampu dan berkuasa, itu artinya Anda mengakui adanya sifat kemampuan/kekuasaan yang melekat dalam diri saya. Tapi, ketika Anda mengatakan saya mampu, saya pasti akan bertanya: Mampu apa? Apa yang bisa saya mampui itu? Tidak mungkin Anda mengatakan saya mampu dan berkuasa, tapi Anda sendiri menafikan adanya sesuatu yang saya kuasai itu.

Misalnya saya dikatakan mampu meluluh-lantahkan hati perempuan yang saya cintai. Atau, saya dikatakan mampu untuk menikah tahun ini. Atau, saya dikatakan mampu untuk mengangkat ini, membuang itu, dan begitu seterusnya. Artinya, sifat kemampuan yang berada dalam diri saya itu juga meniscayakan adanya keterkaitan (ta'alluq) dengan sesuatu yang lain, yang berada di luar diri saya.

Saya kira itulah cara termudah untuk memahami apa yang disebut dengan istilah ta'alluq dalam pembahasan tentang sifat-sifat Tuhan. Sebagai contoh, kita meyakini bahwa Allah Swt itu Mahakuasa. Dan adanya sifat kuasa yang dimiliki oleh Allah itu meniscayakan adanya keterkaitan dengan sesuatu yang lain, yang dalam hal ini ialah sesuatu yang dikuasai (al-Maqdûr)

Allah Swt kita yakini sebagai Dzat yang Maha Mengetahui. Tapi mungkin tidak kita mengatakan bahwa Allah Swt itu Maha Mengetahui, sementara tidak ada sesuatu yang diketahuinya sama sekali? Tentu saja tidak mungkin. Itu artinya, sifat ilmu yang dimiliki oleh Allah itu juga meniscayakan adanya keterkaitan (ta'alluq) dengan sesuatu yang lain, yang berada di luar dzat Allah.

Singkat kata, yang disebut sebagai ta'alluq itu ialah keterkaitan. Ketika sifat tertentu yang dimiliki oleh Tuhan itu meniscayakan adanya keterkaitan dengan sesuatu yang lain, yang berada di luar dzat Allah, maka keterkaitan itu, dalam bahasa Ilmu Kalam, disebut dengan istilah ta'alluq. Bentuknya jamaknya ta'alluqât.

Dalam konteks ini, para teolog memperkenalkan, setidaknya, tidak macam ta'alluq. Pertama, ada yang disebut dengan istilah ta'alluq shalûhi qadîm. Kedua, ta'alluq tanjîzi qadîm. Ketiga, ta'alluq tanjîzi hâdits. Bagaimana kita membedakan ketiga istilah tersebut? Penjelasannya sebagai berikut:

Ta'alluq Shalûhi Qadîm

Kita percaya bahwa alam ini ada dari ketiadaan. Dan yang mengadakan alam semesta dari ketiadaan itu ialah Tuhan. Pertanyaannya: Sebelum alam diciptakan, termasuk diri kita, Tuhan memiliki sifat kuasa atau tidak? Kalau ada mengatakan tidak, itu artinya Anda menolak keyakinan paling mendasar dalam ajaran Islam. Masa Tuhan tidak berkuasa?

Tapi kalau Anda mengatakan iya, ingat, sifat kuasa itu meniscayakan adanya keterkaitan dengan sesuatu yang lain, yang dalam hal ini adalah makhluk, sementara makhluk dan alam semestanya sendiri belum ada.

Nah, untuk menyelesaikan problem ini, para teolog Muslim memperkenalkan apa yang disebut dengan istilah ta'alluq shalûhi qadîm (keterkaitan potensial yang bersifat qadîm). Artinya, kendatipun alam semesta ini belum ada, sifat kuasa yang dimiliki oleh Allah itu sudah ada. Dengan kata lain, sifat kuasa yang dimiliki Allah Swt itu sudah terkait dengan sesuatu yang dikuasainya, tapi keterkaitan itu hanya keterkaitan potensial.

Maksudnya keterkaitan potensial ialah Allah berpotensi untuk menguasai ini, itu dan ini. Dikatakan berpotensi karena ketika itu sesuatu yang dikuasainya belum ada. Dan dikatakan qadîm karena keterkaitan tersebut tidak ada awalnya, sebagaimana dzat Tuhan yang tidak memiliki permulaan. Itulah yang dimaksud dengan ta'alluq shalûhi qadîm (keterkaitan potensial yang tidak memiliki permulaan)

Ta'alluq Tanjîzi Qadîm

Ta'alluq kedua disebut dengan istilah ta'alluq tanjîzi qadîm. Apa bedanya dengan yang pertama? Ta'alluq kedua ini biasanya ditemukan dalam pembahasan mengenai sifat ilmu dan iradah. Kita percaya, misalnya, bahwa Allah itu Maha Mengetahui. Dan ketika dikatakan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui, itu artinya sifat pengetahuan Allah berkaitan dengan sesuatu yang diketahui (al-Ma'lum). 

Katakanlah bahwa sesuatu yang diketahuinya itu adalah saya yang sedang merangkai tulisan ini untuk Anda.

Pertanyaannya: sebelum saya ada, Allah tahu tidak kalau saya itu akan menulis? Sebagai orang beriman Anda akan mengatakan iya. Bagi Allah, tidak ada yang namanya masa lampu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Semuanya sudah tersingkap. Dan ketersingkapan tersebut bersifat aktual. 

Artinya sudah benar-benar terjadi, terlepas apakah saya—sebagai sesuatu yang diketahui Allah—itu ada atau tidak ada, tercipta atau belum. Karena itulah ta'alluq-nya disebut dengan istilah ta'alluq tanjîzi qadîm (keterkaitan aktual yang bersifat qadîm).

Ta'alluq Tanjîzi Hâdits

Ta'alluq yang terakhir disebut dengan istilah ta'alluq tanjîzi hâdits (keterkaitan aktual yang ada dari ketiadaan). Bagaimana kita membedakan istilah ini dengan dua istilah sebelumnya? Perhatikan baik-baik. 

Dikatakan tadi bahwa baik alam ini ada atau tidak ada, Allah Swt menyandang sifat kuasa dan Dia kita yakini sebagai Dzat yang Mahakuasa. Keterkaitan antara kuasa Allah dengan sesuatu yang dikuasainya, ketika itu, disebut dengan istilah ta'alluq shalûhi qadîm (keterkaitan potensial yang bersifat qadîm). Karena yang dikuasainya ketika itu belum ada.

Untuk lebih memperjelas, katakanlah bahwa sesuatu yang dikuasainya itu adalah saya. Saya dulu tidak ada. Tapi, di alam azali sana, Allah Swt berkuasa untuk menciptakan saya. Itu namanya ta'alluq shalûhi qadîm. Nah, manakala saya terwujud secara aktual di alam nyata, seperti yang Anda lihat, keberadaan aktual saya itu tetap terkait dengan kuasa Allah Swt.

Bedanya, jika sebelum saya benar-benar ada keterkaitan itu disebut dengan keterkaitan potensial (ta'alluq shalûhi), maka ketika saya benar-benar ada, keterkaitan itu disebut dengan keterkaitan aktual (ta'alluq tanjîzi). 

Lalu kenapa dinamai hâdits? Karena keterkaitan tersebut ada dari ketiadaan. Saya tadinya tidak ada, kemudian tiba-tiba menjadi ada. Dan yang mengadakan saya itu ialah Allah Swt dengan sifat kuasa-Nya.

Penting dicatat bahwa masing-masing dari sifat ma'ani itu memiliki ta'alluq yang berbeda-beda. Ta'alluq sifat qudrah ada dua, yaitu shalûhi qadîm, dan tanjîzi hâdits. Sifat iradah memiliki tiga ta'alluq, yaitu shalûhi qadîm, tanjîzi qadîm dan tanjîzi hadits (sebagian mutakallim ada yang menafikan ta'alluq ketiga ini).

Sifat ilmu hanya memilik satu ta'alluq, yaitu tanjîzi qadîm. Dan masing-masing dari sifat sama', bashar, dan kalâm memiliki tiga ta'alluq, yaitu shalûhi qadîm, tanjîzi qadîm, dan tanjîzi hâdits.

Ada satu sifat yang tidak memiliki ta'alluq, yaitu sifat hayat (kehidupan). Ketika kita mengatakan bahwa Tuhan Maha Hidup, apakah ketika itu kehidupan Allah meniscayakan adanya keterkaitan dengan sesuatu yang lain? 

Jelas tidak. Kehidupan itu hanya berkaitan dengan dzat Allah saja, tidak terkait dengan sesuatu yang lain. Karena itu dia tidak memiliki ta'alluq. Demikian, wallahu 'alam bisshawâb.